[Download] Kumpulan Kajian & Fatwa Syaikh Muhammad Ali Farkus

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات.. والصلاة السلام على نبيه محمد بن عبد الله وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين..
أما بعد:

Syaikh Abu Abdil Mu’iz Muhammad Ali Farkus adalah salah seorang ulama sunnah dari al-Jaza’ir, beliau bertakhosus dalam bidang uhsul fiqih, bagi yang sering membaca tulisan beliau akan mendapatkan faidah dari kaidah-kaidah fiqhiyyah yang sering beliau bawakan dalam fatawa/tulisannya.

Beliau juga aktif berdakwah di internet dengan memiliki website resmi ferkous.com yang ditulis dalam 3 bahasa: Arab, Inggris & Prancis, dimana di sana terdapat banyak tulisan, fatwa serta rekaman durus ilmiyyah beliau, hafidzohullohu ta’ala.

Al-hamdulillah, beberapa waktu yang lalu di sahab diinformasikan adanya software kumpulan kajian & fatwa beliau yang bisa di-download gratis:

Tipe file : *.iso

Total ukuran file (*.rar): 535,79 MB

Baca lebih lanjut

Berobat Dengan Barang Haram

Oleh : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh
[Sumber : http://serambimadinah.com]

obat-haramSyaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ditanya, jika para dokter berkata kepada orang yang sakit : “Tidak ada lagi obat untukmu selain makan daging anjing khul Islam Ibnu atau babi”, bolehkah ia memakannya? Atau jika ia diberi resep berupa khamr atau nabidz[1], bolehkah ia meminumnya?

Beliau menjawab :

Tidak boleh berobat dengan khamr dan barang haram yang lain dengan dalil-dalil berikut :

1. Hadits Wail bin Hujur radliyallahu ‘anhu bahwa Thariq bin Suwaid Al-Ju’fiy bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang khamr. Beliaupun melarang khamr. Maka Thariq berkata : “Saya hanya membuatnya untuk obat.” Beliau bersabda :

.إنه ليس بدواء ولكنه داء

“Sesungguhnya ia bukan obat tapi justru penyakit.” ( HR Ahmad dan Muslim ). [2] Baca lebih lanjut

Tidak Semua Mujtahid itu Benar

Tidak Semua Mujtahid itu Benar

ليس كل مجتهد مصيب

Oleh : asy-Syaikh Zakariyya bin Ghulam Qodir al-Bakistani -hafidzohulloh-

okDari Amr bin al-Ash, ia mendengar Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

إذا حكم الحاكم فاجتهد ثم أصاب فله أجران ، وإذا حكم فاجتهد ثم أخطأ فله أجر واحد

“Jika seorang hakim menghukumi dan ia berijtihad kemudian benar, maka ia mendapat dua ganjaran. Dan jika ia menghukumi dan ia berijtihad kemudian salah, maka ia mendapat satu ganjaran.” [HR. al-Bukhori (7352) dan Muslim (1716)]

Hadits ini menunjukkan bahwa tidak semua mujtahid itu benar dan bahwa kebenaran hanya satu dan tidak berbilang. Asy-Syaukani berkata dalam Irsyadul Fuhul (386) : Baca lebih lanjut

Bahaya Bid’ah dan Penjelasan Bahwa Bid’ah Lebih Buruk daripada Maksiat

 

خطر البدع وبيان أنَّها أشدُّ من المعاصي

Bahaya Bid’ah dan Penjelasan Bahwa Bid’ah Lebih Buruk daripada Maksiat

Oleh : asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad al-Badr -hafidzohulloh-
Bid’ah bahayanya sangatlah besar, bencananya sangat besar, dan musibah yang disebabkannya sangat besar, ia lebih berbahaya daripada dosa dan maksiat, karena seorang pelaku maksiat menyadari bahwa ia telah jatuh pada perkara yang harom, sehingga ia akan meninggalkannya dan betobat darinya. Adapun ahli bid’ah, ia melihat bahwa dirinya berada di atas al-haq sehingga ia terus-menerus berada di atas bid’ahnya sampai ia mati di bid’ah tersebut. Dan ia pada hakikatnya mengikuti adalah pengikut hawa nafsu dan penghalang dari jalan yang lurus. Alloh azza wa jalla telah berfirman:

أَفَمَن زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَناً فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ

“Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. Fathir : 8]

Alloh berfirman:

أَفَمَن كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّهِ كَمَن زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءهُمْ

“Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (shaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?” [QS. Muhammad : 14] Baca lebih lanjut

Maslahat Mursalah Bukanlah Bid’ah

 

ليس من البدع المصالح المرسلة

 

Maslahat Mursalah Bukanlah Bid’ah

Oleh : asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad al-Badr –hafidzohulloh

 

 

Maslahat mursalah adalah suatu maslahat yang syari’at tidak menjelaskannya dan tidak pula membatalkannya, ia merupakan wasilah untuk mencapai suatu perkara yang disyari’atkan, seperti pengumpulan al-Qur’an pada zaman Abu Bakar dan Utsman rodhiyallohu anhuma, pencatatan pasukan perang dan penulisan orang-orang dari pasukan yang berhak mendapat bagian, maka hal ini tidak terdapat dalam syari’at satu nash pun yang menetapkan atau melarangnya. Adapun pengumpulan al-Qur’an, maka ini merupakan jalan untuk menghapalnya dan agar tidak hilang sesuatupun darinya. Yang demikian merupakan penerapan firman Alloh azza wa jalla:

 

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

 

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” [al-Hijr : 9]

 

Dan Abu Bakar rodhiyallohu anhu telah diam ketika Umar rodhiyallohu anhu mengisyaratkan untuk mengumpulkannya, dan ia berkata : Baca lebih lanjut

Masalah “at-Talaffudz bin Niyyah”

Masalah “at-Talaffudz bin Niyyah”

Pembahasan berikut ini kami nukilkan dari Dars al-Qowa’idul Fiqhiyyah oleh asy-Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili -hafidzohulloh- pada Dauroh Masyayikh Madinah di Kebun Teh Wonosari Lawang Malang 2006. Asy-Syaikh berkata:

Dimanakah tempatnya niat? Ahlul Ilmi ber-ijma’ tanpa ada khilaf di antara mereka bahwa tempatnya niat adalah hati (al-Qolbu), dan barangsiapa yang bertekad dalam hatinya berarti ia telah berniat. Ibnu Hubairoh[*] mengatakan ijma’ imam yang empat tentang hal tersebut, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh (juga) mengatakan ijma’ ‘ulama tentang hal tersebut. Jadi ya ikhwan, para ‘ulama telaj ber-ijma’ bahwa barangsiapa yang berniat dalam hatinya, maka telah tercapailah yang dimaksud (yakni niatnya sah, pent), tanpa ada khilaf.

Akan tetapi tentang masalah melafadzkan niat, apakah melafadzkan niat itu mustahab (disukai), atau tidak mustahab? Para ‘ulama telah ber-ijma’ bahwa barangsiapa tidak melafadzkan niat maka niatnya sah, akan tetapi apakah mustahab bagi mereka untuk melafadzkan niatnya? Baca lebih lanjut

TERSEBARNYA SUATU IBADAH DI ANTARA MANUSIA TIDAK MENUNJUKKAN DISYARI’ATKANNYA IBADAH TERSEBUT KECUALI DENGAN DALIL

Oleh : Zakariyya bin Ghulam Qodir al-Bakistani

شيوع عبادة ما وانتشارها بين الناس لا يدل ذلك على مشوعيتها إلا بدليل

((Tersebarnya suatu ibadah di antara manusia tidak menunjukkan disyari’atkannya ibadah tersebut kecuali dengan dalil))
Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: