MACAM-MACAM AN-NASKH

 

[Lanjutan dari bab an-Naskh]

MACAM-MACAM AN-NASKH :

Naskh ditinjau dari nash yang mansukh terbagi menjadi tiga macam :

  1. Apa yang di-naskh hukumnya dan tertinggal lafadznya, dan ini banyak dalam Al-Qur’an.

Contohnya : dua ayat Al-Mushobaroh yakni firman Alloh ta’ala :

إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ

“Jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh.” [QS. Al-Anfal : 65]

Hukumnya di-naskh dengan firman Alloh ta’ala :

الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفاً فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir. Dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. [QS. Al-Anfal : 66]

Dan hikmah di-naskhnya hukum tanpa lafadznya adalah tetap adanya pahala membacanya dan mengingatkan ummat tentang hikmah naskh tersebut.

  1. Apa yang di-naskh lafadznya dan hukumnya tetap berlaku seperti ayat rajam, dan telah shohih dalam “Ash-Shohihain” dari hadits Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma dari Umar bin Al-Khoththob rodhiyallohu anhu, ia berkata :

كان فيما أنزل الله آية الرجم، فقرأناها وعقلناها ووعيناها ورجم رسول الله صلّى الله عليه وسلّم ورجمنا بعده، فأخشى إن طال بالناس زمان أن يقول قائل: والله ما نجد الرجم في كتاب الله، فيضلوا بترك فريضة أنزلها الله، وإن الرجم في كتاب الله حق على من زنى، إذا أحصن من الرجال والنساء، وقامت البينة، أو كان الحبل، أو الاعتراف

“Dahulu diantara ayat yang Alloh turunkan adalah ayat rajam, maka kami membacanya, memahaminya, dan menghafalnya. Dan Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam melakukan hukum rajam dan kamipun melakukan hukum rajam setelah beliau, maka aku khawatir seandainya manusia telah melewati waktu yang panjang, seseorang akan berkata : Demi Alloh, kami tidak menemukan ayat rajam dalam kitab Alloh, maka mereka menjadi sesat dengan meninggalkan kewajiban yang telah diturunkan oleh Alloh, sesungguhnya rajam dalam Kitabulloh adalah hak terhadap orang yang berzina, jika laki-laki dan perempuan itu adalah muhshon (pernah menikah, pent) dan kejelasan (persaksian) telah ditegakkan atau hamil atau adanya pengakuan.”

Dan hikmah di-naskhnya lafadz tanpa hukumnya adalah sebagai ujian bagi ummat dalam mengamalkan apa yang mereka tidak mendapatkan lafadznya dalam Al-Qur’an, dan menguatkan iman mereka terhadap apa yang diturunkan Alloh ta’ala, kebalikan dari keadaan orang yahudi yang berusaha menyembunyikan nash rajam dalam Taurot.

  1. Apa yang di-naskh hukum dan lafadznya, seperti di-naskhnya sepuluh kali persusuan dari hadits Aisyah rodhiyallohu anha yang telah lalu.

Naskh ditinjau dari yang me-naskh dibagi menjadi empat macam :

  1. Di-naskhnya Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, contohnya adalah dua ayat al-Mushobaroh.

  2. Di-naskhnya Al-Qur’an dengan As-Sunnah, aku belum menemukan contoh yang selamat/ shohih.

  3. Di-naskhnya As-Sunnah dengan Al-Qur’an, contohnya adalah di-naskhnya hukum (sholat) menghadap Baitul Maqdis yang telah shohih dengan As-Sunnah dengan hukum menghadap Ka’bah yang telah shohih dengan firman Alloh ta’ala :

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَه

“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” [Al-Baqoroh : 144]

  1. Di-naskhnya As-Sunnah dengan As-Sunnah, contohnya sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :

كنت نهيتكم عن النبيذ في الأوعية، فاشربوا فيما شئتم، ولا تشربوا مسكراً

“Dahulu aku melarang kalian dari meminum nabidz yang disimpan di tempat-tempat, maka (sekarang) minumlah sesuai dengan kehendak kalian, dan jangan kalian meminum sesuatu yang memabukkan.”

Hikmah naskh :

Naskh mempunyai banyak hikmah diantaranya :

  1. Memelihara maslahat-maslahat para hamba dengan disyariatkannya apa yang lebih bermanfaat bagi mereka dalam urusan agama dan dunia mereka.

  2. Berkembangnya syari’at sedikit demi sedikit hingga mencapai kesempurnaan.

  3. Ujian bagi para mukallaf terhadap kesiapan mereka untuk menerima perubahan suatu hukum kepada yang lain, dan keridho’an mereka terhadap hal tersebut.

  4. Ujian bagi para mukallaf untuk menegakkan tugas bersyukur jika naskh itu kepada hukum yang lebih ringan, dan tugas untuk bersabar jika naskh itu kepada hukum yang lebih berat.

***

[Diterjemahkan dari kitab al-Ushul min ‘Ilmil Ushul karya asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: