DALIL YANG TIDAK BISA DI-NASK

[Lanjutan dari bab an-Naskh]

DALIL YANG TIDAK BISA DI-NASK

Naskh tidak bisa terjadi pada beberapa hal berikut ini :

1. Al-Akhbar (Khobar-khobar), karena naskh tempatnya adalah dalam masalah hukum dan karena me-naskh salah satu di antara dua khobar berarti melazimkan bahwa salah satu di antara kedua khobar tersebut adalah dusta. Dan kedustaan adalah suatu hal yang mustahil bagi khobar dari Alloh dan Rosul-Nya, kecuali apabila hukum tersebut datang dalam bentuk khobar, maka tidak mustahil untuk di-naskh, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ

“Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh.” [QS. Al-Anfal : 65]

Maka sesungguhnya ayat ini adalah khobar yang maknanya adalah perintah, oleh karena itu naskh-nya datang pada ayat yang berikutnya, yaitu firman Alloh ta’ala :

الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفاً فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir.” [QS. Al-Anfal : 66]

2. Hukum-hukum yang maslahatnya berlaku di setiap waktu dan tempat : seperti tauhid, pokok-pokok keimanan, pokok-pokok ibadah, akhlaq-akhlaq yang mulia seperti kejujuran dan kesucian, kedermawanan dan keberanian dan yang semisalnya. Maka tidak mungkin me-naskh perintah terhadap hal-hal tersebut, dan begitu pula tidak mungkin me-naskh larangan tentang apa-apa yang tercela di setiap waktu dan tempat, seperti syirik, kekufuran, akhlaq-akhlaq yang buruk seperti dusta, berbuat fujur (dosa), bakhil, penakut dan yang semisalnya, karena syari’at-syari’at semuanya adalah untuk kemaslahatan para hamba dan mencegah mafsadat dari mereka.

SYARAT-SYARAT NASKH

Disyaratkan dalam me-naskh apa yang mungkin untuk di-naskh dengan syarat-syarat di antaranya :

1. Tidak mungkinnya dilakukan jama’ (penggabungan makna) antara kedua dalil, apabila memungkinkan untuk di-jama’ maka tidak boleh di-naskh karena memungkinkannya untuk beramal dengan kedua dalil tersebut.

2. Pengetahuan tentang lebih terbelakangnya (lebih akhir datangnya, pent) dalil yang me-naskh (naasikh) dan hal tersebut bisa diketahui dengan nash atau khobar dari sahabat atau dengan tarikh (sejarah).

Contoh yang diketahui lebih akhirnya yang me-naskh dengan nash adalah sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :

كنت أذنت لكم في الاستمتاع من النساء، وإن الله قد حرم ذلك إلى يوم القيامة

“Dahulu aku mengizinkan kalian untuk nikah mut’ah dengan wanita, maka sesungguhnya Alloh telah mengharomkannya sampai hari kiamat”.

Contoh yang diketahui dengan khobar sahabat adalah perkataan Aisyah rodhiyallohu anha :

كان فيما أنزل من القرآن عشر رضعات معلومات يحرمن، ثم نسخن بخمس معلومات

“Dahulu dalam apa yang diturunkan dari Al-Qur’an adalah sepuluh kali persusuan menjadikan mahrom, kemudian dihapus menjadi lima kali persusuan”.

Contoh yang diketahui dengan tarikh adalah firman Alloh ta’ala :

الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu” [QS. Al-Anfal : 66]

Kata (الآن) “sekarang”, menunjukkan atas lebih akhirnya hukum tersebut. Dan demikian juga jika disebutkan bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam menghukumi sesuatu sebelum hijroh, kemudian setelah itu beliau menghukumi dengan yang menyelisihinya, maka yang kedua (setelah hijroh, pent) adalah sebagai naasikh (yang me-naskh).

3. Naasikh-nya Shohih, dan jumhur mensyaratkan bahwa naasikh harus lebih kuat dari yang mansukh (yang di-naskh) atau semisal/sederajat dengannya, sehingga menurut mereka dalil yang mutawatir tidak bisa di-naskh dengan dalil yang ahad, walaupun dalil ahad tersebut shohih. Dan yang rojih adalah bahwasanya naasikh tidak disyaratkan harus lebih kuat dari yang mansukh atau sederajat dengannya, karena tempatnya naskh adalah masalah hukum, dan dalam penetapan hukum tidak disyaratkan derajatnya harus mutawatir.

>>Bersambung –insyaAlloh-<<

 

[Diterjemahkan dari kitab al-Ushul min ‘Ilmil Ushul karya asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: