Mufti dan Mustafti (الـمُفْتي والـمُسْتَفْتي)

 الـمُفْتي والـمُسْتَفْتي

Mufti dan Mustafti

Oleh: asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin –Rahimahullah

 

 

Mufti (المفتي) :

 

المخبر عن حكم شرعي

 

“Orang yang mengabarkan/memberitahu suatu hukum syar’i.”

 

Mustafti (المستفتي) :

 

السائل عن حكم شرعي

 

“Orang yang bertanya tentang suatu hukum syar’i.”

 

Syarat-syarat Fatwa :

 

Disyaratkan untuk bolehnya seseorang berfatwa dengan syarat:

  1. Seorang Mufti mengetahui tentang suatu hukum dengan yakin atau dzonn rojih (persangkaan kuat), dan jika ia tidak mengetahui maka wajib baginya untuk tawaqquf.

 

  1. Pertanyaan digambarkan dengan sempurna (jelas), agar lebih kokoh dalam menghukuminya, karena “الحكم على الشيء فرع عن تصوره” (penentuan hukum atas sesuatu merupakan cabang dari penggambarannya).

 

Jika makna perkataan mustafti masih rancu bagi mufti maka ia bertanya kepada mustafti tentang pertanyaannya itu, jika pertanyaannya butuh untuk dirinci maka mufti minta agar pertanyaannya dirinci, atau ia yang menyebutkan jawabannya secara rinci. Jika ia ditanya tentang seseorang laki-laki yang mati meninggalkan anak perempuan, saudara laki-laki dan ‘am syaqiq (paman/saudara laki-laki dari ayah yang se-ayah dan se-ibu, pent), maka mufti bertanya tentang saudara laki-laki tersebut, apakah ia se-ibu saja (Akh li Umm, pent) atau tidak? atau ia merinci dalam jawabannya; jika se-ibu saja maka tidak mendapat apa-apa, dan sisanya setelah bagian anak perempuan adalah untuk paman, dan jika saudara laki-laki tersebut tidak hanya se-ibu saja (yakni Akh Syaqiiq atau Akh li Abb, pent), maka sisa warisan setelah bagian anak perempuan adalah untuk saudara laki-laki tersebut.

 

3. Seorang mufti dalam keadaan tenang sehingga ia mampu menggambarkan masalah dan menerapkannya pada dalil-dalil syar’i, maka janganlah seorang berfatwa dalam keadaan pikirannya sedang sibuk dengan marah, sedih, bosan atau yang selainnya.

 

Disyaratkan dalam wajibnya berfatwa dengan syarat-syarat :

 

  1. Telah terjadinya kejadian yang ditanyakan tersebut, jika belum terjadi maka tidak wajib untuk berfatwa dikarenakan tidak mendesak, kecuali jika maksud penanya adalah untuk belajar maka tidak boleh bagi mufti untuk menyembunyikan ilmu, bahkan ia menjawabnya kapanpun penanya bertanya pada setiap keadaan.

 

  1. Dia tidak mengetahui kondisi penanya bahwa maksudnya bertanya adalah untuk berlebih-lebihan, atau mencari-cari rukhshoh, atau untuk mempertentangkan antara pendapat para ‘ulama yang satu dengan yang lain, atau yang selainnya dari maksud-maksud yang buruk. Jika ia mengetahui hal tersebut dari kondisi penanya, maka ia tidak wajib berfatwa.

 

  1. Fatwa tersebut tidak menimbulkan mudhorot yang lebih besar, jika dengan fatwa tersebut akan timbul mudhorot yang lebih besar, maka ia wajib diam untuk menolak mafsadat yang lebih besar dengan yang lebih ringan.

 

Yang Diharuskan bagi Mustafti:

 

Diharuskan 2 perkara bagi Mustafti:

 

Yang pertama : ia menginginkan kebenaran dari pertanyaannya tersebut dan beramal dengannya, bukan untuk mencari-cari rukhshoh dan menyudutkan mufti, dan yang selain itu dari niat-niat yang buruk.

 

Yang kedua : ia tidak meminta fatwa kecuali dari orang yang tahu, atau yang ia duga kuat bahwa orang itu mampu berfatwa.

 

Dan selayaknya ia untuk memilih di antara 2 orang mufti yang lebih berilmu dan lebih waro’, dan dikatakan : yang demikian adalah wajib.

 

***

 

[Diterjemahkan dari kitab al-Ushul min ‘Ilmil Ushul, oleh asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin –Rohimahulloh-]

 

Satu Tanggapan

  1. mau tanya, syarat seseorang disebut Syaikh itu apa ya?

    setahu ana sebutan “syaikh” itu cuma sebutan untuk orang yang dihormati atau yang di-tua-kan, seperti sebutan “bapak” kalau di Indonesia.

    dan terkadang makna “syaikh” adalah guru, seperti perkataan “syaikhuna” yang artinya : “guru kami”.

    Seorang ustadz alumni Madinah pernah menceritakan kepada ana bahwa di Madinah para mahasiswa-nya biasa dipanggil “syaikh” sama syaikhnya/gurunya.

    Jadi tidak ada syarat-syarat khusus.

    Dan yang sering disalahpahami bahwa seorang yang dipanggil “syaikh” adalah ‘ulama, padahal tidak mesti begitu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: