Fatwa asy-Syaikh Ibrohim ar-Ruhaili tentang Bermajelis dengan Ahli Bid’ah

Fatwa asy-Syaikh Ibrohim ar-Ruhaili tentang Bermajelis dengan Ahli Bid’ah

[Berikut ini kami bawakan terjemahan fatwa Fadhilatusy Syaikh Ibrohim bin ‘Amir ar-Ruhaili –hafidzohulloh- tentang bermajelis dengan ahli bid’ah. Fatwa ini beliau sampaikan pada dauroh asatidzah yang lalu di di Kebun Teh Wonosari Lawang – Malang (17 – 22 Juli 2006)]

Pertanyaan :
Jazakumulloh khoiron Syaikh, kami bertanya : Apakah seseorang itu menjadi ahli bid’ah dengan sebab ia bermajelis dengan ahli bid’ah?

Jawab :
Kami jelaskan pada kalian bahwa bermajelis dengan ahli bid’ah ada perinciannya, dan yang menjadi musykilah (masalah) sekarang adalah at-ta’mim (menjadikan hukumnya sama pada setiap kondisi, pent).

Terkadang seorang ‘alim bermajelis (duduk-duduk) dengan mereka untuk menasehati mereka. Apakah seorang ‘aalim jika ia bermajelis dengan ahli bid’ah untuk menasehati mereka maka ia menjadi mubtadi’? Apakah ‘Ali ketika mendebat Khowarij dan bermajelis dengan mereka, ia termasuk dari mereka? Apakah Ibnu ‘Abbas, apakah al-Imam Ahmad ketika mendebat Jahmiyyah, apakah Syaikhul Islam ketika mendebat ahli bid’ah, apakah asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab ketika mendebat ahli bid’ah, apakah asy-Syaikh al-Albani ketika beliau di negeri yang banyak di dalamnya ahli bid’ah, beliau duduk di sisi mereka untuk menasihati mereka, apakah mereka (para ‘ulama tersebut, pent) termasuk ahli bid’ah? Tidak, ini adalah jalannya para ‘ulama. Para ‘ulama bermajelis dengan mereka dan menasehati mereka.

Adapun orang yang bermajelis dengan mereka dan bercampur dengan mereka, aku katakan kepada kalian : perbedaan antara mujaalasah (bermajelis) dengan duduk bersama mereka, duduk sekali atau dua kali untuk menasehati mereka. Adapun orang yang bermajelis (mujaalis) dan orang yang bercampur (mukholith) yang bermajelis dengan mereka (ahli bid’ah) dan bercampur dengan mereka, masuk dan keluar bersama mereka, maka orang seperti ini adalah salah satu dari 2 orang, bisa jadi ia jahil tentang keadaan mereka, maka orang ini dijelaskan kepadanya bahwa mereka adalah ahli bid’ah; dan bisa jadi ia adalah seorang mubtadi’ seperti mereka.

Adapun keadaan sebagian ahlus sunnah bermajelis dengan mereka untuk menasehati mereka maka ini tidak masuk pada ini (tidak masuk dalam 2 kemungkinan ini, pent).

Kemudian juga harus diperhatikan tentang masalah lainnya, yaitu bahwa sekarang terkadang seseorang diuji dengan bermajelis dengan ahli bid’ah dengan tanpa adanya pilihan, seperti seorang tholib (penuntut ‘ilmu) sekarang yang ia belajar di jami’ah (universitas) dan ditaqdirkan baginya ia berada pada ruangan yang di sana ada si fulan yang tidak mengikuti jalannya (yakni tidak sejalan dalam manhaj, pent), apakah kita katakan bahwa ia (tholib tadi, pent) adalah mujaalis? Seseorang yang ia mempunyai seorang kerabat dari kerabatnya, seseorang diuji dengan seorang kerabat (yang ahli bid’ah, pent) dari keluarganya yang ia tidak bisa tidak harus berkumpul dengannya pada suatu majelis, pada suatu kesempatan, pada suatu undangan, ini tidak berarti bahwa ia adalah termasuk mereka.

Maka perbedaan antara orang yang bermajelis dimana ia memiliki pilihan yang ia ridho dengan jalannya dan bermajelis dengannya tanpa ada nasehat; dan dengan seseorang yang diuji dengan mereka, sebagaimana kita sekarang diuji dengan kebanyakan dari ahli bid’ah pada majelis-majelis kita, pada rumah-rumah kita, pada… diuji dengan mereka.

Kami menginginkan dari saudara-saudara kami untuk berlemah lembut dengan saudara-saudaranya dari kalangan ahlus sunnah. Dan tidaklah semua orang yang bermajelis dengan mereka, (yakni) yang bermajelis dengan ahli bid’ah, berarti ia bercampur bersama mereka. Akan tetapi lihatlah kenapa ia bermajelis dengan mereka? Bagaimana ia bermajelis dengan mereka? Na’am.

[Diterjemahkan oleh Abu SHilah dari rekaman Dauroh Masyayikh Madinah di Kebun Teh Wonosari Lawang – Malang (17 – 22 Juli 2006), pada tanya-jawab dars Ushulus Sunnah. File : 1_usulussunnah.mp3 menit ke 108:45 s/d 111:14]

Satu Tanggapan

  1. […] ar-Ruhaili tentang Bermajelis dengan Ahli Bid’ah Posted on 5 Oktober 2010 by tomygnt Fatwa asy-Syaikh Ibrohim ar-Ruhaili tentang Bermajelis dengan Ahli Bid’ah Posted on 20 Maret 2007 by Abu Hammad […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: