Fatwa – Kata “الكُفْرُ” Dalam Bentuk Ma’rifah

[Diterjemahkan dari rekaman Dauroh Masyayikh Madinah di Kebun Teh Wonosari Lawang – Malang Juli 2007. File : LM 5 syaikh ibrohim ed.mp3 >> 22:39 – 26:52]

Fatwa – Kata “الكُفْرُ” Dalam Bentuk Ma’rifah

Oleh : asy-Syaikh Ibrohim bin ‘Amir ar-Ruhaili –hafidzohulloh

Pertanyaan :

Sebagian orang takfiri berkata bahwa kata “الكُفْرُ” yang diembel-embeli dengan “ال” menunjukkan kufur mutlak, berbeda jika kata tersebut dalam bentuk nakiroh, karena sesuai dengan perkataan Ibnu Abbas “كُفْرٌ دُوْنَ كُفْرٍ”. Berdasarkan hal ini mereka mengkafirkan orang yang berhukum dengan selain hukum Alloh secara mutlak dengan hujjah bahwa firman Alloh Ta’ala : “فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ” di sini memakai “ال”. Pertanyaannya : apakah ini benar?

Jawaban:

Perkataan ini, pertama-tama harus diperhatikan bahwa ini bukan perkataan orang-orang takfiri, akan tetapi ini adalah perkataan yang memiliki asal pada perkataan Syaikhul Islam. Syaikhul Islam ketika menyebutkan sebagian kesalahan yang ada pada sebagian orang tentang kata “الكُفْرُ”, dan ini ada di kitab al-Iman al-Ausath, beliau berkata : “maka perbedaan antara “كفر” dalam bentuk ma’rifah dengan “كفر” dengan bentuk nakiroh” begitulah. Maka datang sebagian orang, dan mereka berkata bahwa Syaikhul Islam memaksudkan untuk membedakan antara “كفر” dalam bentuk ma’rifah yang memakai “ال” yaitu kufur akbar, dan “كفر” jika datang dalam bentuk nakiroh maka maksudnya adalah kufur ashghor. Syaikhul Islam tidaklah berkata demikian, akan tetapi ia berkata maka perbedaan antara yang ini dan yang itu.

Ala kulli haal, sesungguhnya kaidah-kaidah ini yang dibuat oleh para ‘ulama, jika asalnya dari seorang ‘ulama besar seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, maka kaidahnya diperhatikan. Dan ini sangat bermanfaat bagi para penuntut ilmu, beristifadah dari perkataannya para ‘ulama, kaidah-kaidah dan dhowabith yang mereka buat. Akan tetapi perkataan Syaikhul Islam ini tidak tegas (menunjukkan) bahwa “كفر” jika dima’rifatkan berarti maksudnya adalah kufur akbar dan jika datang dengan bentuk nakiroh berarti maksudnya adalah kufur ashghor.

Kemudian yang mendukung hal ini secara amaliah, bahwa “كفر” terkadang dima’rifatkan atau dinakirohkan sehingga terjadi ikhtilaf di antara para ‘ulama, hal ini menunjukkan bahwa masalah ini tidak mutlak seperti ini. Dari sini, para ‘ulama berbeda pendapat pada sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam :

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Perjanjian antara kami dengan mereka adalah sholat, barangsiapa meninggalkannya maka ia telah kafir”

Para ‘ulama berbeda pendapat, apakah kufur di sini akbar atau ashghor. Seandainya kaidah ini baku, pasti mereka akan mengatakan bahwa ini kufur ashsghor. Dan mereka juga akan mengatakan pada firman Alloh azza wa jalla :

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Alloh maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”

bahwa ini adalah kufur akbar. Padahal yang shohih dan tsabit dari para Shohabat, Tabi’in dan masyhur di kalangan Ahlus Sunnah bahwa kufur di sini adalah “كُفْرٌ دُوْنَ كُفْرٍ” (kekufuran di bawah kekufuran, yakni tidak sampai mengeluarkan seseorang dari Islam, pent), maka ini merupakan di antara hal yang menunjukkan bahwa kaidah ini tidak baku.

Dan Syaikhul Islam selalu memperingatkan pada masalah bahwa sebagian orang meruntuhkan nash-nash dengan ushul yang dibuat oleh sebagian ‘ulama pada bab ushul fiqih, maka beliau menyebutkan bahwa banyak di antara kaidah-kaidah itu diambil dari ahlul kalam. Maka harus diperhatikan bahwa ketika disebutkan kaidah, walaupun kaidah itu disetujui oleh sebagian ‘ulama Ahlus Sunnah. Maka kaidah-kaidah yang disebutkan oleh para ‘ulama yang tidak kembali kepada nash-nash, kaidah-kaidah tersebut adalah ijtihad mereka yang keluar dari nash-nash, maka bisa diambil dan bisa ditolak. Adapun kaidah-kaidah yang kembalinya kepada dalil-dalil, misalnya sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :

كل بدعة ضلالة

Setiap bid’ah adalah sesat”

Maka kaidah ini baku, tidak mungkin bagi seorangpun setelah Nabi shollallohu alaihi wa sallam untuk meralatnya. Dan misalnya sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :

الحلال بين والحرام بين وبينهما أمور مشتبهات

Yang halal itu jelas dan yang harom itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat.”

Dan Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

إنما الأعمال بالنيات

Amal-amal itu tergantung pada niatnya”

Dan sabda beliau :

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

Barangsiapa mengada-adakan dalam perkara (agama) kami yang bukan darinya maka ia tertolak.”

Ini adalah kaidah-kaidah. Maka tidak bisa bagi seseorang untuk meralat Nabi shollallohu alaihi wa sallam. Adapun para ‘ulama, mereka bisa diralat jika telah jelas bahwa kaidahnya menyelisihi nash. Karena sesungguhnya nash itu adalah yang menghukumi kaidah-kaidah (yakni benar atau tidaknya kaidah tersebut, pent). Dan kaidah-kaidah tidak bisa menghukumi nash-nash. Na’am.

***

[Diterjemahkan dari rekaman Dauroh Masyayikh Madinah di Kebun Teh Wonosari Lawang – Malang Juli 2007. File : LM 5 syaikh ibrohim ed.mp3 >> 22:39 – 26:52]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: