An-Naskh (النَّسْــخ) / Nasikh-Mansukh

An-Naskh (النَّسْــخ)

Oleh : asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin –rohimahulloh-

 

 

Definisinya :

 

Naskh secara bahasa : Penghilangan (الإزالة) dan Pemindahan (النقل).

Secara istilah :

 

رفع حكم دليل شرعي أو لفظه بدليل من الكتاب والسنة

 

“Terangkatnya (dihapusnya, pent) hukum suatu dalil syar’i atau lafadznya dengan dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah.”

 

Yang dimaksud dengan perkataan kami : (رفع حكم) ” Terangkatnya hukum” yakni : perubahannya dari wajib menjadi mubah atau dari mubah menjadi haram misalnya.

 

Keluar dari hal tersebut perubahan hukum karena hilangnya syarat atau adanya penghalang, misalnya terangkatnya kewajiban zakat karena kurangnya nishob atau kewajiban sholat karena adanya haid, maka hal tersebut tidak dinamakan sebagai naskh.

Dan yang dimaksud dengan perkataan kami : (أو لفظه) “atau lafadznya” : lafadz suatu dalil syar’i, karena naskh bisa terjadi pada hukumnya saja tanpa lafadznya, atau sebaliknya, atau pada keduanya (hukum dan lafadznya) secara bersamaan sebagaimana yang akan datang.

 

Keluar dari perkataan kami : (بدليل من الكتاب والسنة) “dengan dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah” : apa yang selain keduanya dari dalil-dalil syar’i, seperti ijma’ dan qiyas maka suatu dalil tidak bisa di-naskh dengan keduanya.

 

Naskh itu boleh secara akal dan terjadi secara syar’i.

 

Adapun kebolehannya secara akal : karena di tangan Alloh-lah semua perkara, dan milik-Nyalah hukum, karena Dia adalah Ar-Robb Al-Malik, maka Alloh berhak mensyariatkan kepada hamba-hamba-Nya apa-apa yang menjadi konsekuensi hikmah dan rahmat-Nya. Apakah tidak masuk akal jika al-Malik memerintahkan kepada yang dimiliki-Nya dengan apa yang dikehendaki-Nya? Kemudian konsekuensi hikmah dan rahmat Alloh ta’ala kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia mensyariatkan kepada mereka dengan apa-apa yang diketahui-Nya bahwa di dalamnya dapat tegak maslahat-maslahat agama dan dunia mereka. Dan maslahat-maslahat berbeda-beda tergantung kondisi dan waktu, terkadang suatu hukum pada suatu waktu atau kondisi adalah lebih bermaslahat bagi para hamba, dan terkadang hukum yang lain pada waktu dan kondisi yang lain adalah lebih bermaslahat, dan Alloh Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.

 

Adapun terjadinya naskh secara syar’i, dalil-dalilnya adalah :

 

1. Firman Alloh ta’ala:

 

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا

 

“Ayat mana saja yang Kami naskh-kan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.” [QS. al-Baqoroh : 106]

 

2. Firman Alloh ta’ala:

 

الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُم

 

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu” [QS. al-Anfal : 66]

 

فَالْآنَ بَاشِرُوهُنّ

 

“Maka sekarang campurilah mereka” [QS. al-Baqoroh : 187]

 

Maka ini adalah nash tentang terjadinya perubahan hukum yang sebelumnya.

 

3. Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

 

كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروهافهذا نص في نسخ النهي عن زيارة القبور

 

“Aku dahulu melarang kalian untuk menziarahi kubur, maka (sekarang) berziarahlah” [HR. Muslim]

 

Ini merupakan nash tentang dinaskh-nya larangan menziarahi kubur.

 

 

***

>>Bersambung –insyaAlloh-<<

 

[Diterjemahkan dari kitab al-Ushul min ‘Ilmil Ushul karya asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: