Apa hukum melihat “as-Suuq (السوق)” ?

Apa hukum melihat “as-Suuq (السوق)” ?

Oleh : asy-Syaikh Ibrohim bin ‘Amir ar-Ruhaili –hafidzohulloh

Tulisan berikut ini kami nukilkan perkataan asy-Syaikh Ibrohim ar-Ruhaili dalam Dauroh Juli 2006 lalu, ketika beliau menasehatkan untuk menggunakan lafadz-lafadz yang syar’i dan menjauhi lafadz-lafadz yang mujmal, karena lafadz-lafadz yang mujmal seringkali tidak dipahami dengan makna yang dimaksud oleh orang yang berbicara. Mudah-mudahan ini bisa menjadi pelajaran untuk kita.

Asy-Syaikh berkata:

…..Kerancuan-kerancuan ini terjadi pada kebanyakan orang, lafadz (yang mujmal) ini tidak ma’ruf bagi orang-orang, maka orang-orang memahami dari lafadz tersebut apa yang tidak dimaksud oleh orang yang berbicara. Akan tetapi jika orang-orang menggunakan lafadz-lafadz syar’iyyah, maka akan jelas bagi semua orang sehingga mereka menguasai bahasa ini, bahasa diantara para penuntut ilmu. Oleh karena itu, sepatutnya untuk menjauhkan lafadz-lafadz yang aneh dan ganjil, walaupun dalam pertanyaan.

Kami sekarang, datang kepada kami suatu kata-kata yang aneh, aku ceritakan bahwa ada seorang penanya, ia berkata kepadaku : “Apa hukum melihat as-Suuq[*]? Apa hukum melihat as-Suuq?”

— [*] “as-Suuq” (السُّوْقُ) dalam bentuk mufrod artinya adalah “pasar”. Pent —

Aku katakan kepadanya : “melihat as-Suuq (pasar) itu berbeda-beda, di sana ada yang boleh dilihat dan ada yang tidak boleh dilihat, di pasar (as-Suuq) ada laki-laki dan di sana ada wanita-wanita yang berdandan, maka yang laki-laki melihat kepada laki-laki, dan melihat ke barang dagangan, dan jangan melihat kepada apa-apa yang diharomkan oleh Alloh.”

Ia berkata : “tidak, aku tidak memaksudkan as-Suuq (السُّوْق) dengan as-Suuq (السُّوْق yang artinya pasar, pent), tapi yang aku maksud adalah bentuk jamak dari “as-Saaq” (الساق yang artinya : betis, pent).”

Sekarang siapa yang memahami kata-kata ini? Dia benar bahwa as-Saaq (betis) jamaknya adalah as-Suuq (betis-betis). Akan tetapi siapa yang memahami apa yang dimaksud oleh orang yang berbicara itu? Hampir saja orang ini menukil fatwa dariku bahwa terkadang boleh melihat kepada as-Suuq (betis-betis), dan ia menukil dengan pemahamannya dan ini bisa mengakibatkan… yakni sehingga melihat kepada para wanita.

Maka terkadang terjadi al-Ighroq (berlebih-lebihan) dalam kata-kata, walaupun kata-kata tersebut ma’ruf, tetapi sekarang tercampur ketika jika dikatakan as-Suuq, maka kata tersebut tidak bersegera kepada makna bahwa yang dimaksud orang ini adalah as-Saaq (betis). Dan seharusnya orang itu memperjelas pertanyaan dengan “apa hukum melihat as-Saaq (betis)?”

Pertanyaan ini juga asing, melihat betis dengan bentuk yang muthlaq ini, betisnya siapa? Yang dia maksudkan laki-laki atau wanita?

Yang diperhatikan disini, bahwa terkadang terjadi al-Ighroq (berlebih-lebihan) dalam pertanyaan, dan juga terkadang terjadi al-Ighroq dalam kata-kata orang yang berbicara. Maka sepatutnya bagi orang yang ingin menjawab (pertanyaan-pertanyaan dari) orang-orang untuk merinci pertanyaan tersebut, khuhusnya jika pertanyaannya dalam bentuk yang asing atau terdapat lafadz-lafadz yang harus dirinci sehingga jelaslah makna yang benar dari pertanyaan tersebut.

***

[Diterjemahkan dari rekaman Ushulus Sunnah Dauroh Lawang Juli 2006, file 2_usulussunnah.mp3 menit 10:45 – 13:14]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: