Fatwa – Mereka Sudah Sampai ke Bulan, Kita?

 

[Diterjemahkan dari rekaman Dauroh Masyayikh Madinah di Kebun Teh Wonosari Lawang – Malang Juli 2006. File : 06_liqo maftuhah.mp3 >> 56:50 – 60”57]

 

Fatwa – Mereka Sudah Sampai ke Bulan, Kita?

Oleh : asy-Syaikh Ibrohim bin ‘Amir ar-Ruhaili –hafidzohulloh

 

 

Pertanyaan :

Bagaimana kita membantah atau menjawab terhadap orang yang mengatakan : “Umat ini tidak akan bangkit dengan mengungkit-ungkit masa lalu dan al-Qur’an harus ditafsirkan dengan kenyataan. Orang-orang kafir sudah sampai ke Bulan, sedangkan kita masih terus hidup dalam mimpi-mimpi, dan kita terus-menerus menangisi atas hilangnya kemuliaan dan izzah kita.” Bagaimana pendapat anda fadhilatu Syaikh?

 

Jawaban:

Pertama-tama, ketika dikatakan “tidak sepatutnya bagi kita untuk mengungkit-ungkit mimpi-mimpi masa lalu”, apa itu mimpi-mimpi masa lalu? Yakni mimpi masa lalu dengan mengatakan : “Kita dahulu menaklukkan negeri-negeri, kita tegakkan Islam dan kita berdakwah kepada Alloh azza wa jalla, dan kita lakukan.. dan kita lakukan..” ini adalah mengungkit-ungkit masa lalu. Adapun orang yang berdakwah kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, ini tidaklah dikatakan mengungkit-ungkit masa lalu.

 

Jika mereka berkata : “jangan ungkit-ungkit masa lalu!” dan maksudnya adalah agar kita meninggalkan al-Qur’an dan as-Sunnah, maka perkataan ini batil. Oleh karena itu kami selalu mengatakan agar sebaiknya dikatakan kepada orang yang berbicara : “apa maksudmu dengan perkataanmu ini?” Dan para ‘ulama membedakan antara perkataan yang benar tapi dimaksudkan dengannya kebatilan dengan perkataan yang terdapat padanya makna yang batil tapi dimaksudkan dengannya makna yang benar.

 

Orang yang mengatakan : “jangan ungkit-ungkit masa lalu!”, kita katakan kepadanya : “apa yang kau maksudkan?”, jika misalnya ia mengatakan : “kita sekarang ini mengingat-ingat kemuliaan umat ini dan sejarahnya sebagai bentuk ridho dengan menyebutkan kemuliaan-kemuliaan tapi kita tidak usah melakukan apa yang dilakukan oleh para Salaf”, tidak ragu lagi bahwa ini tercela.

 

Dan jika mengingat-ingat sejarah umat ini dan kemuliaannya dalam rangka membangun kembali dan kita katakan kepada orang-orang : “Para Salaf berjihad dan menaklukkan neger-negeri, dan mereka berdakwah kepada Alloh azza wa jalla, maka lakukanlah apa yang mereka lakukan!” ini adalah seruan kepada kebaikan.

 

Adapun jika yang ia maksudkan bahwa “mengungkit-ungkit masa lalu” adalah kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, maka ini adalah kufur. Yakni konsekuensi perkataan ini adalah agar kita meninggalkan al-Qur’an dan as-Sunnah.

 

Dan juga perkataanmu bahwa al-Qur’an butuh tafsir baru atau makna yang baru, maka ini adalah dakwaan yang batil. Dan ini adalah perkataan ahli bid’ah yang mereka mengatakan bahwa al-Qur’an butuh penafsiran per zaman. Al-Qur’an adalah Kitabulloh yang diturunkan Alloh dan al-Qur’an bisa diterapkan di setiap zaman dan tempat, dan ia adalah wahyu dari Alloh. Dan al-Qur’an tidak butuh kepada tafsir per zaman, akan tetapi butuh kepada tafsir yang menjelaskan maksud-maksud Alloh dalam firman-Nya jika orang-orang tidak paham tentangnya. Jika orang-orang tidak paham terhadap beberapa nash, maka dijelaskan kepada mereka.

 

Dan adapun yang butuh kepada penelitian, yakni semisal masalah-masalah nawazil yang baru terjadi di zaman ini, na’am dibutuhkan orang yang menjelaskan tentang hukumnya dan meneliti masalah-masalah nawazil di zaman sekarang, dan mengembalikannya kepada ushul lalu meng-istimbath-kan hukumnya, ini dibutuhkan. Adapun Kitabulloh azza wa jalla tidak butuh penafsiran per zaman.

 

Dan perkataan “orang-orang sudah sampai ke bulan”, ini tidak ada hubungannya, baik mereka sampai ke bulan ataupun sampai ke matahari! Kita tidak diperintahkan untuk ini. Walaupun mereka sudah sampai ke bulan, hal ini tidak menunjukkan bahwa mereka berada di atas agama yang benar, karena kita mengetahui bahwa mereka yang mengira telah sampai ke bulan adalah orang-orang Yahudi dan Nashoro. Apakah jika mereka berhasil sampai ke bulan menunjukkan bahwa mereka berada di atas agama yang benar? Ini tidak ada hubungannya.

 

Ini adalah talbis kepada sebagian orang yang lemah akalnya, mereka berkata : “Mereka sudah sampai ke bulan, sedangkan kita… sedangkan kita..”. Jika kita tertinggal dari mereka, maka ketertinggalan itu bukanlah bagian dari agama, akan tetapi itu hanya kekurangan kita. Dan agama kita tidak menyerukan untuk bermalas-malas dan meninggalkan bekerja, bahkan menyerukan agar kokoh dalam bekerja dan belajar serta memberi manfaat, yakni dengan semua cara yang mungkin yang tidak bertentangan dengan agama kita. Na’am.

 

***

 

[Diterjemahkan dari rekaman Dauroh Masyayikh Madinah di Kebun Teh Wonosari Lawang – Malang Juli 2006. File : 06_liqo maftuhah.mp3 >> 56:50 – 60”57]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: