Sikap Dalam Meminta Fatwa

Sikap Dalam Meminta Fatwa
Oleh : asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i -rohimahulloh-

fatawaSoal: Bagaimana seharusnya sikap orang yang meminta fatwa dari seorang alim di negerinya atau negeri kaum muslimin di dalam masalah-masalah yang dlperselisihkan, apakah ia merasa cukup dengan menerima fatwa satu orang alim ataukah ia bertanya lagi kepada orang alim yang lain yang lebih banyak sehingga dengan jawaban yang mereka berikan ia dapat mengambil kesimpulan yang menentramkan hati serta berpegang dengan fatwa tersebut. Apakah hal ini dibolehkan? Kemudian bukankah ketika tidak merasa cukup dengan fatwa orang alim yang pertama hal itu termasuk peremehan? Hingga ia harus bertanya kepada orang alim yang lain, padahal orang-orang yang dimintai fatwa itu termasuk ahli fiqh, ahli aqidah yang baik.

Jawab: Yang bisa aku nasihatkan kepadanya, jika dia termasuk penuntut ilmu maka hendaknya mencari dan membahas permasalahannya di dalam kitab-kitab ulama. Hendaknya dia mencurahkan semangatnya untuk mengetahui permasalahan sebaik-baiknya dengan dirinya sendiri melalui kitab-kitab ahli ilmu. Perkaranya mudah, insya’ Alloh. Jika hal itu tidak mudah, maka yang menjadi patokan adalah ketentraman jiwa. Apabila jiwanya merasa tentram dengan jawaban orang alim yang pertama beserta dalilnya-dan memang harus ia meminta dalilnya- karena Alloh berfirman:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu danjanganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran. (QS. al-A’raf: 3)

Apabila ia telah mendatangkan dalil-dalilnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah dan engkau telah paham, maka hendaknya engkau merasa cukup dengan jawabannya. Atau boleh juga engkau bertanya kepada yang lain dengan tujuan mungkin dalil yang ia gunakan sudah dihapus atau dalil yang digunakan tidak pada tempatnya, karena bisa jadi orang yang memberi fatwa fanatik terhadap madzhab tertentu, hingga berfatwa sesuai madzhabnya, maka boleh bagimu untuk mencari kejelasan dan hal itu tidak mengapa. (Ijabatus Sa’il ‘ala Ahammil Masa’il hal. 638)

***

Sumber : Majalah al-FurQon Edisi 4 tahun V // Dzulqo’dah 1426 H // Desember 2005 M

Satu Tanggapan

  1. siapa sajakah yang harus terikat kepada suatu fatwa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: