Fatwa – Hukum Cerita Khayal

 

Fatwa – Hukum Cerita Khayal

Oleh : asy-Syaikh Ibrohim bin ‘Amir ar-Ruhaili –hafidzohulloh-

 

 

Pertanyaan : Fadhilatusy Syaikh, barokallohu fiikum, apa hukum cerita khayal keagamaan untuk mengajari?

 

Jawab : Khayal yakni dusta, dan dusta tidak boleh. Hah?

 

Pembawa Acara : Tidak nyata, akan tetapi… yakni untuk mengajarkan agama.

 

Asy-Syaikh : Nyata, yakni cerita khayal seseorang menceritakan sesuatu yang tidak terjadi? Ini adalah dusta. Yakni, apa itu khayal? Ia adalah menggambarkan sesuatu, si Fulan datang dan si Fulan melakukan ini, ini adalah berkhayal, dan ini bukan menggambarkan kenyataan, maka ini tidak boleh.

 

Dan ad-Diin (agama) tidak butuh dengan ini, Alloh ‘Azza wa Jalla telah mencukupkan kita dengan nash-nash. Kita tidak butuh dengan wasilah-wasilah (cara-cara, pent) mubtada’ah (yang diada-adakan) ini dan berkhayal. Dan hanya saja ad-Diin datang dengan menyebutkan nash-nash syar’iyyah, dan datang dengan membuat permisalan dan perumpamaan. Ada di sana contoh permisalan, sebagaimana sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :

 

مثل ما بعثني الله عز وجل به من الهدى كمثل غيث نزل على أرض

 

Permisalan apa yang aku diutus oleh Alloh ‘Azza wa Jalla dengannya, adalah seperti air hujan yang jatuh ke tanah”,

 

lalu beliau menyebutkan jenis-jenis tanah, karena ini nyata, akan tetapi ini menyerupakan dengan sesuatu. Dan seperti sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :

 

مثل الجليس الصالح والجليس السوء كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ

 

Permisalan teman duduk yang sholih dan teman duduk yang buruk, seperti pembawa misk dan peniup bara api”,

 

Sehingga di sini ada suatu bentuk yang dapat dirasakan dan berwujud, yang menyerupakan bentuk maknawi pada bentuk yang dapat dirasakan. Ini adalah permisalan, dinamakan permisalan, dan ini bukanlah berkhayal.

 

Adapun jika seseorang berkhayal dan ia datang dengan khayalan-khayalan dan angan-angan dengan dengan dakwaan bahwa ini adalah kebenaran, dan mengatakan bahwa ini adalah bagian dari agama, maka orang ini adalah orang yang menyelisihi ad-Diin dan menyelisihi apa-apa yang ditunjukkan oleh nash-nash dan menyelisihi petunjuk Salaf, na’am.

 

***

 

[Diterjemahkan dari rekaman Dauroh Masyayikh Madinah di Kebun Teh Wonosari Lawang – Malang Juli 2007. File : syaikh ibrohim 7.mp3 >> 71:26 – 73:11]

2 Tanggapan

  1. Berarti dongeng itu gak boleh ya?
    Banyak cerita2 sekarang yang khayal.

    begitulah ya akhi…

  2. Saya berharap redaksi majalah Qiblati untuk meninjau kembali rubrik yang ada kisah khayalnya, apalagi disertai gambar kartun. Memang mungkin ada ikhtilaf, tapi mungkin lebih baik dihindari agar tidak timbul fitnah.

    Antum hubungi aja redaksinya. Blog ini nggak ada hubungannya sama mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: