Urutan di Antara Dalil-dalil (الترتيب بين الأدلة)

 

Urutan di Antara Dalil-dalil (الترتيب بين الأدلة)

Oleh: asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin –Rahimahullah

 

 

Jika dalil-dalil yang telah lalu (al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas) sepakat atas suatu hukum atau salah satu dalil tersebut menyendiri tanpa ada yang menyelisihinya maka wajib untuk menetapkan hukumnya. Dan jika terjadi ta’arudh dan mungkin untuk dijama’ maka wajib untuk dijama’, seandainya tidak mungkin untuk dijama’ maka dilakukan naskh jika telah sempurna syarat-syarat naskh tersebut.

 

Dan jika tidak mungkin untuk dilakukannya naskh, maka wajib untuk ditarjih.

 

Maka lebih diutamakan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah :

 

Nash daripada dzohir.

Dzohir daripada mu’awwal.

 

Manthuq (yang tersurat) daripada mafhum (yang tersirat).

 

Mutsbit (yang menetapkan) daripada nafiy (yang meniadakan).

 

Yang memindahkan dari hukum asal (الناقل عن الأصل) daripada yang tetap di atas hukum asal tersebut (المبقي على الأصل), karena pada yang memindahkan dari hukum asal terdapat tambahan ilmu.

 

Keumuman yang mahfudz (yakni yang tidak terkhususkan) daripada yang tidak mahfudz.

 

Dalil yang memiliki sifat untuk diterima lebih banyak daripada dalil yang memiliki sifat untuk diterima kurang darinya.

 

Pelaku kejadian daripada yang selainnya.

 

Dan didahulukan dalam ijma’ : qoth’iy daripada dzonniy.

 

Dan didahulukan dalam qiyas : jaliy daripada khofiy.

 

***

 

[Diterjemahkan dari kitab al-Ushul min ‘Ilmil Ushul, oleh asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin –Rohimahulloh-]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: