Al-Hamdulillah, Buah Hati Kami Sudah Lahir

 

Al-Hamdulillah, Buah Hati Kami Sudah Lahir

 

Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman :

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

 

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Robb-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” [QS. An-Nisa’ : 1]

 

Al-Hamdulillah, setelah 1 tahun 4 bulan dari pernikahan kami dan setelah menunggu sembilan bulan lamanya dari kehamilan kedua Ummu SHilah[1], akhirnya -dengan izin Alloh azza wa jalla– buah hati (putri) kami yang pertama telah terlahir dengan selamat untuk memulai hidupnya di dunia, yakni pada hari jum’at 11 Robi’ul Awwal Jam 04.00 sebelum shubuh, di Malang.

 

Pada hari itu juga kami memberinya nama[2] :

 

Shofiyyah bintu Abi SHilah (صفية بنت أبي صلة)

 

Yang kami ambil dari nama Ummul Mu’minin Shofiyyah bintu Huyay.[3]

 

Lalu kami mentahniknya[4] dengan sebutir kurma dan mendoakan keberkahan untuknya[5].

 

Semoga anak ini kelak bisa menjadi anak yang sholeh dan bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin.

 

Dan semoga Alloh memudahkan urusan kami pada hari ke-tujuh nanti untuk melaksanakan aqiqoh[6] dan mencukur rambut bayi kami[7], insyaAlloh.

 

Mulai sekarang kami akan merasakan bagaimana rasanya menjadi orang tua, sebagaimana para orang tua kami dahulu juga telah melalui masa-masa tersebut, mengurus dan mendidik kami hingga saat ini, semoga Alloh azza wa jalla membalas segala kebaikan mereka dan mengampuni dosa-dosa mereka.

 

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا. وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

 

“Dan Robb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orang tuamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” [QS. al-Isro’ : 23-24]

 

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

 

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang sholeh yang Engkau ridhoi; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. [QS. Al-Ahqof : 15]

 

——————————-

Catatan kaki:

 

[1] Kira-kira setahun yang lalu Ummu SHilah pernah hamil, tapi setelah 3 bulan usia kehamilan keluar flek-flek darah, dan setelah kami periksakan ke dokter Sp.OG, dokter tersebut mengatakan bahwa janin tidak berkembang, kata dokter tersebut Ummu SHilah hamil anggur (ana lupa istilah dokter tersebut) yang bisa berbahaya menyebabkan kanker, dll dan harus dikuret. Tapi ternyata setelah kuret (yang sebelum kuret kami sempat ngeyel-ngeyelan dengan dokter Sp.OG tersebut, karena kami menginginkan dokter dan perawat yang ikut menangani kuretase harus wanita semua dan tidak ada laki-laki. Setelah diancam “kalau ada laki-laki, kuretnya batal!”, baru bisa, al-Hamdulillah) dan hasilnya diperiksakan ke bagian Patologi, ternyata bukan hamil anggur tapi Blighted Ovum yang tidak terlalu berbahaya insyaAlloh.

 

Sebenarnya dokter tersebut melarang tidak boleh hamil selama satu tahun dan harus cek tiap bulan, tapi kami kurang percaya kepada dokter tersebut, lha wong diagnosis-nya yang tadi aja salah kok, ditambah adanya beberapa jarh dari sebagian ummahat yang mengatakan “diagnosis dokter yang itu sering salah“, “obat dari dokter yang itu mahal“, dll (aw kama qolat), dan kami juga mendapatkan dari sumber-sumber lain bahwa pada kasus blighted ovum, sebulan setelah kuret sudah boleh hamil, ada juga yang mengatakan 2 bulan, dan ada yang mengatakan 3 bulan setelah kuret baru boleh hamil, Wallohu A’lam. Kami lebih percaya dengan thibbun nabawi daripada harus cek ke dokter tadi, akhirnya Ummu SHilah ana suruh minum habbatus sauda’, bee pollen & madu secara rutin selama 3 bulan.

 

Kemudian setelah membaca beberapa fatwa ‘ulama (asy-Syaikh Bin Baz & Ibnul Utsaimin –rohimahumalloh-) dan bertanya kepada beberapa ustadz, kami menganggap bahwa darah yang keluar setelah kuret dalam kasus ini adalah darah istihadhoh dan bukan darah nifas karena menurut fatwa para ‘ulama tersebut darah keguguran dianggap nifas jika janin sudah berbentuk manusia, sedangkan dalam kasus kami janinnya tidak ada, jadi tetap wajib sholat seperti biasa. Dan dalam masalah ini kelihatannya terjadi khilaf, karena tidak adanya dalil yang shorih yang menjelaskan tentang masalah ini. Kamipun sebenarnya masih mencari-cari pendapat lain, mungkin saja ada yang istimbath-nya lebih kuat. Wallohu A’lam.

 

4 bulan kemudian setelah kuret, setelah dicek dengan test pack, Ummu SHilah positif hamil 1 bulan. Pada usia kehamilan 3,5 bulan kami periksakan lagi ke dokter Sp.OG yang lain (al-Hamdulillah dokter Sp.OG yang ini lebih komunikatif dan lebih murah, USG Cuma Rp. 35 ribu), al-Hamdulillah di layar USG dapat terlihat janin bayi mungilku dengan bentuk tubuh, jari-jarinya yang sudah terbentuk dan wajahnya yang –kayaknya– mirip ana, sedang berenang-renang di dalam rahim ibunya, subhanalloh

 

[2] Pemberian nama bayi yang disunnahkan adalah pada hari pertama kelahiran atau hari ke-tujuh, kedua-duanya sunnah dan ada dalilnya. Adapun selain hari pertama dan ketujuh boleh-boleh saja dan tidak ada larangan. Wallohu A’lam. Di antara dalil-dalilnya adalah :

 

Dari Abu Musa rodhiyallohu anhu, ia berkata:

 

ولد لي غلام فأتيت به النبي صلى الله عليه وسلم فسماه إبراهيم فحنكه بتمرة ودعا له بالبركة ودفعه إلي

 

“Telah dilahirkan untukku seorang anak laki-laki, lalu aku membawanya kepada Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, kemudian beliau menamakannya Ibrohim, lalu beliau mentahniknya dengan kurma dan mendo’akan barokah untuknya, lalu beliau menyerahkannya kepadaku.” [HR. al-Bukhori no. 5150 & 5845 dan Muslim no. 2145]

 

Dari Samuroh bin Jundub rodhiyallohu anhu, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

 

كل غلام رهينة بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه ويحلق ويسمى

 

“Setiap anak tergadai dengan aqiqohnya, disembelih untuknya pada hari ketujuh-nya, dicukur gundul (rambutnya) dan diberi nama.” [HR. Abu Dawud no. 2838, Ibnu Majah no. 3165, Ahmad no. 20095, dll. Dishohihkan al-Albani dalam Shohih Sunan Abi Dawud no. 2462]

 

Tentang memilih nama sudah pernah kami tulis dalam artikel : Memilih Nama untuk Anak (https://tholib.wordpress.com/2007/02/18/memilih-nama-untuk-anak/index.html).

 

[3] Disukai memberi nama dengan nama-nama para Nabi dan orang-orang sholeh, berdasarkan hadits al-Mughiroh bin Syu’bah, ia berkata :

 

عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ لَمَّا قَدِمْتُ نَجْرَانَ سَأَلُونِي فَقَالُوا إِنَّكُمْ تَقْرَءُونَ يَا أُخْتَ هَارُونَ وَمُوسَى قَبْلَ عِيسَى بِكَذَا وَكَذَا فَلَمَّا قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِمْ وَالصَّالِحِينَ قَبْلَهُمْ

 

Ketika aku datang ke Najron, mereka (penduduknya) bertanya kepadaku dan berkata : “Sesungguhnya kalian membaca (ayat al-Qur’an, pent) : ‘Wahai saudara perempuan Harun…’ (QS. Maryam : 28, pent), sedangkan Musa hidup sebelum Isa dengan sekian dan sekian (yakni berbeda zaman, pent).” Lalu ketika aku datang ke Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, aku bertanya kepada beliau tentang hal tersebut, maka beliau menjawab : “Mereka (Bani Isro’il, pent) dahulu menamai (anak-anak mereka, pent) dengan Nabi-nabi mereka dan orang-orang sholeh sebelum mereka.”

[HR. Muslim no. 2135, at-Tirmidzi no. 3155, Ahmad no. 18226, Ibnu Hibban no. 2650, dll]

 

Al-Imam Muslim dalam kitab Shohih-nya (3/1681) memasukkan hadits ini dalam bab yang beliau beri judul:

 

بَاب النَّهْيِ عَنْ التَّكَنِّي بِأَبِي الْقَاسِمِ وَبَيَانِ مَا يُسْتَحَبُّ مِنْ الْأَسْمَاءِ

 

“Bab larangan berkun-yah dengan ‘Abul Qosim’ dan penjelasan tentang nama-nama yang disukai.”

 

[4] Tahnik adalah mengunyahkan/melembutkan kurma kemudian memasukkannya ke mulut bayi lalu mengosok-gosokannya ke langit-langit mulutnya. Hukumnya sunnah (mustahab). Di antara dalilnya adalah hadits Abu Musa rodhiyallohu anhu di Atas.

 

[5] Disunnahkan pula mendo’akan keberkahan untuk bayi yang baru lahir, berdasarkan hadits Abu Musa rodhiyallohu anhu di atas.

 

[6] Pada hukum ‘aqiqoh terdapat khilaf di antara ‘ulama, ada yang berpendapat sunnah dan ada pula yang berpendapat hukumnya wajib, Wallohu A’lam. Aqiqoh dilaksanakan pada hari ke-tujuh si bayi berada di luar rahim ibunya, cara menghitungnya -yang rojih- adalah hari kelahirannya juga dihitung, berdasarkan lafadz hadits Samuroh bin Jundub rodhiyallohu anhu : (يوم سابعه) “…hari ketujuh-nya…” yang berarti hari kelahirannya adalah hari pertamanya.

 

Misalnya : Bayi lahir hari ahad siang, maka hari ahad adalah hari pertamanya, senin adalah hari ke-duanya, dan seterusnya sehingga sabtu adalah hari ke-tujuhnya.

 

Adapun kalau lahirnya setelah terbenamnya matahari, maka dihitung ke hari berikutnya berdasarkan perpindahan hari hijriyyah/qomariyyah yang pergantian harinya adalah dengan terbenamnya matahari, sebagaimana pada penentuan malam 1 Romadhon.

 

Misalnya : bayi lahir Sabtu (12 Robi’ul Awwal) ba’da maghrib, maka karena lahirnya ba’da maghrib berarti sudah masuk hari Ahad (13 Robi’ul Awwal) dan hari ahad ini dihitung sebagai hari pertamanya. Maka aqiqoh dilaksanakan pada hari sabtunya, yakni penyembelihan kambingnya, adapun pemanfaatan daging aqiqohnya maka boleh kapan saja, tidak ada ketentuan dalam syari’at.

 

Dan daging aqiqoh tadi mau dikemanakan dan kapan waktunya, maka terserah. Tidak ada ketentuan harus begini dan begitu dalam syari’at. Orang yang melaksanakan aqiqoh tidak harus mengundang orang untuk makan-makan atau membagi dagingnya dagingnya untuk fuqoro’ wal masakin, boleh saja semua dagingnya untuk ia dan keluarganya atau semuanya ia shodaqohkan kepada fuqoro’ wal masakin atau dibagi-bagikan kepada teman-temannya, dll. Dan boleh-boleh saja jika ia ingin mengundang teman-temannya untuk makan daging aqiqoh tersebut. Intinya tidak ada ketetapan dalam syari’at tentang tashorruf daging aqiqoh ini. (Dengarkan penjelasan asy-Syaikh al-Albani dalam rekaman di bawah)

 

[7] Mencukur gundul (حلق) rambut bayi disunnahkan, di antara dalilnya adalah hadits Samuroh bin Jundub di atas. Dan juga disunnahkan bershodaqoh dengan berat timbangan rambutnya berdasarkan sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam kepada Fathimah rodhiyallohu anha ketika ia melahirkan al-Hasan rodhiyallohu anhu:

 

احلقي رأسه وتصدقي بوزن شعره فضة على المساكين

 

“Cukur gundullah kepalanya dan bershodaqohlah dengan perak seberat rambutnya tersebut kepada orang-orang miskin.” [HR. at-Tirmidzi no. 1519. Dihasankan oleh al-Albani dalam al-Irwa’ no. 1175]

 

———–

Maroji :

  • Al-Maktabah asy-Syamilah v.1 & v.2 (penomoran hadits dgn v.1)

  • Menanti Buah Hati, al-Ustadz Abu Unaisah.

  • Tarbiyatul Abna’ (Terjemahan Media Hidayah), Mushthofa al-Adawi.

  • Dll.

 

 

———–

Catatan : kemungkinan setelah ini aktivitas tulis-menulis kami di tholib.wordpress.com mulai berkurang, karena kesibukan mengurus buah hati kami dan juga ada beberapa urusan yang harus segera diselesaikan.

 

Tambahan :

Download dars asy-Syaikh al-Albani seputar ‘Aqiqoh.

Sual-jawab Ahkamul Maulud oleh asy-Syaikh Abu Abdil Mu’iz Farkus

8 Tanggapan

  1. Barokallahulaka.

    -Abu Faiz-

    wa fiika barokalloh

  2. Baarakallahu, akhi..

    Haryo
    http://anc.zendurl.com

    wa fiika barokalloh

  3. Barakallohu Fiikum…

    wa fiika barokalloh

  4. Barakallohu Fiikum… wah ahlikum akhi ..

    semoga menjadi anak yang sholehah ..

    -Abu Fathimah Al Faituni-

    aamiin, wa fiikum barokalloh

  5. al-Hamdulillah, telah lahir anak kami yang kedua (laki-laki) pada hari jum’at 2 Dzul Qo’dah 1429H / 31 Oktober 2008 M jam 10.15 siang di Jakarta, melalui persalinan yang normal dan lancar, al-Hamdulillah.

    Kami memberinya nama :
    Hammad (حماد)

    Semoga Alloh ta’ala memberkahinya dan menjadikannya anak yang sholih dan bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin.

  6. بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوْبِ لَكَ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ، وَرُزِقْتَ بِرَّهُ

  7. […] Al-Hamdulillah, Buah Hati Kami Sudah Lahir […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: