Minum sambil berdiri

 

الشراب قائماً

Minum sambil berdiri

Oleh: asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rohimahulloh

 

Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

 

لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا.

 

“Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri.” [Lihat ash-Shohihah no. 175]

 

Dan sungguh hadits ini telah diriwayatkan dengan lafadz yang lain, yaitu :

 

لَوْ يَعْلَمُ الَّذِي يَشْرَبُ وَهُوَ قَائِمٌ مَا فِي بَطْنِهِ لَاسْتَقَاءَهُ.

 

“Seandainya orang yang minum sambil berdiri mengetahui apa yang ada dalam perutnya sungguh ia akan memuntahkan.” [Lihat ash-Shohihah no. 176]

 

Dalam hadits tersebut terdapat sindiran yang halus tentang larangan minum sambil berdiri, dan sungguh telah datang penegasan tentang hal tersebut dari hadits Anas rodhiyallohu anhu, yaitu :

 

نَهَى [ وفي لفظ زَجَرَ ] عَنْ الشُّرْبِ قَائِمًا.

 

“Nabi shollallohu alaihi wa sallam melarang (نَهَى) (dan dalam suatu lafadz: (زَجَرَ) mencela) dari minum sambil berdiri.” [Lihat ash-Shohihah no. 177]

Dhohir larangan dari hadits-hadits ini menunjukkan keharoman minum sambil berdiri tanpa udzur. Dan sungguh telah datang dalam hadits-hadits yang banyak bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam minum sambil berdiri, para ulama telah berbeda pendapat dalam menggabungkan antara keduanya. Jumhur ulama berpendapat bahwa larangan tersebut bermakna tanzih (makruh tanzih, pent) dan perintah untuk memuntahkan adalah mustahab. Dan Ibnu Hazm menyelisihi mereka, ia berpendapat tentang haromnya. Dan mungkin inilah yang lebih dekat kepada kebenaran, karena sesungguhnya pendapat yang mengatakan tanzih tidak didukung dengan lafadz “mencela” (زجر) dan tidak pula perintah untuk memuntahkan. Karena ia –maksudku : memuntahkan- padanya terdapat kesulitan yang berat bagi seseorang, dan aku tidak mengetahui bahwa dalam syari’at ada pembebanan seperti ini bagi orang yang bermudah-mudah (tasaahul) dengan perkara yang mustahab. Demikian pula sabdanya :

 

قد شرب معك الشيطان

 

“Setan telah minum bersamamu.”

 

Pada hadits ini terdapat penjauhan yang keras dari minum sambil berdiri, dan tidaklah peringatan seperti itu dikatakan dalam meninggalkan sesuatu yang mustahab.

 

Dan hadits-hadits tentang minum sambil berdiri mungkin untuk dibawa pada kondisi udzur seperti sempitnya tempat atau keadaan tempat airnya yang menggantung, dan dalam sebagian hadits terdapat isyarat tentang hal tersebut. Wallohu a’lam.

 

Kemudian aku melihat suatu perkataan yang bagus yang mirip dengan ini oleh Ibnu Taimiyyah, rujuklah dalam Al-Majmu’.

 

***

 

[Diterjemahkan dari Aunul Wadud li Taysiiri ma fi as-Silsilah ash-Shohihah minal Fawa’id war Rudud. Takhrij hadits ini selengkapnya lihat di as-Silsilah ash-Shohihah no. 116, 117 & 118]

 

4 Tanggapan

  1. Assalamu’alaykum Warahamatullahi Wabarakaatuhu
    Seorang ikhwan pernah bercerita kepada ana, bahwa seorang ustadz pada waktu kajian rutin berkata bahwa ada hadist shahih yang isinya makan sambil berdiri pernah dilakukan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Oleh sebab itu banyak mahasiswa Universitas Madinah, kalo makan sambil berdiri malah ada yg sambil berjalan. Namun sayangnya ikhwan tersebut tidak hafal siapa perawinya. Apakah hadist tersebut shahih?Apakah dapat dijadikan hujjah kalo seandainya berderajat shahih?? Jazakallahu khair
    Wassalamu’alaykum Warahamatullahi Wabarakaatuhu

    wa’alaikumussalaam wa rohmatulloh wa barokatuh,

    Allohu A’lam, Mungkin saja shohih dan mungkin juga dho’if, ana belum baca haditsnya, nanti ana cari…
    Seandainya shohih berarti terjadi ta’arudh(pertentangan, yakni menurut akal kita yang terbatas dalam memahami dalil) antara dalil-dalil yang membolehkan dan yang melarang, maka ditempuh cara untuk mengkompromikan dalil-dalil, bisa dijama’ atau tarjih, atau naskh… (tentang ta’arudh insyaAlloh akan kami bawakan terjemahannya dari al-Ushul min Ilmil Ushul, tapi nanti… sudah diterjemahkan tapi belum sempat ana edit)
    Dan ana pernah mendengar di Silsilatul Huda wan Nur bahwa asy-Syaikh al-Albani membedakan antara hukum makan sambil berdiri dengan makan sambil jalan, tapi ana lupa nomornya. Barokallohu fiik.

  2. Masalah ini khilafnya panjang, ana nukilkan sebagian dalil-dalilnya beserta pendapat & istimbath para ‘ulama, silahkan ditarjih sendiri… (& diterjemahkan sendiri…)

    Bagi ikhwah yang punya al-Maktabah asy-Syamilah bisa nyari sendiri dgn lebih lengkap, kata kuncinya : (الشرب) dan (قائما).

    Berikut ini hadits-hadits tentang minum sambil berdiri (ana nukil dari Nailul Author) :

    Yang melarang minum sambil berdiri:
    ( وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الشُّرْبِ قَائِمًا } . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ ) .

    ( وَعَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَجَرَ عَنْ الشُّرْبِ قَائِمًا ، قَالَ قَتَادَةُ : فَقُلْنَا فَالْأَكْلُ ؟ قَالَ : ذَاكَ شَرٌّ وَأَخْبَثُ } رَوَاهُ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ وَالتِّرْمِذِيُّ ) .

    ( وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا فَمَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ ) .

    Yang menyatakan bahwa Rosululloh pernah minum sambil berdiri:
    ( وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : { شَرِبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا مِنْ زَمْزَمَ .} مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ ) .

    ( وَعَنْ الْإِمَامِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ فِي رَحْبَةِ الْكُوفَةِ شَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ ، قَالَ : { إنَّ نَاسًا يَكْرَهُونَ الشُّرْبَ قَائِمًا ، وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُ } . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبُخَارِيُّ ) .

    ( وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : { كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَمْشِي وَنَشْرَبُ وَنَحْنُ قِيَامٌ } . وَرَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ وَالتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ ) .

    Sebenarnya masih banyak dalil-dalil lainnya tentang masalah ini, bisa dilihat di : Shohih al-Bukhori, Shohih Muslim, al-Muwaththo’, Musnad Ahmad, Sunan Abi Dawud, Jami’ at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa’i, Sunan Ibni Majah, Mushonnaf Ibni Abi Syaibah, Mushonnaf Abdirrozzaq, as-Sunan al-Kubro lil Baihaqi, Musykilul Atsar, Mu’jam al-Kubro, Sunan ad-Darimi, Shohih Ibni Hibban, Musnad Abi Ya’la, Mustakhroj Abi Awwanah, dan… dan… ila akhirihi….

    Sebagiannya akan disebutkan dalam penukilan pendapat para ‘ulama di bawah ini, tapi intinya kembali kepada dalil-dalil di atas.

    Al-Imam asy-Syaukani membawakan istimbath para ‘ulama dalam kitabnya Nailul Author ():
    ظَاهِرُ النَّهْيِ فِي حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ الشُّرْبَ مِنْ قِيَامٍ حَرَامٌ وَلَا سِيَّمَا بَعْدَ قَوْلِهِ : ” فَمَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ ” فَإِنَّهُ يَدُلُّ عَلَى التَّشْدِيدِ فِي الْمَنْعِ وَالْمُبَالَغَةِ فِي التَّحْرِيمِ ، وَلَكِنْ حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ وَحَدِيثُ عَلِيٍّ يَدُلَّانِ عَلَى جَوَازِ ذَلِكَ .
    وَفِي الْبَابِ أَحَادِيثُ غَيْرُ مَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ مِنْهَا مَا أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ بِلَفْظٍ { لَوْ يَعْلَمُ الَّذِي يَشْرَبُ وَهُوَ قَائِمٌ لَاسْتَقَاءَ } وَلِأَحْمَدَ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ { أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلَا يَشْرَبُ قَائِمًا فَقَالَ : قِهْ ، قَالَ : لِمَهْ ، قَالَ : أَيَسُرُّكَ أَنْ يَشْرَبَ مَعَك الْهِرُّ ؟ قَالَ : لَا ، قَالَ : قَدْ شَرِبَ مَعَك مَنْ هُوَ شَرٌّ مِنْهُ الشَّيْطَانُ } وَهُوَ مِنْ رِوَايَةِ شُعْبَةَ عَنْ أَبِي زِيَادٍ الطَّحَّانِ مَوْلَى الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَأَبُو زِيَادٍ لَا يَعْرِفُ اسْمَهُ .
    وَقَدْ وَثَّقَهُ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ .
    وَمِنْهَا عِنْدَ مُسْلِمٍ عَنْ أَنَسٍ { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَجَرَ عَنْ الشُّرْبِ قَائِمًا } قَالَ الْمَازِرِيُّ : اخْتَلَفَ النَّاسُ فِي هَذَا ، فَذَهَبَ الْجُمْهُورُ إلَى الْجَوَازِ وَكَرِهَهُ قَوْمٌ ، فَقَالَ بَعْضُ شُيُوخِنَا : لَعَلَّ النَّهْيَ مُنْصَرِفٌ إلَى مَنْ أَتَى أَصْحَابَهُ بِمَاءٍ فَبَادَرَ بِشُرْبِهِ قَائِمًا قَبْلَهُمْ اسْتِبْدَادًا بِهِ وَخُرُوجًا عَنْ كَوْنِ سَاقِي الْقَوْمِ آخِرُهُمْ شُرْبًا .
    قَالَ : وَأَيْضًا فَإِنَّ الْحَدِيثَ تَضَمَّنَ الْمَنْعَ مِنْ الْأَكْلِ قَائِمًا ، وَلَا خِلَافَ فِي جَوَازِ الْأَكْلِ قَائِمًا ، قَالَ : وَاَلَّذِي يَظْهَرُ لِي أَنَّ أَحَادِيثَ شُرْبِهِ قَائِمًا تَدُلُّ عَلَى الْجَوَازِ ، وَأَحَادِيثُ النَّهْيِ تُحْمَلُ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ وَالْحَثِّ عَلَى مَا هُوَ أَوْلَى وَأَكْمَلُ .
    قَالَ : وَيُحْمَلُ الْأَمْرُ بِالْقَيْءِ عَلَى أَنَّ الشُّرْبَ قَائِمًا يُحَرِّكُ خَلْطًا يَكُونُ الْقَيْءُ دَوَاءَهُ ، وَيُؤَيِّدُهُ قَوْلُ النَّخَعِيّ : إنَّمَا نَهَى عَنْ ذَلِكَ لِدَاءِ الْبَطْنِ .
    وَقَدْ تَكَلَّمَ عِيَاضٌ عَلَى أَحَادِيثِ النَّهْيِ وَقَالَ : إنَّ مُسْلِمًا أَخْرَجَ حَدِيثَ أَبِي سَعِيدٍ وَحَدِيثَ أَنَسٍ مِنْ طَرِيقِ قَتَادَةَ ، وَكَانَ شُعْبَةُ يَتَّقِي مِنْ حَدِيثِ قَتَادَةَ مَا لَا يُصَرِّحُ فِيهِ بِالتَّحْدِيثِ .
    قَالَ : وَاضْطِرَابُ قَتَادَةَ فِيهِ مِمَّا يُعِلُّهُ مَعَ مُخَالِفَةِ الْأَحَادِيثِ الْأُخْرَى وَالْأَئِمَّةِ لَهُ .
    وَأَمَّا حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ فَفِي سَنَدِهِ عُمَرُ بْنُ حَمْزَةَ ، وَلَا يُتَحَمَّلُ مِنْهُ مِثْلُ هَذِهِ الْمُخَالَفَةِ غَيْرُهُ لَهُ ، وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ .
    انْتَهَى مُلَخَّصًا .
    قَالَ النَّوَوِيُّ مَا مُلَخَّصُهُ : هَذِهِ الْأَحَادِيثُ أُشْكِلَ مَعْنَاهَا عَلَى بَعْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى قَالَ فِيهَا أَقْوَالًا بَاطِلَةً ، وَزَادَ حَتَّى تَجَاسَرَ وَرَامَ أَنْ يُضَعِّفَ بَعْضَهَا وَلَا وَجْهَ لِإِشَاعَةِ الْغَلَطَاتِ بَلْ يَذْكُرُ الصَّوَابَ وَيُشَارُ إلَى التَّحْذِيرِ عَنْ الْغَلَطِ ، وَلَيْسَ فِي الْأَحَادِيثِ إشْكَالٌ وَلَا فِيهَا ضَعْفٌ ، بَلْ الصَّوَابُ أَنَّ النَّهْيَ فِيهَا مَحْمُولٌ عَلَى التَّنْزِيهِ وَشُرْبُهُ قَائِمًا لِبَيَانِ الْجَوَازِ .
    وَأَمَّا مَنْ زَعَمَ نَسْخًا أَوْ غَيْرَهُ فَقَدْ غَلَطَ فَإِنَّ النَّسْخَ لَا يُصَارُ إلَيْهِ مَعَ إمْكَانِ الْجَمْعِ لَوْ ثَبَتَ التَّارِيخُ ، وَفِعْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِبَيَانِ الْجَوَازِ لَا يَكُونُ فِي حَقِّهِ مَكْرُوهًا أَصْلًا فَإِنَّهُ كَانَ يَفْعَلُ الشَّيْءَ لِلْبَيَانِ مَرَّةً أَوْ مَرَّاتٍ وَيُوَاظِبُ عَلَى الْأَفْضَلِ ، وَالْأَمْرُ بِالِاسْتِقَاءِ مَحْمُولٌ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ فَيُسْتَحَبُّ لِمَنْ يَشْرَبُ قَائِمًا أَنْ يَسْتَقِئَ لِهَذَا الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ ، فَإِنَّ الْأَمْرَ إذَا تَعَذَّرَ حَمْلُهُ عَلَى الْوُجُوبِ يُحْمَلُ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ .
    وَأَمَّا قَوْلُ عِيَاضٍ : لَا خِلَافَ بَيْنَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ مَنْ شَرِبَ قَائِمًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَنْ يَتَقَيَّأَ ، وَأَشَارَ بِهِ إلَى تَضْعِيفِ الْحَدِيثِ فَلَا يَلْتَفِتُ إلَى إشَارَتِهِ ، وَكَوْنُ أَهْلِ الْعِلْمِ لَمْ يُوجِبُوا الِاسْتِقَاءَ لَا يَمْنَعُ مِنْ الِاسْتِحْبَابِ ، فَمَنْ ادَّعَى مَنْعَ الِاسْتِحْبَابِ بِالْإِجْمَاعِ فَهُوَ مُجَازِفٌ ، وَكَيْفَ تُتْرَكُ السُّنَّةُ الصَّحِيحَةُ بِالتَّوَهُّمَاتِ وَالدَّعَاوَى وَالتُّرَّهَاتِ .
    قَالَ الْحَافِظُ : لَيْسَ فِي كَلَامِ عِيَاضٍ التَّعَرُّضُ لَلِاسْتِحْبَابِ أَصْلًا ، بَلْ وَنَقْلُ الِاتِّفَاقِ الْمَذْكُورِ إنَّمَا هُوَ فِي كَلَامِ الْمَازِرِيِّ كَمَا مَضَى .
    وَأَمَّا تَضْعِيفُ عِيَاضٍ لِلْأَحَادِيثِ فَلَمْ يَتَشَاغَلْ النَّوَوِيُّ بِالْجَوَابِ عَنْهُ .
    قَالَ : فَأَمَّا إشَارَتُهُ إلَى تَضْعِيفِ حَدِيثِ أَنَسٍ بِكَوْنِ قَتَادَةَ مُدَلِّسًا فَيُجَابُ عَنْهُ بِأَنَّهُ صَرَّحَ فِي نَفْسِ هَذَا الْحَدِيثِ بِمَا يَقْتَضِي السَّمَاعَ فَإِنَّهُ قَالَ : قُلْنَا لِأَنَسٍ : ” فَالْأَكْلُ .
    .
    .
    إلَخْ ” وَأَمَّا تَضْعِيفُ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ بِأَنَّ أَبَا عَبَّاسٍ غَيْرُ مَشْهُورٍ فَهُوَ قَوْلٌ سَبَقَ إلَيْهِ ابْنُ الْمَدِينِيِّ لِأَنَّهُ لَمْ يَرْوِ عَنْهُ إلَّا قَتَادَةُ لَكِنْ وَثَّقَهُ الطَّبَرِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ ، وَدَعْوَاهُ اضْطِرَابَهُ مَرْدُودَةٌ ، فَقَدْ تَابَعَهُ الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ كَمَا رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ حِبَّانَ ، فَالْحَدِيثُ بِمَجْمُوعِ طُرُقِهِ صَحِيحٌ .
    قَالَ النَّوَوِيُّ وَالْعِرَاقِيُّ فِي شَرْحِ التِّرْمِذِيِّ : أَنَّ قَوْلَهُ ” فَمَنْ نَسِيَ ” لَا مَفْهُومَ لَهُ ، بَلْ يُسْتَحَبُّ ذَلِكَ لِلْعَامِدِ أَيْضًا بِطَرِيقِ الْأَوْلَى ، وَإِنَّمَا خَصَّ النَّاسِيَ بِالذِّكْرِ لِكَوْنِ الْمُؤْمِنِ لَا يَقَعُ ذَلِكَ مِنْهُ بَعْدَ النَّهْيِ غَالِبًا إلَّا نِسْيَانًا .
    قَالَ الْقُرْطُبِيُّ فِي الْمُفْهِمِ : لَمْ يَصِرْ أَحَدٌ إلَى أَنَّ النَّهْيَ فِيهِ لِلتَّحْرِيمِ وَإِنْ كَانَ الْقَوْلُ بِهِ جَارِيًا عَلَى أُصُولِ الظَّاهِرِيَّةِ .
    وَتُعُقِّبَ بِأَنَّ ابْنَ حَزْمٍ مِنْهُمْ جَزَمَ بِالتَّحْرِيمِ ، وَتَمَسَّكَ مَنْ لَمْ يَقُلْ بِالتَّحْرِيمِ بِالْأَحَادِيثِ الْمَذْكُورَةِ فِي الْبَابِ .
    وَفِي الْبَابِ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ .
    وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُنَيْسٌ أَخْرَجَهُ الطَّبَرَانِيُّ .
    وَعَنْ أَنَسٍ أَخْرَجَهُ الْبَزَّارُ وَالْأَثْرَمُ .
    وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ .
    وَعَنْ عَائِشَةَ أَخْرَجَهُ الْبَزَّارُ وَأَبُو عَلِيٍّ الطُّوسِيِّ فِي الْأَحْكَامِ .
    وَعَنْ أُمِّ سُلَيْمٍ أَخْرَجَهُ ابْنُ شَاهِينَ .
    وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ السَّائِبِ أَخْرَجَهُ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ ، وَثَبَتَ الشُّرْبُ قَائِمًا عَنْ عُمَرَ أَخْرَجَهُ الطَّبَرِيُّ .
    وَفِي الْمُوَطَّأِ أَنَّ عُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيًّا كَانُوا يَشْرَبُونَ قِيَامًا ، وَكَانَ سَعْدٌ وَعَائِشَةُ لَا يَرَيَانِ بِذَلِكَ بَأْسًا ، وَثَبَتَتْ الرُّخْصَةُ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ التَّابِعِينَ .
    وَسَلَكَ الْعُلَمَاءُ فِي ذَلِكَ مَسَالِكَ : أَحَدُهَا التَّرْجِيحُ ، وَأَنَّ أَحَادِيثَ الْجَوَازِ أَثْبَتُ مِنْ أَحَادِيثِ النَّهْيِ ، وَهَذِهِ طَرِيقَةُ أَبِي بَكْرٍ الْأَثْرَمِ فَقَالَ : حَدِيثُ أَنَسٍ يَعْنِي فِي النَّهْيِ جَيِّدُ الْإِسْنَادِ ، وَلَكِنْ قَدْ جَاءَ عَنْهُ خِلَافُهُ ، يَعْنِي فِي الْجَوَازِ ، قَالَ : وَلَا يَلْزَمُ مِنْ كَوْنِ الطَّرِيقِ إلَيْهِ فِي النَّهْيِ أَثْبَتَ مِنْ الطَّرِيقِ إلَيْهِ فِي الْجَوَازِ أَنْ لَا يَكُونَ الَّذِي يُقَابِلُهُ أَقْوَى ؛ لِأَنَّ الثَّبْتَ قَدْ يَرْوِي مَنْ هُوَ دُونَهُ الشَّيْءُ فَيَرْجَحُ عَلَيْهِ ، فَقَدْ رَجَحَ نَافِعٌ عَلَى سَالِمٍ فِي بَعْضِ الْأَحَادِيثِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ ، وَسَالِمٌ مُقَدَّمٌ عَلَى نَافِعٍ فِي التَّثَبُّتِ ، وَقُدِّمَ شَرِيكٌ عَلَى الثَّوْرِيِّ فِي حَدِيثَيْنِ وَسُفْيَانُ مُقَدَّمٌ عَلَيْهِ فِي جُمْلَةِ أَحَادِيثَ .
    وَيُرْوَى عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ : لَا بَأْسَ بِالشُّرْبِ قَائِمًا ، قَالَ : فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الرِّوَايَةَ عَنْهُ فِي النَّهْيِ لَيْسَتْ بِثَابِتَةٍ وَإِلَّا لَمَا قَالَ : لَا بَأْسَ بِهِ ، قَالَ : وَيَدُلُّ عَلَى وَهَانَةِ أَحَادِيثِ النَّهْيِ أَيْضًا اتِّفَاقُ الْعُلَمَاءِ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ عَلَى أَحَدٍ شَرِبَ أَنْ يَسْتَقِئَ.
    الْمَسْلَكُ الثَّانِي : دَعْوَى النَّسْخِ وَإِلَيْهَا جَنَحَ الْأَثْرَمُ وَابْنُ شَاهِينَ فَقَرَّرَا أَنَّ أَحَادِيثَ النَّهْيِ عَلَى تَقْدِيرِ ثُبُوتِهَا مَنْسُوخَةٌ بِأَحَادِيثِ الْجَوَازِ بِقَرِينَةِ عَمَلِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ وَمُعْظَمِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ بِالْجَوَازِ .
    وَقَدْ عَكَسَ ابْنُ حَزْمٍ فَادَّعَى نَسْخَ أَحَادِيثِ الْجَوَازِ بِأَحَادِيثِ النَّهْيِ مُتَمَسِّكًا بِأَنَّ الْجَوَازَ عَلَى وَفْقِ الْأَصْلِ ، وَأَحَادِيثُ النَّهْيِ مُقَرِّرَةٌ لِحُكْمِ الشَّرْعِ فَمَنْ ادَّعَى الْجَوَازَ بَعْدَ النَّهْيِ فَعَلَيْهِ الْبَيَانُ فَإِنَّ النَّسْخَ لَا يَثْبُتُ بِالِاحْتِمَالِ .
    وَأَجَابَ بَعْضُهُمْ بِأَنَّ أَحَادِيثَ الْجَوَازِ مُتَأَخِّرَةٌ لِمَا وَقَعَ مِنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حِجَّةِ الْوَدَاعِ كَمَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ فِي حَدِيثِ الْبَابِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ ، وَإِذَا كَانَ ذَلِكَ الْآخِرَ مِنْ فِعْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَلَّ عَلَى الْجَوَازِ وَيَتَأَيَّدُ بِفِعْلِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ .
    الْمَسْلَكُ الثَّالِثُ : الْجَمْعُ بَيْنَ الْأَخْبَارِ بِضَرْبٍ مِنْ التَّأْوِيلِ .
    قَالَ أَبُو الْفَرَجِ الثَّقَفِيُّ : الْمُرَادُ بِالْقِيَامِ هُنَا الْمَشْيُ ، يُقَالُ قُمْتُ فِي الْأَمْرِ : إذَا مَشَيْتُ فِيهِ ، وَقُمْتُ فِي حَاجَتِي : إذَا سَعَيْتُ فِيهَا وَقَضَيْتُهَا ، وَمِنْهُ قَوْله تَعَالَى : {إلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا} أَيْ مُوَاظِبًا بِالْمَشْيِ عَلَيْهِ .
    وَجَنَحَ الطَّحَاوِيُّ إلَى تَأْوِيلٍ آخَرَ وَهُوَ حَمْلُ النَّهْيِ عَلَى مَنْ لَمْ يُسَمِّ عِنْدَ شُرْبِهِ ، وَهَذَا إنْ سُلِّمَ لَهُ فِي بَعْضِ أَلْفَاظِ الْأَحَادِيثِ لَمْ يُسَلَّمْ لَهُ فِي بَقِيَّتِهَا ، وَسَلَكَ آخَرُونَ فِي الْجَمْعِ بِحَمْلِ أَحَادِيثِ النَّهْيِ عَلَى كَرَاهَةِ التَّنْزِيهِ وَأَحَادِيثِ الْجَوَازِ عَلَى بَيَانِهِ وَهِيَ طَرِيقَةُ الْخَطَّابِيِّ وَابْنِ بَطَّالٍ فِي آخَرِينَ .
    قَالَ الْحَافِظُ : وَهَذَا أَحْسَنُ الْمَسَالِكِ وَأَسْلَمُهَا وَأَبْعَدُهَا مِنْ الِاعْتِرَاضِ .
    وَقَدْ أَشَارَ الْأَثْرَمُ إلَى ذَلِكَ آخِرًا .
    فَقَالَ : إنْ ثَبَتَتْ الْكَرَاهَةُ حُمِلَتْ عَلَى الْإِرْشَادِ وَالتَّأْدِيبِ لَا عَلَى التَّحْرِيمِ ، وَبِذَلِكَ جَزَمَ الطَّبَرِيُّ وَأَيَّدَهُ بِأَنَّهُ لَوْ كَانَ جَائِزًا ثُمَّ حَرَّمَهُ أَوْ كَانَ حَرَامًا ثُمَّ جَوَّزَهُ لَبَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ بَيَانًا وَاضِحًا ، فَلَمَّا تَعَارَضَتْ الْأَخْبَارُ فِي ذَلِكَ جَمَعْنَا بَيْنَهَا بِهَذَا .
    وَقِيلَ : إنَّ النَّهْيَ عَنْ ذَلِكَ إنَّمَا هُوَ مِنْ جِهَةِ الطِّبِّ مَخَافَةَ وُقُوعِ ضَرَرٍ بِهِ ، فَإِنَّ الشُّرْبَ قَاعِدًا أَمْكَنُ وَأَبْعَدُ مِنْ الشَّرَقِ وَحُصُولِ الْوَجَعِ فِي الْكَبِدِ أَوْ الْحَلْقِ ، وَكُلُّ ذَلِكَ قَدْ لَا يَأْمَنُ مِنْهُ مَنْ شَرِبَ قَائِمًا .
    قَوْلُهُ : ( شَرِبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا مِنْ زَمْزَمَ ) فِي رِوَايَةٍ لَابْنِ مَاجَهْ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنْ عَاصِمٍ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعِكْرِمَةَ فَحَلَفَ إنَّهُ مَا كَانَ حِينَئِذٍ إلَّا رَاكِبًا .
    وَعِنْدَ أَبِي دَاوُد مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَافَ عَلَى بَعِيرِهِ ثُمَّ أَنَاخَهُ بَعْدَ طَوَافِهِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ } فَلَعَلَّهُ حِينَئِذٍ شَرِبَ مِنْ زَمْزَمَ قَبْلَ أَنْ يَعُودَ إلَى بَعِيرِهِ وَيَخْرُجَ إلَى الصَّفَا ، بَلْ هَذَا هُوَ الَّذِي يَتَعَيَّنُ الْمَصِيرُ إلَيْهِ ؛ لِأَنَّ عُمْدَةَ عِكْرِمَةَ فِي إنْكَارِهِ كَوْنَهُ شَرِبَ قَائِمًا إنَّمَا هُوَ مَا ثَبَتَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَافَ عَلَى بَعِيرِهِ وَخَرَجَ إلَى الصَّفَا عَلَى بَعِيرِهِ وَسَعَى كَذَلِكَ ، لَكِنْ لَا بُدَّ مِنْ تَخَلُّلِ رَكْعَتَيْ الطَّوَافِ بَيْنَ ذَلِكَ ، وَقَدْ ثَبَتَ أَنَّهُ صَلَّاهُمَا عَلَى الْأَرْضِ فَمَا الْمَانِعُ مِنْ كَوْنِهِ شَرِبَ حِينَئِذٍ مِنْ سِقَايَةِ زَمْزَمَ قَائِمًا كَمَا حَفِظَهُ الشَّعْبِيُّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ ؟ قَوْلُهُ ( فِي رَحَبَةِ الْكُوفَةِ ) الرَّحْبَةُ بِفَتْحِ الرَّاءِ الْمُهْمَلَةِ وَفَتْحِ الْمُوَحَّدَةِ : الْمَكَانُ الْمُتَّسَعُ ، وَالرَّحْبُ : بِسُكُونِ الْمُهْمَلَةِ : الْمُتَّسَعُ أَيْضًا .
    قَالَ الْجَوْهَرِيُّ : وَمِنْهُ أَرْضٌ رَحْبَةٌ : أَيْ مُتَّسِعَةٌ ، وَرَحَبَةُ الْمَسْجِدِ بِالتَّحْرِيكِ : وَهِيَ سَاحَتُهُ .
    قَالَ ابْنُ التِّينِ : فَعَلَى هَذَا يُقْرَأُ الْحَدِيثُ بِالسُّكُونِ ، وَيُحْتَمَلُ أَنَّهَا صَارَتْ رَحْبَةَ الْكُوفَةِ بِمَنْزِلَةِ رَحْبَةِ الْمَسْجِدِ فَيُقْرَأُ بِالتَّحْرِيكِ وَهَذَا هُوَ الصَّحِيحُ قَوْلُهُ : ( صَنَعَ كَمَا صَنَعْتُ ) أَيْ مِنْ الشُّرْبِ قَائِمًا ، وَصَرَّحَ بِهِ الْإِسْمَاعِيلِيُّ فِي رِوَايَتِهِ فَقَالَ : شَرِبَ فَضْلَةَ وَضُوئِهِ قَائِمًا كَمَا شَرِبْتُ .

    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (32/209-210)
    وَأَمَّا ” الشُّرْبُ قَائِمًا ” فَقَدْ جَاءَتْ أَحَادِيثُ صَحِيحَةٌ بِالنَّهْيِ وَأَحَادِيثُ صَحِيحَةٌ بِالرُّخْصَةِ ؛ وَلِهَذَا تَنَازَعَ الْعُلَمَاءُ فِيهِ وَذُكِرَ فِيهِ رِوَايَتَانِ عَنْ أَحْمَد ؛ وَلَكِنَّ الْجَمْعَ بَيْنَ الْأَحَادِيثِ أَنْ تُحْمَلَ الرُّخْصَةُ عَلَى حَالِ الْعُذْرِ . فَأَحَادِيثُ النَّهْيِ مِثْلُهَا فِي الصَّحِيحِ ” { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الشُّرْبِ قَائِمًا } وَفِيهِ عَنْ قتادة عَنْ أَنَسٍ : { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَجَرَ عَنْ الشُّرْبِ قَائِمًا } قَالَ قتادة : فَقُلْنَا : الْأَكْلُ ؟ فَقَالَ : ذَاكَ شَرٌّ وَأَخْبَثُ . وَأَحَادِيثُ ” الرُّخْصَةِ ” مِثْلَ حَدِيثِ مَا فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ عَلِيٍّ وَابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : { شَرِبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا مِنْ زَمْزَمَ } وَفِي الْبُخَارِيِّ عَنْ عَلِيٍّ : أَنَّ عَلِيًّا فِي رَحْبَةِ الْكُوفَةِ شَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ . ثُمَّ قَالَ : إنَّ نَاسًا يَكْرَهُونَ الشُّرْبَ قَائِمًا وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَنَعَ كَمَا صَنَعْت . وَحَدِيثُ عَلِيٍّ هَذَا قَدْ رُوِيَ فِيهِ أَثَرٌ أَنَّهُ كَانَ ذَلِكَ مِنْ زَمْزَمَ كَمَا جَاءَ فِي حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ هَذَا كَانَ فِي الْحَجِّ وَالنَّاسُ هُنَاكَ يَطُوفُونَ وَيَشْرَبُونَ مِنْ زَمْزَمَ وَيَسْتَقُونَ وَيَسْأَلُونَهُ وَلَمْ يَكُنْ مَوْضِعَ قُعُودٍ مَعَ أَنَّ هَذَا كَانَ قَبْلَ مَوْتِهِ بِقَلِيلِ فَيَكُونُ هَذَا وَنَحْوُهُ مُسْتَثْنًى مِنْ ذَلِكَ النَّهْيِ وَهَذَا جَارٍ عَنْ أَحْوَالِ الشَّرِيعَةِ : أَنَّ الْمَنْهِيَّ عَنْهُ يُبَاحُ عِنْدَ الْحَاجَةِ ؛ بَلْ مَا هُوَ أَشَدُّ مِنْ هَذَا يُبَاحُ عِنْدَ الْحَاجَةِ ؛ بَلْ الْمُحَرَّمَاتُ الَّتِي حُرِّمَ أَكْلُهَا وَشُرْبُهَا كَالْمَيْتَةِ وَالدَّمِ تُبَاحُ لِلضَّرُورَةِ . وَأَمَّا مَا حُرِّمَ مُبَاشَرَتُهُ طَاهِرًا – كَالذَّهَبِ وَالْحَرِيرِ – فَيُبَاحُ لِلْحَاجَةِ وَهَذَا النَّهْيُ عَنْ صِفَةٍ فِي الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ : فَهَذَا دُونَ النَّهْيِ عَنْ الشُّرْبِ فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَعَنْ لِبَاسِ الذَّهَبِ وَالْحَرِيرِ ؛ إذْ ذَاكَ قَدْ جَاءَ فِيهِ وَعِيدٌ وَمَعَ هَذَا فَهُوَ مُبَاحٌ لِلْحَاجَةِ : فَهَذَا أَوْلَى . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ .

    Masih dalam Majmu’ Fatawa (32/211):
    وَسُئِلَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ قَائِمًا : هَلْ هُوَ حَلَالٌ ؟ أَمْ حَرَامٌ ؟ أَمْ مَكْرُوهٌ كَرَاهِيَةَ تَنْزِيهٍ ؟ وَهَلْ يَجُوزُ الْأَكْلُ وَالشُّرْبُ إذَا كَانَ لَهُ عُذْرٌ كَالْمُسَافِرِ أَوْ الْأَكْلُ وَالشُّرْبُ فِي الطَّرِيقِ مَاشِيًا ؟
    الْجَوَابُ
    فَأَجَابَ : أَمَّا مَعَ الْعُذْرِ فَلَا بَأْسَ : فَقَدْ ثَبَتَ { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرِبَ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ وَهُوَ قَائِمٌ } فَإِنَّ الْمَوْضِعَ لَمْ يَكُنْ مَوْضِعَ قُعُودٍ وَأَمَّا مَعَ عَدَمِ الْحَاجَةِ فَيُكْرَهُ ؛ لِأَنَّهُ ثَبَتَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْهُ . وَبِهَذَا التَّفْصِيلِ يَحْصُلُ الْجَمْعُ بَيْنَ النُّصُوصِ . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ .

    Berkata al-Imam Ibnu Qoyyim dalam Zaadul Ma’ad (1/142):
    وكان أكثر شربه قاعدا بل زجر عن الشرب قائما وشرب مرة قائما فقيل : هذا نسخ لنهيه وقيل : بل فعله لبيان جواز الأمرين والذي يظهر فيه – والله أعلم – أنها واقعة عين شرب فيها قائما لعذر وسياق القصة يدل عليه فإنه أتى زمزم وهم يستقون منها فأخذ الدلو وشرب قائما
    والصحيح في هذه المسألة : النهي عن الشرب قائما وجوازه لعذر يمنع من القعود وبهذا تجمع أحاديث الباب والله أعلم

    Beliau juga berkata [Zaadul Ma’ad (4/209)]:
    وكان من هديه الشرب قاعدا هذا كان هديه المعتاد وصح عنه أنه عن الشرب قائما وصح عنه أنه أمر الذي شرب قائما أن يستقيء وصح عنه أنه شرب قائما
    قالت طائفة : هذا ناسخ للنهي وقالت طائفة : بل مبين أن النهي ليس للتحريم بل للإرشاد وترك الأولى وقالت طائفة : لا تعارض بينهما أصلا فإنه إنما شرب قائما للحاجة فإنه جاء إلى زمزم وهم يستقون منها فاستقى فناولوه الدلو فشرب وهو قائم وهذا كان موضع حاجة
    وللشرب قائما آفات عديدة منها : أنه لا يحصل به الري التام ولا يستقر في المعدة حى يقسمه الكبد على الاعضاء وينزل بسرعة وحدة إلى المعدة فيخشى منه أن يبرد حرارتها ويشوشها ويسرع النفوذ إلى أسفل البدن بغير تدريج وكل هذا يضر بالشارب وأما إذا فعله نادرا أو لحاجة لم يضره ولا يعترض بالعوائد على هذا فإن العوائد طبائع ثوان ولها أحكام أخرى وهي بمنزلة الخارج عن القياس عند الفقهاء

    Beliau juga berkata [Hasyiyah Ibnil Qoyyim (10/129)]:
    وقد خرج مسلم في صحيحه عن أبي سعيد الخدري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم زجر عن الشرب قائما
    وفيه أيضا عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لا يشربن أحد منكم قائما فمن نسي فليستقيء
    وفي الصحيحين عن ابن عباس قال سقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم من زمزم فشرب وهو قائم
    وفي لفظ آخر فحلف عكرمة ما كان يومئذ إلا على بعير
    فاختلف في هذه الأحاديث فقوم سلكوا بها مسلك النسخ وقالوا آخر الأمرين من رسول الله صلى الله عليه وسلم الشرب قائما كما شرب في حجة الوداع
    وقالت طائفة في ثبوت النسخ بذلك نظر فإن النبي صلى الله عليه وسلم لعله شرب قائما لعذر وقد حلف عكرمة أنه كان حينئذ راكبا وحديث علي قصة عين فلا عموم لها
    وقد روى الترمذي عن عبد الرحمن بن أبي عمرة عن جدته كبشة قالت دخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم وفي البيت قربة معلقة فشرب قائما فقمت إلى فيها فقطعته
    وقال الترمذي حديث صحيح
    وأخرجه ابن ماجه
    وروى أحمد في مسنده عن أم سليم قالت دخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم وفي البيت قربة معلقة فشرب منها وهو قائم فقطعت فاها فإنه لعندي
    فدلت هذه الوقائع على أن الشرب منها قائما كان لحاجة لكون القربة معلقة وكذلك شربه من زمزم أيضا لعله لم يتمكن من القعود ولضيق الموضع أو لزحام وغيره
    وبالجملة فالنسخ لا يثبت بمثل ذلك
    وأما حديث ابن عمر كنا على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم نأكل ونحن نمشي ونشرب ونحن قيام رواه الإمام أحمد وابن ماجه والترمذي وصححه فلا يدل أيضا على النسخ إلا بعد ثلاثة أمور مقاومته لأحاديث النهي في الصحة وبلوغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم وتأخره عن أحاديث النهي وبعد ذلك فهو حكاية فعل لا عموم لها فإثبات النسخ بهذا عسير والله أعلم

    Sejauh ini kami masih lebih condong kepada pendapat yang dipilih Anas bin Malik, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim, Al-Albani, dll.

    Istimbathnya sebagaimana perkataan asy-Syaikh al-Albani:

    “…karena sesungguhnya pendapat yang mengatakan tanzih tidak didukung dengan lafadz “mencela” (زجر) dan tidak pula perintah untuk memuntahkan. Karena ia –maksudku : memuntahkan- padanya terdapat kesulitan yang berat bagi seseorang, dan aku tidak mengetahui bahwa dalam syari’at ada pembebanan seperti ini bagi orang yang bermudah-mudah (tasaahul) dengan perkara yang mustahab. Demikian pula sabdanya :

    قد شرب معك الشيطان

    “Setan telah minum bersamamu.”

    Pada hadits ini terdapat penjauhan yang keras dari minum sambil berdiri, dan tidaklah peringatan seperti itu dikatakan dalam meninggalkan sesuatu yang mustahab.

    Dan hadits-hadits tentang minum sambil berdiri mungkin untuk dibawa pada kondisi udzur seperti sempitnya tempat atau keadaan tempat airnya yang menggantung, dan dalam sebagian hadits terdapat isyarat tentang hal tersebut. Wallohu a’lam.” –selesai nukilan-

    Dengarkan juga penjelasannya dan munaqosyah asy-Syaikh al-Albani dengar beberapa ikhwah tentang masalah minum sambil berdiri dalam Silsilatul Huda wan Nur kaset no/judul pertanyaan:
    11a (كلمة من الشيخ في أهمية المحافظة على الأذكار الشرعية مع بيانه حكم الشرب قائماً)
    11a (ما جوابكم عن أثر ابن عمر ( كنا نأكل ونشرب ونحن قيام ) ؟)
    133 (هل صحيح اعتقاد أن من السنة شرب ماء زمزم قائماً . والكلام على رسالة ( بكر أبو زيد ) في كيفية النهوض .؟)
    258 (هل يحرم الشرب قائماً والأكل والبول قائماً ؟)
    267 (مناقشة في حديث علي بن أبي طالب رضي الله عنه في الشرب قائماً ، و هل الأكل قائماً له حكم الشرب قائماً ؟)
    371 (الكلام على مسألتي الشرب قائماً وكشف الفخذ على ضوء قاعدة تعارض القول مع الفعل .)
    392 (كيف نوفق بين نهيه صلى الله عليه وسلم عن الشرب قائماً ، وما ثبت من فعله أنه شرب قائماً .؟)
    405 (ما حكم الشرب واقفاً ؟)
    542 (تتمة الكلام حول مسألة تعارض القول مع الفعل والتمثيل لها بمسألة الشرب قائماً .)
    688 (ما حكم الشرب قائماً ؟)
    822 (بعض العلماء جعل شرب النبي صلى الله عليه وسلم قائما من خصوصياته بدعوى أن القرين الذي كان مع النبي صلى الله عليه وسلم أسلم فما الدليل على أن القرين هو نفسه الشيطان .؟)
    822 (بدايةالشريط 267 مواصلة الشيخ حول حديث الشرب قائما .)
    768 (حكم الأكل والشرب قائما)

    Dan dalam Fatawa Jeddah kaset no. 26a (حكم الشرب والأكل قائما).

    Kalo antum belum punya CD/DVD Silsilatul Huda wan Nur, mungkin file rekamannya bisa dicari di http://www.alalbany.net/, atau beli aja CD/DVD-nya, atau ngopi ke yg punya…

    Wallohu A’lam.

    tambahan:
    tentang ta’arudh klik di sini:
    https://tholib.wordpress.com/2007/06/21/taarudh-%d8%a7%d9%84%d8%aa%d8%b9%d8%a7%d8%b1%d8%b6/

  3. salam

    subhanallah islam memang agama yang sudah mengatur tatacara kehidupan dengan sangat baik sekali…

    syukran…

    salam

  4. InsyaAllah artikel ini lebih jelas dan matang karena mengumpulkan dari kedua buah sisi dalil yang melarang dan membolehkan.

    http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/adab-adab-makan-seorang-muslim-6.html

    Wallahu musta’an

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: