Dzohir dan Mu’awwal (الظَّــاهِـر والـمــؤَوَّل)

 Yang ini ternyata ketinggalan…

 

الظَّــاهِـر والـمــؤَوَّل

Dzohir dan Mu’awwal

Oleh: asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin –Rahimahullah

 

 

Definisi Dzohir (الظاهر) :

 

Dzohir secara bahasa : Yang terang (الواضح) dan yang jelas (البين).

 

Secara istilah :

 

ما دل بنفسه على معنى راجح مع احتمال غيره

 

“Apa-apa yang menunjukkan atas makna yang rojih dengan lafadznya sendiri dengan adanya kemungkinan makna lainnya.”

 

Misalnya sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :

 

توضؤوا من لحوم الإبل

 

“Berwudhulah kalian karena memakan daging unta!”

 

Maka sesungguhnya yang dzohir dari yang dimaksud dengan wudhu adalah membasuh anggota badan yang empat dengan sifat yang syar’i bukan wudhu yang berarti membersihkan diri.

Keluar dari perkataan kami : “apa-apa yang menunjukkan atas makna dengan lafadznya sendiri” (ما دل بنفسه على معنى) : Mujmal, karena mujmal tidak menunjukkan makna dengan lafadznya sendiri.

 

Keluar dari perkataan kami : “rojih” (راجح) : Mu’awwal, karena ia menunjukkan atas makna yang marjuh jika tanpa qorinah.

 

Keluar dari perkataan kami : “dengan adanya kemungkinan makna lainnya” (مع احتمال غيره) : Nash yang tegas, karena ia tidak memiliki kemungkinan kecuali hanya satu makna.

 

Beramal dengan dalil yang Dzohir :

 

Beramal dengan dalil yang dzohir adalah wajib kecuali jika ada dalil yang memalingkannya dari makna dzohirnya. Karena ini merupakan jalannya para salaf, dan karena ini lebih hati-hati dan lebih melepaskan tanggungan, dan lebih kuat dalam ta’abbud dan ketundukan.

 

Definisi Mu’awwal (المؤول):

 

Mu’awwal secara bahasa : dari kata “al-Awli” (الأَوَل) yakni kembali (الرجوع).

 

Secara istilah :

 

ما حمل لفظه على المعنى المرجوح

 

“Apa-apa yang lafadznya dibawa pada makna yang marjuh.”

 

Keluar dari perkataan kami : “pada makna yang marjuh” (على المعنى المرجوح) : Nash dan Dzohir.

 

Adapun nash, karena ia tidak mengandung kemungkinan kecuali hanya satu makna, dan adapun dzohir, karena ia dibawa kepada makna yang rojih.

 

Ta’wil ada dua macam : Shohih diterima dan Rusak ditolak.

 

1. Ta’wil yang shohih : yang ditunjukkan atas makna tersebut dengan dalil yang shohih, seperti ta’wil terhadap firman Alloh ta’ala :

 

وسئل القرية

 

“bertanyalah kepada desa.”

 

Kepada makna “bertanyalah kepada penduduk desa” (واسأل أهل القرية), karena desa tidak mungkin untuk diberi pertanyaan kepadanya.

 

2. Ta’wil yang rusak : yang tidak ada dalil yang shohih yang menunjukkan makna tersebut, seperti ta’wil orang-orang mu’aththilah (ahli ta’thil) terhadap firman Alloh ta’ala :

 

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

 

“Ar-Rohman bersemayam di atas arsy” [QS. Thoha : 5]

 

Kepada makna istaula (استولى / menguasai), dan yang benar bahwa maknanya adalah ketinggian dan menetap, tanpa takyif dan tamtsil.

 

***

 

[Diterjemahkan dari kitab al-Ushul min ‘Ilmil Ushul, oleh asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin –Rohimahulloh-]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: