Pembagian khobar (أقسام الخبر)

 

Pembagian khobar (أقسام الخبر)

Oleh : asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin –Rohimahulloh

 

 

Pembagian khobar ditinjau dari sisi kepada siapa penyandarannya :

 

Khobar ditinjau dari penyandarannya dibagi menjadi tiga bagian : marfu’, mauquf, dan maqtu’.

 

1. Marfu’ (المرفوع): Apa yang disandarkan kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam secara hakiki atau secara hukum.

 

Marfu’ secara hakiki adalah : sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam, perbuatan dan taqrirnya/persetujuannya.

 

Marfu’ secara hukum adalah : apa yang disandarkan kepada sunnah beliau shollallohu alaihi wa sallam, zamannya, dan yang semisalnya yang tidak menunjukkan secara langsung dari beliau.

 

Dan di antaranya adalah perkataan sahabat : “kami diperintahkan” atau “kami dilarang” atau yang semisalnya. Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma :

 

أُمِرَ الناس أن يكون آخر عهدهم بالبيت، إلا أنه خفف عن الحائض

 

“Telah diperintahkan kepada manusia agar mengakhiri ibadah hajinya (dengan thowaf, pent) di Baitulloh, namun diberi kelonggaran bagi wanita haidh.”

Dan perkataan Ummu Athiyah :

 

نهينا عن اتباع الجنائز، ولم يعزم علينا

 

“Kami dilarang untuk mengiringi jenazah, namun tidak dikeraskan atas kami”

 

2. Mauquf (الموقوف): apa-apa yang disandarkan kepada shohabat dan tidak tetap baginya hukum marfu’. Dan ini merupakan hujjah berdasarkan pendapat yang rojih, kecuali jika menyelisihi nash atau perkataan shohabat yang lain, jika menyelisihi nash maka diambil nashnya, dan jika menyelisihi perkataan shohabat yang lain maka diambil yang rojih di antara keduanya.

 

Shohabat adalah : orang yang berkumpul bersama Nabi shollallohu alaihi wa sallam dalam keadaan beriman kepada beliau dan meninggal dalam keadaan beriman.

 

3. Maqtu’ (المقطوع): apa-apa yang disandarkan kepada tabi’in dan yang setelah mereka.

 

Tabi’in adalah : orang yang berkumpul bersama shohabat dalam keadaan beriman kepada Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dan meninggal dalam keadaan beriman.

 

 

Pembagian khobar ditinjau dari jalan-jalannya :

 

Khobar ditinjau dari jalan-jalannya dibagi menjadi : mutawatir dan ahad.

 

1. Mutawatir : apa-apa yang diriwayatkan oleh banyak rowi, yang secara adat mustahil bagi mereka bersepakat dengan sengaja dalam kebohongan dan menyandarkannya kepada sesuatu yang dapat dirasakan.

 

Contohnya adalah sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :

 

من كذب عليَّ متعمداً فليتبوأ مقعده من النار

 

Barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka ambillah tempat duduknya di neraka.

 

2. Ahad : apa-apa yang selain mutawatir (yakni tidak sampai derajat mutawatir, pent).

 

Dan dari segi tingkatannya hadits ahad terbagi menjadi tiga bagian : shohih, hasan, dan dho’if.

 

Shohih : apa yang dinukil oleh rowi yang ‘adl, sempurna dhobit/hapalannya, dengan sanad yang bersambung, terlepas dari sifat syadz dan ‘illah yang merusak.

 

Hasan : apa yang dinukil oleh rowi yang ‘adl, dhobitnya ringan, dengan sanad yang bersambung, terlepas dari sifat syadz dan ‘illah yang merusak. Dan bisa naik ke derajat shohih jika jalannya berbilang (lebih dari satu, pent) dan dinamakan shohih li ghoirihi.

 

Dho’if : yang tidak memenuhi syarat hadits shohih dan hasan.

 

Dan bisa naik ke derajat hasan jika jalannya berbilang, yang saling menguatkan satu sama lain dan dinamakan hasan li ghoirihi.

 

Dan semua jenis hadits ini merupakan hujjah kecuali hadits dho’if, maka ia bukan hujjah akan tetapi tidak mengapa menyebutkannya sebagai syawahid dan yang semisalnya (yakni jika dhoifnya muhtamal/ ringan, pent).

 

 

Bentuk-bentuk penyampaian :

 

Dalam hadits terdapat pengambilan dan penyampaian.

 

Pengambilan (التحمل): mengambil hadits dari orang lain.

 

Penyampaian (الأداء): menyampaikan hadits kepada orang lain.

 

 

Penyampaian memiliki bentuk-bentuk, di antaranya :

 

  1. Haddatsani (حدثني) / “telah menceritakan kepadaku”: yang syaikhnya membacakan hadits kepadanya.

 

  1. Akhbaroni (أخبرني) / “telah mengabarkan kepadaku”: yang syaikhnya membacakan hadits kepadanya, atau dia yang membacakan kepada syaikhnya.

 

  1. Akhbaroni ijazatan (أخبرني إجازة) / “telah mengabarkan kepadaku dengan ijazah” atau ajaza li (أجاز لي) / “telah memberikan kepadaku ijazah ” : yang meriwayatkan dengan ijazah (tertulis, pent) tanpa membacakan.

 

Dan ijazah : izin yang diberikan syaikh kepada muridnya untuk meriwayatkan darinya apa-apa yang telah diriwayatkannya, walaupun bukan dengan jalan pembacaan.

 

  1. ‘An’anah (العنعنة): meriwayatkan hadits dengan lafadz ‘an (عن) / “dari”.

 

Dan hukum ‘an’anah adalah bersambung sanadnya, kecuali dari orang yang ma’ruf dengan sifat tadlis, maka sanadnya tidak dihukumi bersambung kecuali ia menegaskan dengan lafadz tahdits.

 

Dan pembahasan tentang masalah hadits dan riwayatnya banyak jenisnya dalam ilmu mustholah, dan yang telah kami isyaratkan sudah mencukupi insyaAlloh ta’ala.

 

***

 

[Diterjemahkan dari kitab al-Ushul min ‘Ilmil Ushul, oleh asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin –Rohimahulloh-]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: