Apakah Memakai Pakaian Sampai Setengah Betis Merupakan Ghuluw Dan Ekstrim Dalam Menerapkan Sunnah?

Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَلاَ حَرَجَ  أَوْ لاَ جُنَاحَ  فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَهُوَ فِى النَّارِ مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ

Pakaian seorang muslim adalah hingga setengah betis. Tidaklah mengapa jika diturunkan antara setengah betis dan kedua mata kaki. Jika pakaian tersebut berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka dan barang siapa menjulurkan pakaiannya dengan sombong, Alloh tidak akan melihat kepadanya.” [HR. Abu Dawud nomor 4093 dan Ibnu Majah nomor 3573. Dishohihkan Syaikh al-Albani dalam Shohih Sunan Abi Dawud 2/518]

Imam Abu Bakar Muhammad bin al-Walid al-Fahri ath-Thurthusyi rohimahulloh dalam kitabnya Sirojul Muluk wal Khulafa’ meriwayatkan:

ولما دخل محمد بن واسع سيد العباد في زمانه رحمه الله على بلال بن أبي بردة أمير البصرة وكان ثوبه إلى نصف ساقيه قال له بلال ما هذه الشهرة يا ابن واسع فقال له ابن واسع أنتم شهرتمونا هكذا كان لباس من مضى وإنما أنتم طولتم ذيولكم فصارت السنة بينكم بدعة وشهرة انتهى

Ketika Muhammad bin Wasi’[*] rohimahulloh -ketika itu ia adalah tokoh di masanya- datang kepada Bilal bin Abi Bardah -pemimpin Bashroh- dengan pakaiannya yang sampai setengah betis, Bilal berkata: “Ini adalah syuhroh wahai Ibnu Wasi’!“, maka Ibnu Wasi’ pun berkata: “Kalian yang berbuat syuhroh terhadap kami, beginilah pakaian orang-orang terdahulu, kalian saja yang memanjangkan bagian bawah pakaian kalian sehingga yang sunnah menjadi bid’ah dan syuhroh diantara kalian.” [al-Madkhol 1/131]

[*] Muhammad bin Wasi’ (W. 123 H) rohimahulloh adalah seorang shighor tabi’in yang tsiqoh dari thobaqot ke-5, al-Imam adz-Dzahabi dalam as-Siyar mensifatinya: “al-Imam ar-Robbani al-Qudwah“. Biografi selengkapnya lihat Siyar A’lamin Nubala 6/119.

Berikut ini fatwa syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi hafidzohulloh berkenaan dengan masalah memakai pakaian sampai setengah betis:

***

Pertanyaan: Apa hukum isbal pada pakaian? Dan apakah memakai pakaian sampai setengah betis merupakan ghuluw dan ekstrim dalam menerapkan sunnah?

Jawaban: Baca lebih lanjut

Download : Kajian Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’

Berikut ini adalah software rekaman kajian syarah kitab “Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’” yang disampaikan langsung oleh penulisnya, asy-Syaikh Ibrohim bin Amir ar-Ruhaili hafidzohulloh.

Dan juga kajian syarah makalah beliau yang berjudul “an-Nashihah fima yajibu Muro’atuhu ‘indal Ikhtilaf wa Dhowabith Hajr al-Mukholif war Rodd alaihim” yang disertai teks makalah beliau tersebut.

Berikut ini tampilannya beserta link downloadnya :

Baca lebih lanjut

Khawarij, Anjing-anjing Neraka

Oleh : Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 119 Tahun II – almakassari.com

Di tengah menghadapi krisis ekonomi global, kaum muslimin di cengangkan dengan beberapa aksi TERORISME yang telah mencoreng citra islam di mata dunia. Kejadian-kejadian itu menimbulkan banyak keraguan di hati manusia -khususnya kaum muslimin- tentang agamanya sebagai agama yang penuh rahmat dan kasih sayang. Sehingga mereka menjadi bingung dan berusaha menjauhi agamanya yang murni serta antipati terhadap sunnah Nabinya -Shallallahu ‘ Alaih Wa Sallam-. Naudzu billahi min dzaalik.

Ini disebabkan karena kaum muslimin tidak mau lagi mempelajari agamanya dan hadits-hadits -Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-yang menjelaskan tentang kejadian-kejadian yang akan muncul di akhir zaman sebagaimana yang telah diwahyukan Allah –Azza Wa Jalla- kepada Beliau pada 14 abad yang silam, namun telah terbukti pada hari ini. Hal ini menambah keimanan kepada kaum muslimin bahwa Beliau –Shallallahu ‘ Alaih Wa Sallam– adalah seorang rasul yang tidak ada lagi nabi setelahnya. Allah –Azza wa Jalla– berfirman,

Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). ” (QS. An-Najm :4)

Karenanya, orang-orang yang sering membaca hadits-hadits -Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidaklah merasa heran dan menganggap kejadian-kejadian itu sebagai suatu hal yang baru, karena orang yang melakukan aksi-aksi tersebut telah memiliki pendahulu di zaman –Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat.

Aksi-aksi brutal tersebut lahir dari orang-orang khawarij yaitu makhluk terjelek yang ada di kolong langit. Nabi -Sholllallahu alaihi wa sallam- dan para sahabat sejak dahulu telah memperingatkan kita tentang bahaya kesesatan mereka, yang mereka saling mewarisi pemahaman sesat ini sejak dulu sampai pada hari ini. Merekalah yang disebutkan oleh Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- sebagai anjing-anjing neraka. Baca lebih lanjut

الـتـبـديـــع ليس لآحاد من عرف السنة ، إنـما هـو لأهـل العـلــم

معالي الشيخ : صالح آل الشيخ – حفظه الله –

من الذي يحكم بالبدعة ؟ البدعة حكم شرعي، والحكم على من قامت به بأنه مبتدع هذا حكم شرعي غليظ؛ لأن الأحكام الشرعية تبع الأشخاص: الكافر، ويليه المبتدع، ويليه الفاسق ، وكل واحدة من هذه إنما يكون الحكم بها لأهل العلم ؛ لأنه لا تلازم بين الكفر والكافر ، فليس كل من قام به كفر فهو كافر ، ثنائية غير متلازمة ، وليس كل من قامت به بدعة فهو مبتدع ، وليس كل من فعل فسوقا فهو فاسق بنفس الأمر ، قد يُقال إنه كافر ظاهرا باعتبار الظاهر ، وفاسق ظاهرا ، ومبتدع ظاهرا ، لكن هذا لا يعني إطلاق الحكم ، فالتقييد بالظاهر غير إطلاق الحكم كما هو مقرر في موضعه.

Baca lebih lanjut

Bahaya Tabdi’

للشيج سالم بن سعد الطويل حغظه الله [1]

وجاء خطر التبديع (١)

http://www.saltaweel.com/articles/73

الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، وعلى آله وأزواجه وصحبه، أما بعد:

فلقد عانى المسلمون كثيراً من التكفيريين كالخوارج والمعتزلة وغيرهم والذين ما زالوا يظهرون بين الحين والآخر بأسماء مختلفة وما زال علماء المسلمين وأنصار سنة سيد الأولين والآخرين لهؤلاء بالمرصاد وبحمد الله ردوا عليهم وحذروا منهم وكتبوا فيهم حتى ظهر أمرهم وحذر منهم كثير من الناس ولكن قد تظهر لهم بين الحين والآخر قرون هنا وهناك واسأل الله أن يكف عنا شرهم ويهدي ضالهم، واليوم ظهرت نابتة أخرى وللأسف فيهم شبه كبير بالتكفيرين وإن لم يبلغوا مبلغهم، قد تجرؤوا على تبديع المسلمين كما تجرأ التكفيريون على تكفيرهم !

البدعة قرينة الشرك

أخي القارئ الكريم اعلم رحمك الله أن البدعة خطرها عظيم وضررها جسيم فهي قرينة الشرك وذلك لأنهما ينقضان أو يضعفان الشهادتين وهما الركن الأول من الأركان الإسلام شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله، وبالتحديد الشرك ينقض شهادة أن لا إله إلا الله أو يضعف كمالها والبدعة تنقض شهادة أن محمدا رسول الله أو تضعف كمالها فتنبه لهذا، ولذلك حذر رسول الله صلى الله من البدع أشد التحذير فوصفها بأنها شر الأمور وأنها ضلالة وأنها في النار وأن الله احتجز التوبة عن صاحبها وأنها مردودة غير مقبولة وذلك لأنها تشريع لما لم يأذن الله به وتقرب إليه بما لم ينزل به سلطاناً، لذا قال بعض السلف سفيان الثوري وغيره: (البدعة أحب إلى ابليس من المعصية). وقال شيخنا محمد العثيمين رحمه الله لما سئل أيهما أشد البدعة أو المعصية؟ قال: (البدعة معصية وزيادة). Baca lebih lanjut

Nasihat dari Bumi Perantauan Kepada Sanak Saudaraku di Kampung Halaman (3)

Penulis: Dr. Ali Musri Semjan Putra hafidzohulloh
[Sumber : www.muslim.or.id]

tsunami2Ketentuan yang Perlu Diketahui Tentang Ibadah

Seseorang yang berada dalam kesulitan ia akan menempuh segala jalan yang mungkin menjanjikan keselamatan, bagaikan seorang yang dibawa air bah, ia akan berpegang kepada apa saja sekalipun akan berpegang kepada ekor ular. Itu perumpamaan yang diberikan oleh nenek moyang kita di masa dulu. Sehingga sampai pada titik melakukan sesuatu ibadah yang tidak ada aturannya dalam syariat, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian sanak saudara kita pada tgl 7 April 2005 dengan melakukan shalat Dhuha secara berjamaah di lapangan Taman Budaya Padang dengan bacaan di jahrkan (dikeraskan -red), perbuatan ini timbul mungkin karena kurangnya ilmu. Sebaiknya kalau tidak tahu kenapa tidak mau bertanya kepada orang yang lebih tahu?

Allah perintahkan:

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An Nahl: 43)

Bahkan Allah melarang kita untuk melakukan sesuatu urusan yang kita tidak memiliki ilmu tentang hal itu:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati kesemuanya itu akan ditanya.” (QS. Al Israa’: 36) Baca lebih lanjut

Nasihat dari Bumi Perantauan Kepada Sanak Saudaraku di Kampung Halaman (2)

Penulis: Dr. Ali Musri Semjan Putra hafidzohulloh
[Sumber : www.muslim.or.id]

gempaMenyuruh Kepada yang Mungkar Mencegah dari yang Ma’ruf Adalah Sikap Orang-Orang Munafik

Sikap menentang dan menolak kebenaran atau kebiasaan menyuruh kepada yang mungkar dan mencegah dari berbuat ma’ruf adalah tingkah laku orang-orang munafik. Sebagaimana yang Allah terangkan dalam firman-Nya:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan sebagian mereka dari bagian yang lainnya, Mereka menyuruh kepada yang mungkar dan mencegah dari yang ma’ruf.” (QS. At Taubah: 67)

Hendaklah orang yang suka mempermainkan ayat-ayat tentang wajibnya berhijab merenungkan ayat di atas apakah anda termasuk yang menyuruh kepada yang makruf atau menyuruh kepada yang mungkar?

Sebagian manusia ada yang pintar dalam bersilat lidah ketika mereka diajak untuk mengikuti kebenaran dan berhenti dari melakukan kerusakan. Sehingga akibat dari tindakannya tersebut telah terjadi kerusakan dalam segala jaring kehidupan. Bahkan kerusakan yang ditimbulkannya tidak hanya terbatas pada manusia semata tapi menimpa tumbuh-tumbuhan dan hewan yang melata. Sebagaimana yang disebutkan Allah dalam firman-Nya: Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: