Tanya Jawab : Tentang Penyaluran Zakat (2)

ManShoma

Assalamualaikum Warohamatullahi Wabarokatuh,
Berikut jawaban Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA atas pertanyaan “Apakah penitia Zakat berhak mendapatkan Zakat ?”, semoga bermanfaat.
————————————————-

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum pak Ustadz

Kebetulan di tempat kerja saya ada panitia pengumpulan zakat harta dari gaji karyawan.

Pernah suatu ketika ada kegiatan pelatihan zakat tapi dananya diambil dari zakat karyawan. Saya pernah mendiskusikan hal ini dengan kawan saya (bukan panitia zakat). Dia berargumentasi bahwa panitia zakat juga mendapatkan hak zakat (amil zakat). Mungkin bagian amil inilah yang dipakai untuk acara pelatihan zakat tersebut.

Bagaimana menurut pandangan ustadz.

Terima Kasih

Wassalamu’alaikum.

Jawaban :

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Pertama-tama saya memanjatkan doa semoga dengan zakat yang bapak keluarkan, Allah Ta’ala memberkahi penghasilan bapak, dan mensucikan diri dan keluarga bapak dari noda-noda dosa.

Untuk menanggapi pertanyaan bapak, saya mengajak bapak dan juga yang lainnya untuk sedikit menengok kepada fakta pengelolaan zakat di indonesia. Berbagai badan zakat, baik yang resmi pemerintah (depag) atau yang dikelola oleh ormas Islam.

Pengelolaan zakat di negri kita jauh dari apa yang telah digariskan dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Sekedar memberi contoh saja:

قال ابن عباس : فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَابْنُ مَاجَهْ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ والألباني

Ibnu ‘Abbas Radliyallaahu ‘anhu menuturkan: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mewajibkan zakat fitri guna membersihkan diri orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan dosa, dan guna memberi makanan kepada orang-orang miskin. Barang siapa yang menunaikannya sebelum shalat, maka itu adalah zakat fitri yang diterima, dan barang siapa yang membayarkannya seusai shalat, maka itu adalah sedekah biasa.” Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan dinyatakan sebagai hadits shahih oleh Al Hakim dan Al Albani.

Bapak dapat menyaksikan praktek zakat fitri di negri kita, sebagian besar dari beras yang berhasil dikumpulkan digunakan untuk membangun masjid, biaya oprasional ormas, dan berbagai kegiatan sosial lainnya. Sedangkan kaum fakir-miskin hanya mendapatkan sebagian kecil saja. Bahkan mungkin hanya cukup dimakan selama dua hari saja. Tentu praktek ini tidak selaras dengan hadits di atas, yang menjelaskan bahwa tujuan utama zakat fitri adalah untuk mencukupi kebutuhan makanan kaum fakir-miskin.

Nasib serupa juga menimpa zakat mal, kebanyakan dananya dialokasikan untuk berbagai kegiatan sosial, dari membangun rumah sakit, padahal yang sakit dari warga miskin hanya sebagian saja, dan banyak dari penyakit mereka yang dapat diobati dengan biaya yg lebih murah atau dengan pengobatan tradisional, mereka, membeli mobil ambulan untuk antar jenazah, padahal warga miskin siap untuk mengangkut jenazah mereka dengan cara-cara tradisional, yaitu dipanggul.

Pendek kata, pengelolaan dana zakat dengan cara2 ini menjadikan panitia zakat dalam banyak kesempatan memenuhi kebutuhan sekunder atau bahkan tertiar kaum fakir-miskin.

Andai dana zakat langsung dibagikan kepada fakir-miskin, niscaya masing-masing mereka akan menggunakannya sesuai dengan kebutuhannya yang paling mendesak untuk dipenuhi. Mungkin dari mereka ada yang menggunakannya untuk membiayai pengobatan, ada pula yang untuk membeli sembako, lain lagi mungkin untuk membeli pakaian, dan mungkin pula ada yang untuk modal usaha.

Pendek kata, pengelolaan zakat yang dilakukan oleh berbagai badan amil zakat di negri kita perlu ditinjau ulang, karena tidak selaras dengan tujuan utama dari disyari’atkannya zakat, sebagaimana yang digambarkan pada hadits berikut:

عن ابن عباس رضي الله عنها أَنَّ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لمَّا بعث معاذاً إلى اليمن قال له: (إِنَّكَ سَتَأْتِى قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ ، فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، -وفي رواية إلى أَنْ يُوَحِّدُوا الله تعالى- فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ ، وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ) متفق عليه

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu: bahwasannya ketika Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, mengutus Mu’adz ke Yaman, beliau berpesan kepadanya: ”Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum dari ahli kitab, maka bila engkau telah tiba di tempat mereka, hendaknya engkau menyeru mereka untuk mengucapkan syahadat (la ilaha illallah) dan Muhammad adalah utusan Allah, -dan menurut riwayat yang lain: mentauhidkan (mengesakan) Allah Ta’ala-. Bila mereka telah menta’atimu dalam hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan shalat lima waktu dalam sehari semalam atas mereka. Bila mereka juga telah menta’atimu dalam hal itu, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan zakat atas mereka. Zakat dipungut dari orang-orang kaya mereka dan dikembalikan kepada orang-orang fakir-miskin mereka. Bila mereka telah menta’atimu dalam hal itu, maka hendaknya engkau tidak memungut zakat dari harta mereka yang terbaik. Dan waspadailah do’a orang yang terdzolimi, karena sesungguhnya tidak ada yang menghalanginya dari Allah (pasti dikabulkan). (Muttafaqun ‘alaih).

Berkaitan dengan kegiatan yang diadakan di tempat kerja bapak, yaitu pelatihan zakat, maka kegiatan semacam ini –menurut hemat saya- berbalik dengan tujuan zakat. Dapat dipastikan, yang menjadi obyek kegiatan semacam ini adalah para pemilik uang alias kelompok orang-orang kaya, bukan kaum fakir –miskin, karena untuk menjadi penerima zakat/uang tidak perlu ada pelatihan. Setiap manusia pasti bisa menerima, makanya tidak ada pelatihan penerimaan gaji pada tempat bapak bekerja, paling-paling hanya ada sosialisasi bahwa penerimaan gaji di tempat ini, atau dengan cara ini. Dengan demikian alasan yang dikemukakan kawan bapak di atas, tidak tepat.

Dikarenakan pengelolaan zakat yang ada di masyarakat kita tidak tepat semacam ini, tidak mengherankan bila zakat-zakat yang dikeluarkan oleh orang-orang kaya hingga saat ini tidak dapat membuktikan peranan dan fungsi yang semestinya. Yang miskin selamanya tetap miskin, dan yang kaya semakin kaya.

Bersamaan dengan ini saya menganjurkan kepada saudara-saudaraku yang memiliki kelapangan harta benda sehingga telah berkewajiban membayar zakat, untuk menyalurkan seluruh zakatnya, secara langsung kepada yang berhak, yaitu kaum-fakir miskin yang ada di sekitar tempat tinggal masing-masing. Dengan demikian, bersamaan dengan berjalannya waktu, kaum-fakir miskin di sekitar anda akan berkurang dan taraf kehidupan mereka akan cepat meningkat. Karena perlu diketahui bahwa tidak ada kewajiban atas orang kaya untuk menyalurkan zakatnya melalui badan zakat atau amil zakat.

Bahkan menurut hukum asal, masing-masing orang kaya berkewajiban menyalurkan zakatnya sendiri. Oleh karena itu semasa khilafah Islamiyyah dahulu, pemerintah hanya menarik zakat harta yang lahir, yaitu berupa zakat hewan ternak dan pertanian. Adapun zakat emas dan perak, maka tidak ditarik oleh pemerintah, dan sepenuhnya dipasrahkan kepada pemilik kekayaan untuk menyalurkannya kepada yang berhak.

Dengan cara ini, peranan zakat benar-benar akan dirasakan oleh kaum fakir-miskin di sekitar pembayar zakat, dan dapat terwujud peranan sosial zakat ; hubungan antara yang kaya dan yang miskin akan menjadi baik, masyarakat aman, dan tindak kriminal akan menyusut.

Wallahu a’alam bisshawab, semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan keberkahan dan taufiq-Nya kepada bapak dan keluarga.

Wassalamu’alaikum warahmatullah

***

Sumber : http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/12160

Zakat Fitri

__________________________

Artikel terkait:

About these ads

6 Tanggapan

  1. Assalaamu’alaykum,

    Mohon tanya… saya masih bingung cara menghitung zakat investasi saham dan zakat berdagang saham.

    Saya baru tau kalau saham termasuk kategori zakat maal… sedangkan berdagang saham (profesi) belum yakin apakah sama dengan zakat maal atau zakat perniagaan ?

    Mohon penjelasannya ya Ustadz… banyak saudara kita yang belum paham seperti saya.

    Terima kasih.

    EcoSyariah

    Wa’alaikumussalam wa rohmatulloh,

    Pertanyaan ini mohon ditanyakan langsung kepada Ustadz Muhammad Arifin Badri, karena beliau yang lebih berkompeten untuk menjawab. Bisa ditanyakan melalui milis pm-fatwa :
    http://groups.yahoo.com/group/pm-fatwa/
    atau bisa juga bertanya melalui streaming siaran langsung kajian beliau di http://radiomuslim.com/ setiap kamis jam 21.00.

  2. Assalamualaikum

    Perkenankan saya mohon penjelasan dari Pak Ustadz,

    Sering saya mendengar bahwa salah satu syarat orang memberikan zakat adalah harus Muslim atau Islam,

    Namun sebaliknya apakah yang menerima zakat itu juga harus kaum Muslim/Islam ?

    mohon penjelasan juga dari Surat At Taubah yg menjelaskan tentang zakat

    Demikian kurang lebihnya mohon maaf
    Wassalam

    Wa’alaikumussalam warohmatulloh wa barokatuh.
    Mohon maaf, saya bukan ustadz.
    Jawaban pertanyaan di atas saya tidak berani menjawab, jadi pertanyaan ini lebih baik di ajukan kepada Ustadz Muhammad Arifin Badri melalui milis pengusaha muslim, insyaAlloh jawabannya akan lebih memuaskan.

  3. Assalaamu’alaykum,
    mohon untuk memberikan penjelasan bpk ustad,
    apakah zakat maal bisa disalurkan kepada saudara sendiri yang memang kondisinya sangat kekurangan? dan apakah zakat harus dengan ijab-kabul?
    Demikian kurang lebihnya mohon maaf
    Wassalam
    Wa’alaikumussalam warohmatulloh wa barokatuh

    Wa’alaikumussalam warohmatulloh wa barokatuh.
    Mohon maaf, saya bukan ustadz.
    Jawaban pertanyaan di atas saya tidak berani menjawab, jadi pertanyaan ini lebih baik di ajukan kepada Ustadz Muhammad Arifin Badri melalui milis pengusaha muslim, insyaAlloh jawabannya akan lebih memuaskan.

  4. Assalamualaikum
    Ustadz, saya adalah orang awam, saya ingin bertanya tentang penyaluran zakat fitrah. 2 kriteria penerima zakat fitrah adalah Fakir dan Miskin. jika kita menggunakan defenisi fakir/miskin yang berlaku seperti pada zaman rasulullah saw, maka tidak ada lagi orang yang sesuai dengan kedua kriteria tersebut di daerah kami.
    mohon saran/masukan dari ustadz kepada siapa kami menyalurkan zakat kami?
    wassalam

  5. informasi yang sangat bagus nih, saya udah baca-baca di blog anda nih, ternyata banyak ilmu yang saya dapat.. terimakasih atas sharing nya, yuk mampir ke blog sederhana saya… my site

  6. ustadz, sebelumnya saya minta maaf.saya kurang sependapat.

    saya belum pernah membaca dalam al-qur’an dan hadist Rasulullah menyerahkan dan menghimbau ka um yang kaya untuk MENYALURKAN LANGSUNG zakatnya (kecuali zakat fitrah) kepada fakir miskin.

    yang saya tahu Rasulullah memerintahkan untuk membentuk baitul mal, dikelola sedemikian rupa biar uang tersebut tidak cepat habis dan memberdayakan.

    saya sangat setuju, apabila dana ZIS dipergunakan untuk ambulance gratis,rumah sakit gratis, sekolah gratis. Jadi apabila ada yang sakit tinggal kerumah sakit,sekolah tinggal ikut sekolah gratis.

    Sebenarnya yang kita perangi bukan Fakir Miskin yang kurang UANG, tetapi yang kita hadapi adalah kondisi mental yang kurang baik. Berapapun Dana Zakat yang diberikan secara langsung tanpa pengelolaan dan pembinaan ke Fakir Miskin akan HABIS. Dan Apabila disalurkan secara langsung akan memperparah kondisi Mental Mereka “Bergantung Pada Orang Lain”.Ini yang tidak kita inginkan.

    Jadi Apabila dikelola oleh LAZ itu diperbolehkan.

    Wallahu a’alam bisshawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: