Larangan Menyisir Rambut Setiap Hari

LARANGAN MENYISIR RAMBUR SETIAP HARI

Oleh : asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani –rohimahulloh

 

 

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ التَّرَجُّلِ إِلاَّ غِبًّا

 

“Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam melarang menyisir kecuali ‘ghibban’.” [Lihat takhrijnya di ash-Shohihah no. 501]

 

Hadits ini memiliki dua syahid:

 

Yang pertama dari Ibnu Umar secara marfu’ dengan hadits ini.

 

Dan syahid yang lainnya adalah :

 

كَانَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَانَا عَنْ الْإِرْفَاهِ قُلْنَا وَمَا الإِرْفَاهُ قَالَ التَّرَجُّلُ كُلَّ يَوْمٍ

 

“Nabi sholallohu alaihi wa sallam melarang kami dari ‘al-Irfah’” Kami bertanya : “Apa itu al-Irfah?” ia (shahabat, pent) itu menjawab : “menyisir setiap hari”. [Lihat takhrijnya di ash-Shohihah no. 502]

 

Dikeluarkan oleh an-Nasa’i : akhbarona Isma’il bin Mas’ud, ia berkata : haddatsana Kholid bin al-Harits, dari Kahmas, dari Abdulloh bin Syaqiq, ia berkata :

 

كَانَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامِلا بِمِصْرَ فَأَتَاهُ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَإِذَا هُوَ شَعِثُ الرَّأْسِ مُشْعَانٌّ قَالَ مَا لِي أَرَاكَ مُشْعَانًّا وَأَنْتَ أَمِيرٌ قَالَ : فذكره.

 

“Ada seorang lelaki dari shahabat Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam yang bekerja di Mesir, lalu seorang temannya mendatanginya ketika rambutnya kusut tidak teratur, lalu temannya berkata: “kenapa aku melihat rambutmu kusut padahal engkau adalah seorang amir?” lalu ia menjawab : (lalu ia menyebutkan hadits tadi).

 

Aku katakan : ini sanad yang shohih.

 

Hadits ini memiliki jalan lain, yang diriwayatkan oleh al-Juroiri dari Abdulloh bin Buroidah :

 

أَنَّ رَجُلاً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحَلَ إِلَى فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ وَهُوَ بِمِصْرَ فَقَدِمَ عَلَيْهِ وَهُوَ يَمُدُّ نَاقَةً لَهُ فَقَالَ إِنِّي لَمْ آتِكَ زَائِرًا إِنَّمَا أَتَيْتُكَ لِحَدِيثٍ بَلَغَنِي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجَوْتُ أَنْ يَكُونَ عِنْدَكَ مِنْهُ عِلْمٌ فَرَآهُ شَعِثًا فَقَالَ مَا لِي أَرَاكَ شَعِثًا وَأَنْتَ أَمِيرُ الْبَلَدِ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْهَانَا عَنْ كَثِيرٍ مِنْ الإِرْفَاهِ وَرَآهُ حَافِيًا فَقَالَ مَا لِي أَرَاكَ حَافِيًا قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا أَنْ نَحْتَفِيَ أَحْيَانًا

 

Seseorang dari shahabat Nabi shollallohu alaihi wa sallam melakukan perjalanan kepada Fadholah bin Ubaid ketika ia di Mesir, lalu temannya itu datang kepadanya ketika ia sedang memberi minum untanya, kemudian temannya itu berkata: “Aku tidak mendatangimu untuk berkunjung, tapi aku mendatangimu untuk sebuah hadits yang telah sampai kepadaku dari Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, aku berharap engkau memiliki suatu pengetahuannya tentangnya”, lalu ia melihat Fadholah rambutnya kusut, lalu ia berkata: “kenapa aku melihat rambutmu kusut, padahal engkau adalah amirul balad (pemimpin negri)?”, Fadholah menjawab: “Sesungguhnya Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam melarang kami dari berbanyak-banyak/sering-sering dalam ‘al-Irfah’“, dan temannya melihatnya telanjang kaki (tidak memakai sandal atau sepatu, pent), lalu ia bertanya: “kenapa aku melihatmu telanjang kaki?”, Fadholah menjawab: “Sesungguhnya Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam memerintahkan agar kami bertelanjang kaki sesekali waktu”.

 

Dikeluarkan oleh Ahmad, dan dikeluarkan pula oleh Abu Dawud, an-Nasa’i, dan pada Nasa’i tidak ada perintah untuk telanjang kaki, dan menambahkan:

 

سئل ابن بريدة عن الإرفاء ؟ قال : الترجل

 

“Ibnu Buroidah ditanya tentang al-Irfah, ia menjawab : menyisir”.

 

 

Ghoribul Hadits (kata-kata asing dalam hadits):

 

1. Al-Irfah (الإرفاه) : berkata (Ibnul Atsir, pent) dalam an-Nihayah : yaitu sering-sering dalam memakai minyak dan hidup mewah, dan dikatakan bermegah-megah dalam minuman dan makanan. Maksudnya (hadits ini, pent) adalah meninggalkan kemewahan, kehidupan yang menyenangkan dan kehidupan yang mewah, karena yang demikian adalah seperti orang ‘Ajam dan para pemelihara dunia.

 

Aku (al-Albani) katakan : tapi hadits ini membantah tafsir (Ibnul Atsir) tersebut, oleh karena itu Abul Hasan as-Sindi berkata dalam hasyiyah-nya terhadap Sunan an-Nasa’i : “dan tafsir shohabi tersebut mencukupkan dari apa-apa yang mereka (selain shohabat, pent) sebutkan, dan dia lebih mengetahui maksudnya.”

 

Aku (al-Albani) katakan : misalnya adalah tafsir Abdulloh bin Buroidah dalam riwayat an-Nasa’i, dan yang dzohir adalah bahwa ia mengambil tafsir tersebut dari shohabi, Wallohu A’lam.

 

2. At-Tarojjul (الترجل) : yakni mengatur/merapihkan rambut, membersihkannya dan membaguskannya.

 

3. Ghibban (غبا) : dengan kasroh al-Mu’jamah dan Ba’ yang di tasydid, “melakukan sehari dan meninggalkan sehari”, maksudnya adalah makruh mengerjakannya terus-menerus, dan mengkhususkan perbuatan tersebut pada satu hari dan meninggalkan sehari yang tidak diinginkan.” Ini dikatakan oleh as-Sindi.

 

4. Sya’itsu ar-Ro’si (شعث الرأس) : yakni rambut yang bercerai-berai.

 

5. Musy’an (مشعان) : dengan Mim di-dhommah, Syin mu’jamah yang di-sukun, ‘Ain muhmalah dan akhirnya Nun yang di-tasydid, yakni rambut yang kusut, kepala yang beruban.

 

6. Yamuddu naqotan (يمد ناقة) : yakni memberinya minum dengan hamparan air.

 

***

 

[Diterjemahkan dari kitab Aunul Wadud li Taysiiri ma fi as-Silsilah ash-Shohihah minal Fawa’id war Rudud. Takhrij hadits ini selengkapnya lihat di silsilah ash-Shohihah no. 501 & 502]

 

6 Tanggapan

  1. Apa ada penjelasan hadits yang lebih rinci lagi, ana masih bingung kok menyisir tiap hari ga’ boleh? apakah dalam hal ini sekedar merapikan rambut juga tidak boleh? jazakikumullahukhairan

  2. bukankah Allah menyukai keindahan.. mohon tanggapannya

    Benar, dan insyaAlloh tidak bertentangan dengan hadits tsb, karena kebanyakan kaum muslimin dahulu memakai tutup kepala/rambut, bisa pakai imamah, peci, dll. Jadi tetap bisa indah kan?
    Tapi Allohu A’lam apakah larangan dalam hadits ini bermakna haromnya menyisir setiap hari, yg dzohir begitu. Tapi sebagian ‘ulama mengatakan hukumnya makruh tanzih saja. wal hasil, sebisa mungkin kita menghindari apa-apa yg dilarang Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, baik yg harom ataupun yg makruh.

  3. Tambahan:

    Afwan, ana kemarin kurang memperhatikan kalau yg bertanya adalah akhwat, karena larangan menyisir setiap hari ini ada khilaf, apakah larangan ini khusus untuk laki-laki saja atau untuk wanita juga?

    Sebagian ‘ulama berpendapat bahwa larangan menyisir setiap hari khusus laki-laki, sedangkan perempuan tidak dilarang, karena wanita dituntut untuk tampil indah di hadapan suaminya.

    Dengarkan fatwa asy-Syaikh al-Albani tentang masalah ini dalam fatawa jeddah no. 19b.

    An-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim (14/137) :
    قَالَ الْعُلَمَاء : فَالتَّرْجِيل مُسْتَحَبّ لِلنِّسَاءِ مُطْلَقًا ، وَلِلرَّجُلِ بِشَرْطِ أَلَّا يَفْعَلهُ كُلّ يَوْم أَوْ كُلّ يَوْمَيْنِ وَنَحْو ذَلِكَ
    “Para ‘ulama berkata: menyisir hukumnya mustahab (disukai) bagi wanita secara muthlaq, dan bagi laki-laki (juga disukai, pent) dengan syarat tidak melakukannya setiap hari atau tiap 2 hari atau yang semisal itu.”

    Dan kelihatannya Mushthofa al-Adawi juga menyetujui perkataan an-Nawawi dalam kitab Jami’ Ahkamin Nisaa’ (4/424).

    Sebagian ‘ulama lainnya yang berpendapat bahwa larangan menyisir tiap hari juga berlaku bagi wanita, berdasarkan dengan keumuman larangan tersebut.

    Al-Adzim al-Abadi berkata dalam Aunul Ma’bud :
    وَلَا فَرْق بَيْن الرَّجُل وَالْمَرْأَة لَكِنْ الْكَرَاهَة فِيهَا أَخَفّ لِأَنَّ بَاب التَّزْيِين فِي حَقّهنَّ أَوْسَع مِنْهُ فِي حَقّ الرِّجَال وَمَعَ هَذَا فَتَرْك التَّرَفُّه وَالتَّنَعُّم لَهُنَّ أَوْلَى . كَذَا فِي شَرْح الْمُنَاوِيّ وَاَللَّه أَعْلَم .
    “Dan tidak ada perbedaan antara laki-laki dan wanita, akan tetapi ke-makruh-an bagi wanita lebih ringan karena masalah berhias bagi wanita lebih luas perkaranya dibandingkan laki-laki, oleh karena itu meninggalkan bermewah-mewah dan bernikmat-nikmat bagi para wanita adalah lebih utama. Demikianlah dalam syarahnya al-Munawi, Wallohu A’lam.”

    Dan insyaAlloh hukumnya untuk laki-laki makruh dan bukan harom, karena ada hadits-hadits lain yang memerintahkan agar memuliakan rambut:
    من كان له شعر فيلكرمه
    “Barang siapa yang memiliki rambut maka hendaklah ia memuliakannya.” [HR. Abu Dawud (4163), ath-Thohawi (4/321), al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (2/265/2), dll. Dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 500]

    Adapun hadits:
    عن أبي قتادة قال : كانت له جمة ضخمة فسأل النبي صلى الله عليه وسلم فأمره أن يحسن إليها وأن يترجل كل يوم

    Dari Abu Qotadah, ia berkata : “dahulu ia memiliki rambut yang lebat, lalu ia bertanya kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam, kemudian beliau memerintahkannya untuk mengurus rambutnya dengan baik dan menyisirnya setiap hari.” [HR. an-Nasa’i (5237)]

    Akan tetapi hadits ini didho’ifkan oleh al-Albani dalam penjelasan ash-Shohihah no. 2252 karena adanya keterputusan sanad antara Muhammad bin al-Munkadir dengan Abu Qotadah.

    Ibnu Abdil Barr berkata dalam al-Istidzkar (8/436) menjama’ antara hadits-hadits tersebut :
    وهذا يحتمل أن يكون في من شعره سبط لا يحتاج أن يرجله في كل وقت وأما المشعث السمج فلا والله أعلم
    “Ini (larangan menyisir tiap hari, pent) mengandung kemungkinan berlaku bagi orang yang rambutnya tebal yang tidak membutuhkan untuk menyisirnya setiap saat, dan adapun orang yang rambutnya acak-acakkan dan kasar, maka tidak termasuk (yang dilarang, pent) Wallohu A’lam.”

    Ibnul Qoyyim berkata (dinukil dari Aunul Ma’bud) :
    وَالصَّوَاب : أَنَّهُ لَا تَعَارُض بَيْنهمَا بِحَالٍ ، فَإِنَّ الْعَبْد مَأْمُور بِإِكْرَامِ شَعْره ، وَمَنْهِيّ عَنْ الْمُبَالَغَة وَالزِّيَادَة فِي الرَّفَاهِيَة وَالتَّنَعُّم ، فَيُكْرِم شَعْره ، وَلَا يَتَّخِذ الرَّفَاهِيَة وَالتَّنَعُّم دَيْدَنه ، بَلْ يَتَرَجَّل غِبًّا . هَذَا أَوْلَى مَا حُمِلَ عَلَيْهِ الْحَدِيثَانِ ، وَبِاَللَّهِ التَّوْفِيق .
    “Dan yang benar: bahwa tidak ada pertentangan antara 2 hadits ini, sesungguhnya seorang hamba diperintahkan untuk memuliakan rambutnya dan dilarang dari berlebihan dan menambah-nambahi dalam kemewahan dan benikmat-nikmat, maka ia memuliakan rambutnya dan tidak menjadikan bermewah-mewah dan bernikmat-nikmat sebagai kebiasaannya, bahkan ia menyisir secara ghibban (melakukan sehari dan meninggalkan sehari, pent). Ini lebih utama dari makna yang dikandung oleh kedua hadits tersebut, wa Billahit Taufiiq.”

    Ibn Hajar dalam al-Fath :
    وَأَمَّا حَدِيث النَّهْي عَنْ التَّرَجُّل إِلَّا غِبًّا يَعْنِي الْحَدِيث الَّذِي أَشَرْت إِلَيْهِ قَرِيبًا فَالْمُرَاد بِهِ تَرْك الْمُبَالَغَة فِي التَّرَفُّه وَقَدْ رَوَى أَبُو أُمَامَةَ بْن ثَعْلَبَة رَفَعَهُ ” الْبَذَاذَة مِنْ الْإِيمَان ” ا ه . وَهُوَ حَدِيث صَحِيح أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ ، وَالْبَذَاذَة بِمُوَحَّدَةٍ وَمُعْجَمَتَيْنِ رَثَاثَة الْهَيْئَة ، وَالْمُرَاد بِهَا هُنَا تَرْك التَّرَفُّه وَالتَّنَطُّع فِي اللِّبَاس وَالتَّوَاضُع فِيهِ مَعَ الْقُدْرَة لَا بِسَبَبِ جَحْد نِعْمَة اللَّه تَعَالَى .
    “Dan adapun hadits yang melarang dari menyisir kecuali ghibban, yakni hadits yang telah aku isyaratkan barusan, maka maksudnya adalah meninggalkan berlebih-lebihan dalam bermewah-mewah, Abu Umamah bin Tsa’labah telah meriwayatkan secara marfu’ “al-Badzadzah adalah bagian dari iman”, dan ini adalah hadits shohih diriwayatkan oleh Abu Dawud. Dan ‘al-Badzadzah’ dengan muwahhadah dan mu’jamatain adalah ‘penampilan yang usang’, maksudnya di sini adalah meninggalkan kemewahan dan berlebihan dalam masalah pakaian, dan tawadhu’ dalam masalah tersebut dengan adanya kemampuan, bukan dengan sebab mengingkari nikmat Alloh Ta’ala.”

    Dan hadits (الْبَذَاذَة مِنْ الْإِيمَان) “penampilan yang usang adalah bagian dari iman” ini juga dishohihkan oleh al-Albani dalam ash-Shohihah no. 341.

    Al-Adzim al-Abadi berkata dalam Aunul Ma’bud :
    وَفَسَّرَهُ الْإِمَام أَحْمَد بِأَنْ يُسَرِّحهُ يَوْمًا وَيَدَعهُ يَوْمًا ، وَتَبِعَهُ غَيْره
    “Dan al-Imam Ahmad menafsirkan hadits ini (hadits yg melarang menyisir setiap hari, pent) dengan merapihkannya sehari dan meninggalkannya sehari, dan ‘ulama yang lain mengikuti pendapatnya.”

  4. Ada tambahan faidah dari kitabnya asy-Syaikh Muqbil bin Hadi “al-Jami’ ash-Shohih mimma Laisa Fii ash-Shohihain” (hal. 272 – 273), beliau membuat judul : “Karohiyatul Imtisyath Kulla Yaum” (Makruhnya Menyisir Setiap Hari), beliau membawakan hadits –ana ringkas-:

    Rosululloh shollallohu alaihi wa ala aalihi wa sallam bersabda :
    ….وَلَا يَمْتَشِطُ فِي كُلِّ يَوْمٍ
    ” ….dan janganlah seseorang menyisir setiap hari” [HR. Ahmad 4/110]

    Dalam jalan hadits yang lain :
    نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَمْتَشِطَ أَحَدُنَا كُلَّ يَوْمٍ ….
    “Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam melarang salah seorang di antara kami menyisir setiap hari…”

    Dan asy-Syaikh Muqbil menshohihkan hadits ini, lihat “al-Jami’ ash-Shohih mimma Laisa Fii ash-Shohihain” (hal. 272 – 273).

  5. Assalamu’alaikum.

    Terhadap larangan ini, apabila karena tidak membersihkan rambut (termasuk menyisir) menyebabkan penyakit di kepala (misalnya gatal, dan bau) apakah tetap tidak boleh?
    Ana hanya mengingat suatu dalil bahwa Islam mencintai keindahan, Allah menyukai keindahan karena Allah itu sendiri indah (seperti pada bacaan sholat saat posisi tahiyat akhir). Nah apabila memang laki-laki tidak boleh menyisir karena mengiginkan keindahan sebagai bentuk amal menyenangkan istri dan karena mengamalkan dalil tadi (bahwa Islam mencintai keindahan), maka keduanya akan bertentangan dengan larangan tidak boleh menyisir ini.
    Dan ana juga mohon penjelasan, bagaimana posisi dalil tentang menyisir rambut tiap hari ini dibandingkan dengan dalil bahwa Rasulullah senang mewarnai rambutnya.
    Jazzakallah.

    Wassalamu’alaikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: