ASI (Air Susu Ibu) – 2 >> ASI Ekslusif di Zaman Nabi??

ASI (Air Susu Ibu) – 2

[Artikel ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya : ASI (Air Susu Ibu) – 1]

susu2v ASI EKSLUSIF DI ZAMAN NABI??

Hadits yang akan kami bawakan berikut ini adalah sebuah hadits dari riwayat Abu Laila rodhiyallohu anhu dengan beberapa lafadz pada beberapa riwayat. Dalam Musnad-nya al-Imam Ahmad berkata:

حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عِيسَى عَنْ عِيسَى بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ أَبِي لَيْلَى أَنَّهُ كَانَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى بَطْنِهِ الْحَسَنُ أَوْ الْحُسَيْنُ شَكَّ زُهَيْرٌ قَالَ فَبَالَ حَتَّى رَأَيْتُ بَوْلَهُ عَلَى بَطْنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسَارِيعَ قَالَ فَوَثَبْنَا إِلَيْهِ قَالَ فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَامُ دَعُوا ابْنِي أَوْ لَا تُفْزِعُوا ابْنِي قَالَ ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ فَصَبَّهُ عَلَيْهِ قَالَ فَأَخَذَ تَمْرَةً مِنْ تَمْرِ الصَّدَقَةِ قَالَ فَأَدْخَلَهَا فِي فِيهِ قَالَ فَانْتَزَعَهَا رَسُولُ اللَّهِ مِنْ فِيهِ

Haddatsana Aswad bin ‘Amir, haddatsana Zuhair, dari Abdullah bin Isa, dari Isa bin Abdirrohman bin Abi Laila dari Abu Laila : Bahwa ketika ia berada di sisi Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dan al-Hasan atau al-Husain (Zuhair ragu-ragu) diperut (yakni dipangku, pent) beliau. Abu Laila berkata : Lalu anak itu ngompol sehingga aku bisa melihat air kencingnya mengalir di perut Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam. Ia berkata : Lalu kami melompat kepadanya, lalu beliau alaihish sholaatu was salaam berkata : “Biarkan anakku, jangan kalian kagetkan anakku!“, Abu Laila berkata : lalu beliau minta air, kemudian menuangkan/mengalirkan padanya. Abu Laila berkata : lalu anak itu mengambil sebutir kurma dari kurma shodaqoh, lalu ia masukkan ke mulutnya, maka Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam mengeluarkannya dari mulutnya. [HR. Ahmad no. 19080, dishohihkan asy-Syaikh Muqbil bin Hadi dalam ash-Shohih al-Musnad mimma Laysa fish Shohihain 1/462-463]

حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عِيسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِي لَيْلَى قَالَ كُنْتُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى صَدْرِهِ أَوْ بَطْنِهِ الْحَسَنُ أَوْ الْحُسَيْنُ قَالَ فَرَأَيْتُ بَوْلَهُ أَسَارِيعَ فَقُمْنَا إِلَيْهِ فَقَالَ دَعُوا ابْنِي لَا تُفْزِعُوهُ حَتَّى يَقْضِيَ بَوْلَهُ ثُمَّ أَتْبَعَهُ الْمَاءَ ثُمَّ قَامَ فَدَخَلَ بَيْتَ تَمْرِ الصَّدَقَةِ وَدَخَلَ مَعَهُ الْغُلَامُ فَأَخَذَ تَمْرَةً فَجَعَلَهَا فِي فِيهِ فَاسْتَخْرَجَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ إِنَّ الصَّدَقَةَ لَا تَحِلُّ لَنَا

Haddatsana Hasan bin Musa, haddatsana Zuhair, dari Abdulloh bin Isa, dari ayahnya, dari kakeknya, dari

Abu Laila, ia berkata : Aku berada di sisi Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dan al-Hasan atau al-Husain berada di dada atau di perut beliau. Lalu aku melihat kencingnya mengalir, maka kami bangkit ke arahnya. Maka beliau berkata : “Biarkanlah anakku, jangan kalian mengagetkannya sampai ia menyelesaikan kencingnya“, lalu diikuti dengan air, kemudian beliau bangkit dan masuk ke rumah penyimpanan kurma shodaqoh dan anak tersebut masuk bersama beliau, lalu ia mengambil sebutir kurma dan memasukkannya ke mulutnya, maka Nabi shollallohu alaihi wa sallam mengeluarkannya dan berkata : “Sesungguhnya shodaqoh tidak halal bagi kita (ahlul bait, pent).” [HR. Ahmad no. 19082, dishohihkan asy-Syaikh Muqbil bin Hadi dalam ash-Shohih al-Musnad mimma Laysa fish Shohihain 1/463]

Dan hadits dari Abu Laila rodhiyallohu anhu yang maknanya sama dengan kedua hadits di atas juga diriwayatkan oleh ath-Thobaroni dalam al-Mu’jam al-Kabir (7/77).

Dan al-Imam Ibnu Abi Syaibah juga membawakan hadits Abu Laila ini dalam Mushonnaf-nya :

حدثنا وكيع عن ابن أبي ليلى عن أخيه عيسى عن أبيه عبد الرحمن بن أبي ليلى عن جده أبي ليلى قال كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم جلوسا فجاء الحسين بن علي يحبو حتى جلس على صدره فبال عليه قال فابتدرناه لنأخذه فقال النبي صلى الله عليه وسلم (إبني إبني) ثم دعا بماء فصبه عليه.

Haddatsana Waki’, dari Ibnu Abi Laila, dari Saudaranya : Isa, dari ayahnya : Abdurrohman bin Abi Laila, dari Kakeknya :

Abu Laila, ia berkata : Kami berada di sisi Nabi shollallohu alaihi wa sallam sambil duduk, lalu datang al-Husain bin ‘Ali merangkak sampai ia duduk di dada Rosululloh. Lalu ia ngompol di dada beliau, maka kami bersegera untuk mengambilnya, lalu Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkata : “Anakku, anakku!” lalu beliau minta di ambilkan air, kemudian menuangkan padanya (pada bekas ngompolnya).[HR. Ibnu Abi Syaibah no. 1290 & 36128. Pada sanad ini ada rowi yang bernama Ibnu Abi Laila yakni : Muhammad bin Abi Laila. Disebutkan dalam biografinya bahwa ia adalah seorang qodhi (hakim), faqiih, ahli qiro’ah, tapi “Sayyi’ul Hifdz” (buruk hafalannya). Akan tetapi hadits ini memiliki mutaba’at dari hadits-hadits yang sebelumnya]

Dalam hadits Abu Laila ini terdapat isyarat bahwa al-Hasan atau al-Husain ketika itu masih minum ASI saja dan belum makan apa-apa, atau yang populer di zaman kita dengan sebutan ASI Ekslusif, dimana pada hadits di atas dijelaskan bahwa Rosululloh tidak mencuci pakaian beliau tapi cukup mengalirkan air saja pada bekas ngompol cucunya, ini tanda bahwa anak itu belum makan apa-apa selain ASI. Padahal cucu beliau ketika itu sudah bisa mengambil kurma sendiri bahkan dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dikatakan ia sudah merangkak (seandainya lafadz “يحبو“/”merangkak” ini tidak dianggap dho’if), dan bahkan lagi Rosululloh menegurnya yang menandakan adanya kemungkinan anak itu sudah mengerti pembicaraan(?), tapi kemungkinan yang terakhir ini agak jauh.

Sebenarnya ada lagi hadits yang mirip dengan kejadian dalam hadits Abu Laila di atas, dalam riwayat ath-Thobaroni:

حدثنا علي بن عبد العزيز ثنا أبو نعيم ثنا عبد السلام بن حرب عن ليث عن أبي القاسم مولى زينب: عن زينب بنت جحش أن النبي صلى الله عليه وسلم كان نائما عندها وحسين يحبو في البيت فغفلت عنه فحبا حتى بلغ النبي صلى الله عليه وسلم فصعد على بطنه ثم وضع ذكره في سرته قالت : واستيقظ النبي صلى الله عليه وسلم فقمت إليه فحططته عن بطنه فقال النبي صلى الله عليه وسلم : دعي ابني فلما قضى بوله أخذ كوزا من ماء فصبه عليه ثم قال : إنه يصب من الغلام ويغسل من الجارية

Haddatsana ‘Ali bin Abdil ‘Aziz, tsana Abu Nu’aim, tsana Abdussalam bin Harb, dari Laits, dari Abul Qosim bekas budak Zainab bintu Jahsy, dari Zainab bintu Jahsy : Nabi shollallohu alaihi wa sallam sedang tidur di rumahnya, dan al-Husain merangkak di rumah, lalu aku lalai darinya sehingga ia merangkak sampai ke Nabi shollallohu alaihi wa sallam, lalu ia duduk di atas perutnya dan meletakkan kemaluannya di pusarnya (ngompol, pent), Zainab berkata : Nabi shollallohu alaihi wa sallam pun terbangun, lalu aku menurunkannya dari perut beliau, lalu Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkata : “Biarkan anakku”, ketika ia telah selesai kencing, beliau mengambil segelas air lalu menuangkan padanya, lalu bersabda : “Sesungguhnya dituangi (untuk mensucikan) dari (kencing) bayi laki-laki dan dicuci dari bayi perempuan.”[HR. ath-Thobaroni al-Mu’jam al-Kabir 24/54 & 57 dan Abdurrozzaq no. 1391]

Tapi hadits ini dho’if, karena dalam sanadnya ada Laits bin Abi Sulaim, Ibnu Hajar berkata tentangnya dalam at-Taqrib (1/464) : “Shoduq, tercampur sekali (hapalannya, pent) dan tidak bisa dibedakan haditsnya (yang sebelum dan yang sesudah tercampur, pent) sehingga ia ditinggalkan”. Dan adz-Dzahabi berkata dalam al-Kasyif (2/151) : “padanya terdapat kedho’ifan yang ringan karena hapalannya yang buruk, ia memiliki sholat dan puasa (yakni ahli ibadah, pent) dan ilmu yang banyak (yakni ia termasuk ‘ulama, pent), sebagian ‘ulama berhujjah dengannya”.

Dalam sebuah literatur dikatakan bahwa bayi mulai bisa meraih sesuatu dengan seluruh jari atau tangan adalah pada usia 6 bulan dan dikatakan bahwa bayi mulai belajar merangkak pada usia 7 bulan atau lebih. Walaupun terkadang perkembangan sebagian bayi bisa lebih cepat dari itu. Wallohu A’lam, masalah ini relatif, tidak sama pada setiap bayi.

Ini menandakan ada kemungkinan bahwa al-Husain atau al-Hasan ketika itu pada usia lebih dari 4 bulan masih minum ASI saja (ASI Ekslusif) dan belum makan apa-apa. Dan ini juga menandakan bahwa ASI Ekslusif sudah dilakukan sejak dahulu dan bukan penemuan dokter zaman sekarang.

Akan tetapi bukan berarti tidak boleh memberi makanan yang lain sebelum usia tersebut, karena tidak ada dalil yang melarang. Dan ASI Ekslusif di sini tidak dibatasi dengan waktu-waktu tertentu, seperti 4 bulan (sebagaimana yang dibatasi oleh para dokter dulu), 6 bulan (sebagaimana yang dibatasi oleh para dokter sekarang) atau 7 bulan atau sekian bulan dan sekian bulan, karena juga tidak ada dalil yang membatasi. Semuanya disesuaikan dengan kemampuan Ibu dan kebutuhan bayi.

Akan tetapi alangkah baiknya jika sang ibu tidak mampu menyusui sendiri (baik karena ASI-nya sedikit atau ada udzur lainnya), sang ibu mencari orang yang bisa menyusui bayinya, sehingga ia tetap mendapatkan Air Susu Ibu dan bukan Susu Formula dan lain-lain. Dan sebagian dokter sekarang ini menganggap bahwa pemberian susu formula pada bayi dapat menyebabkan penyakit, Wallohu A’lam.

v ASI EKSLUSIF DAN TAHNIK

Dan jangan sampai penerapan ASI Ekslusif ini menjadi penghalang bagi orang tua untuk mentahnik bayinya dengan kurma karena ini adalah sunnah yang tsabit, sebisa mungkin kita berusaha menerapkan sunnah-sunnah yang ada untuk bayi kita yang baru lahir. Dan sunnah Rosululloh itu lebih utama untuk kita laksanakan, walaupun mungkin ada sebagian orang atau dokter melarang hal tersebut karena belum tahu tentang hikmahnya.

Dan para ‘ulama mengatakan bahwa tahnik dengan kurma ini tidak termasuk “makan” yang menjadikan kencing bayi laki-laki menjadi najis sebagaimana kencing orang dewasa, walaupun dalam masalah ini ada khilaf. Ibnu Hajar berkata dalam al-Fath (1/326) :

“Yang dimaksud dengan ‘makanan’ adalah yang selain susu yang ia menetek darinya, kurma yang ia ditahnik dengannya, madu yang ia disuapi untuk pengobatan dan yang selainnya. Yang dimaksud adalah bahwa tidak dihasilkan kekenyangan baginya selain dari susu (ASI) saja.”

Dan hal ini juga difatwakan oleh asy-Syaikh Muhammad Ali Ferkous dalam situsnya : http://www.ferkous.com/rep/index.php. Wallohu A’lam bish Showab.

Kalau ada yang bertanya: “Bukankah kalau kencing bayi laki-laki yang belum makan itu diperciki [نضح]? Sedangkan lafadz hadits di atas adalah dialiri [صب] dan juga diikuti [أتبع]?

Maka bisa dijawab :

Memang banyak hadits-hadits lain yang menjelaskan bahwa kencing bayi laki-laki yang belum makan adalah diperciki [نضح], akan tetapi para ‘ulama menjelaskan bahwa diperciki [نضح] dalam masalah ini memiliki makna yang sama dengan dialiri [صب] atau diikuti [أتبع], berdasarkan beberapa hadits berikut ini :

Dari ‘Aisyah, ia berkata :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يؤتى بالصبيان فيدعو لهم وانه أتى بصبي فبال عليه فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم صبوا عليه الماء صبا

“Suatu ketika didatangkan bayi-bayi kepada Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, lalu beliau memanggil mereka, dan diserahkan kepada beliau seorang bayi, lalu bayi itu mengompoli beliau, maka Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam berkata : “Alirkanlah/tuangkanlah air padanya satu tuangan!”[HR. Ahmad no. 24238, Ishaq bin Rohawaih no. 587, ath-Thohawi dalam Syarh Ma’ani al-Atsar no. 563. Dishohihkan Syu’aib al-Arna’uth]

Dari ‘Aisyah, ia berkata :

أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَبِيٍّ فَبَالَ عَلَيْهِ فَأَتْبَعَهُ الْمَاءَ وَلَمْ يَغْسِلْهُ

“Didatangkan seorang bayi kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam, lalu bayi itu mengompoli beliau, kemudian beliau mengikutinya dengan air dan beliau tidak mencucinya.”[HR. Ibnu Majah no. 523, Ibnu Abi Syaibah no. 1289 & 36127, ath-Thohawi dalam Syarh Ma’ani al-Atsar no. 565, Ishaq bin Rohawaih no. 585. Dishohihkan al-Albani dalam Shohih Sunan Ibni Majah no. 422]

عن الحسن عن أمه: أنها أبصرت أم سلمة تصب الماء على بول الغلام ما لم يطعم فإذا طعم غسلته وكانت تغسل بول الجارية .

Dari al-Hasan, dari ibunya : bahwa ia melihat Ummu Salamah menuangkan/ mengalirkan air pada kencing bayi laki-laki yang belum diberi makan (selain ASI, pent). Jika bayi laki-laki itu sudah diberi makan, maka ia (Ummu Salamah) mencucinya. Dan ia mencuci kencing bayi wanita.[HR. Abu Dawud no. 379, al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro no. 3965. Dishohihkan al-Albani dalam Shohih Abi Dawud no. 365]

Ibnu Abdil Barr berkata dalam at-Tamhid (9/112) : “Jika dialiri air pada kencing bayi laki-laki dan dicuci pada kencing bayi perempuan, dan kita telah mengetahui bahwa mengaliri [الصب] terkadang disebut memerciki [النضح].”

Abu Ja’far ath-Thohawi berkata dalam Syarh Ma’ani al-Atsar (1/93) setelah membawakan sebagian riwayat di atas: “maka yang demikian menunjukkan bahwa memerciki [النضح] bagi mereka adalah mengaliri [الصب].”

v BEBERAPA FAIDAH DARI HADITS ABU LAILA

Dari hadits Abu Laila di atas ada beberapa faidah lainnya:

§ Perhatian para salaf terhadap pendidikan agama anak-anaknya, dimana sanad hadits Abu Laila di atas diriwayatkan oleh anak keturunannya. Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang diriwayatkan shohabat melalui anak keturunan mereka.

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. [QS ath-Thur : 21]

§ Tidak boleh mengganggu orang yang sedang kencing, hal ini juga dikuatkan dengan hadits tentang orang badui yang kencing di masjid.

§ Tidak boleh mengagetkan atau menakut-nakuti anak bahkan juga orang dewasa, sebagaimana dalam hadits :

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim lainnya.” [HR. Ahmad no. 23114, Abu Dawud no. 5004, ath-Thobaroni dalam al-Mu’jam al-Ausath 2/187, al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro no. 20966, dll. Dishohihkan al-Albani dalam Shohih at-Targhib wat Tarhib no. 2805]

§ Contoh Rosululloh dalam bersikap lemah lembut kepada anak-anak. Beliau sama sekali tidak mengeluh, mencela ataupun memarahi cucunya yang ngompol di pangkuannya tersebut, karena hal itu adalah kewajaran bagi anak-anak dan bukanlah kemungkaran.

§ Di antara pendidikan kepada anak adalah melarangnya dari melakukan kemungkaran dan mengajarinya dengan cara yang baik, walaupun anak itu masih kecil dan mungkin belum memahami perkataan orang. Sebagaimana perkataan Rosululloh kepada cucunya ketika ia ingin makan kurma shodaqoh : “Sesungguhnya shodaqoh tidak halal bagi kita (ahlul bait, pent)“.

§ Memperhatikan makanan yang halal untuk anak dan keluarga.

§ Cara membersihkan kencing bayi laki-laki yang belum makan selain ASI (sekarang sering disebut: ASI ekslusif) adalah dengan dituangkan/dialirkan air pada bekas kencingnya, dan dalam hadits-hadits lain : diperciki.

v INFORMASI LAINNYA TENTANG ASI

Berikut ini kami nukilkan tulisan singkat tentang ASI dari buku : “Ibu Rumah Tangga Selalu Memberikan ASI”, Depkes RI. Cet. Dinas Kesehatan Kota Depok 2006 :

1. APA ITU AIR SUSU IBU (ASI)?

Air Susu Ibu adalah makanan terbaik dan sempurna untuk bayi, karena mengandung semua zat gizi sesuai kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi.

2. APA YANG DIMAKSUD DENGAN KOLOSTRUM?

Kolostrum (susu awal) adalah air susu ibu yang keluar pada hari-hari pertama setelah bayi lahir. Berwarna kekuning-kuningan, dan lebih kental karena banyak mengandung protein dan vitamin A, serta zat kekebalan tubuh yang penting untuk melindungi bayi dari penyakit infeksi. Walaupun jumlah kolostrum sedikit, namun sudah memenuhi kebutuhan gizi bayi. Oleh karena itu kolostrum jangan dibuang tetapi harus diberikan kepada bayi.

3. APA YANG DIMAKSUD ASI EKSKLUSIF?

ASI eksklusif adalah memberikan hanya ASI tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, kecuali obat dan vitamin.

4. APA MANFAAT AIR SUSU IBU (ASI) DAN KOLOSTRUM?

4.1 MANFAAT AIR SUSU IBU (ASI) BAGI BAYI :

a. Merupakan makanan alamiah yang sempurna.

b. Mudah dicerna oleh bayi.

c. Mengandung zat gizi sesuai kebutuhan bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan yang sempurna.

d. Mengandung DHA dan AA yang bermanfaat untuk kecerdasan bayi.

e. Mengandung zat kekebalan untuk mencegah bayi dari berbagai penyakit infeksi (diare, batuk, pilek, radang tenggorokan dan gangguan pernafasan).

f. Melindungi bayi dari alergi.

g. Aman dan terjamin kebersihannya, karena langsung disusukan kepada bayi dalam keadaan segar.

h. Tidak akan pernah basi (*), mempunyai suhu yang tepat, dapat diberikan kapan saja dan dimana saja.

i. Membantu memperbaiki refleks menghisap, menelan dan pernafasan bayi.

4.2 MANFAAT KOLOSTRUM BAGI BAYI :

a. Sebagai obat yang mengandung zat kekebalan yang sangat berguna bagi bayi, karena dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi dan alergi.

b. Kolostrum harus segera diberikan kepada bayi, karena kolostrum dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama setelah kelahiran.

c. Membantu pengeluaran kotoran bayi yang pertama yang berwarna hitam kehijauan (mekonium).

4.3 MANFAAT MEMBERIKAN AIR SUSU IBU (ASI) BAGI IBU :

a. Menjalin hubungan kasih sayang antara ibu dengan bayi.

b. Mengurangi pendarahan setelah persalinan.

c. Mempercepat pemulihan kesehatan ibu.

d. Menunda kehamilan berikutnya.

e. Mengurangi resiko terkena kanker payudara.

f. Lebih praktis karena ASI lebih mudah diberikan setiap saat bayi membutuhkan.

g. Menumbuhkan rasa percaya diri ibu untuk menyusui.

h. Membantu ibu mengurangi berat badan tambahan yang diperoleh sewaktu hamil.

i. Membantu rahim kembali ke ukuran normal dengan lebih cepat.

j. Mengurangi resiko patah tulang pinggul dan kanker ovari.

4.4 MANFAAT PEMBERIAN AIR SUSU IBU (ASI) BAGI KELUARGA :

a. Tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pemberian susu formula dan perlengkapannya.

b. Tidak perlu waktu dan tenaga untuk menyediakan susu formula, misalnya merebus air dan mencuci peralatan.

c. Tidak perlu biaya dan waktu untuk merawat dan mengobati anak yang sering sakit karena pemberian susu formula.

d. Mengurangi biaya dan waktu untuk pemeliharaan kesehatan ibu.

5. KEUNTUNGAN BAGI IBU BILA MEMBERI ASI SECARA EKSKLUSIF KEPADA BAYI :

a. Bayi lebih sehat, lincah dan tidak cengeng.

b. Bayi tidak sering sakit.

c. Mengurangi biaya untuk pemeliharaan kesehatan ibu dan bayi.

Catatan kaki :

(*) Yakni jika ASI yang masih di dalam payudara. Adapun jika sudah dikeluarkan, ASI bisa basi setelah beberapa jam dan bisa awet sampai beberapa hari kalau disimpan di kulkas, Wallohu A’lam. (-ed).

10 Tanggapan

  1. assalamualaikum
    afwan akhi, ana mau tanya…..
    bangaimana pendapat antum, jika seorang bayi yg sudah mendapatkan MPASI (makanan pendampin ASI), kemudian ia disapih oleh ibunya karena suatu sebab.
    kemudian kedudukan ASI dganti dengan susu formula, dsamping ia jg mendapatkan makanan yg bergizi. Apakah ini jg berbahaya bg sang bayi ???

    Ummu Shofiyyah al-Balitariyyah (admin 2) :
    Wa’alaikumussalam wa rohmatulloh,
    ehm… ehm… ana yg jawab ya…
    ya kalau memang ada sebabnya ya ngga papa.
    Lagipula ASI Ekslusif itu tidak wajib, hanya saja ada dalil yang menunjukkan hal tersebut ada di zaman Rosululloh (telah disebut dalam artikel di atas) dan juga dianjurkan oleh para dokter di zaman ini.
    Ngomong-ngomong, kapan nih Musa punya adik lagi… jadi ngiri nih…

  2. hihi…..
    ada yang rubucem ni (gaya2 ngomong anak ngalam)
    jazakumulloh khoir jawabannya umm
    matursuwun sanget….insyaAlloh Musa rencananya sgera punya adik ;>….biidznillah.
    ana juga ngiri nih, ada yang mo ta’adud ;)

    Ummu Shofiyyah al-Balitariyyah:
    iya dong..kalo sama anti rubucem..
    tapi kalo sama ummu tsaniyah…..emm…insyaALLoh nggak kayaknya..
    wah jadi ngegosip nih..ntar dikira beneran lagi..
    sebenernya belum ada rencana ta’addud sih..
    tapi seandainyapun zauji pengen..ya nggak papa..
    kan itu sunnah umm..
    Begitulah cinta karena Alloh …

    Eh bener nih…ngiri sama yang mau ta’adud??..Alhamdulillah…
    ya udah..bilang sama zaujuki dong..cariin ummu tsaniyahnya..hehe…biar ada yang bantu ngurusin Rufaidah,Mas’ud, Abdurrohman dan Musa..

  3. Alhamdulillah………
    Ya…… kalo bantunya ngurus anak2 mah bukan ummu tsaniyah namanya umm tp pembantu…hee. kalo ummu tsaniyah sih tugasnya mbantuin nambah adek buat faida dkk (memperbanyak umat Rasululloh gthu) ;)
    Hayo ada yang sanggup ga…;> ?????
    afwan ya jd ngegosip di blog orang…hehe …ga sopan banget..
    afwan..afwan..

    Ummu Shofiyyah al-Balitariyyah:
    tapi ummu tsaniyah kan bisa bantu-bantu juga, ana juga mau bantu kok kalo ummu tsaniyahnya nanti punya anak, kan jadi rukun nanti, ga usah rubucem-rubuceman, hehe..
    apalagi kalo ada ummu tsalitsah dan ummu robi’ah…wah..bisa bikin sekolahan sendiri tuh..
    semoga kita sanggup ya ukh..

  4. aamiin .. na,am umm
    tapi kalo ana kayaknya mbantuin nambah2in aja dech hihihi

    Ummu Shofiyyah al-Balitariyyah:
    sip sip, gapapa deh..
    yang penting anti udah setuju kalo suatu saat nanti zaujuki mau ta’adud..hihihi..
    baarokalloohu fiikumaa..

  5. wa fiikum barokalloh
    setuju sih..tapi cemburu itu perlu
    cemburu kan tanda cinta ;>

    Ummu Shofiyyah al-Balitariyyah:
    na’am na’am..
    Shoddaqti, asal cemburunya tidak sampai menyebabkan kita jadi mengingkari syari’at ta’addud..

  6. assalamu’alaykum
    mau tanya,apa hukumnya donor asi? misal seorang ibu memerah asinya,lalu disimpan di botol,dibekukan di freezer…. untuk anak orang lain… apakah hal yg demikian itu juga menjadikan sebagai sodara sepersusuan?
    jazakumulloh khoir

    Wa’alaikumussalam warohmatulloh,

    Allohu a’lam, coba tanya ke ustadz Ahmad Sabiq.

  7. Masya ALlah… Jayyid ulasan tentang ASIXnya…

    kapan2 lirik2 umm dalil tentang IMD.

    barakallahu fik.

    Ummu Shofiyyah :
    Wa fiiki baarokalloh yaa Umma Sumayyah.

  8. oh ya… tentang donor asi… ana pernah menanyakannya kepada al ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat. bahwa ya, ASIP donor dapat menyebabkan hubungan mahrom, karena yang menjadi sebab sepersusuan adalah ASInya bukan cara meminumnya. namun itu pun dengan syarat seperti yang dijelaskan dalam hadits mengenai hal tsb bahwa hal itu bisa terjadi apabila telah 5x penyusuan yang menyebabkan kenyang. wallahua’lam bis shawab.

    Ummu Shofiyyah :
    Wa jazakillah khoiron ‘ala hadzihil fa’idah.

  9. […] insyaAlloh Ta’ala… [ASI – 2 >> ASI Ekslusif di Zaman Nabi?? […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: