Mujmal dan Mubayyan (الـمُجْمَلُ والـمبَيَّن)

Mujmal dan Mubayyan (الـمُجْمَلُ والـمبَيَّن)

MUJMAL DAN MUBAYYAN (الـمُجْمَلُ والـمبَيَّن)
Oleh : asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin –rohimahulloh-

Definisi Mujmal (المجمل) :

Mujmal secara bahasa : (المبهم والمجموع) mubham (yang tidak diketahui) dan yang terkumpul.

Secara istilah :

ما يتوقف فهم المراد منه على غيره، إما في تعيينه أو بيان صفته أو مقداره

“Apa yang dimaksud darinya ditawaqqufkan terhadap yang selainnya, baik dalam ta’yinnya (penentuannya) atau penjelasan sifatnya atau ukurannya.”

Contoh yang membutuhkan dalil lain dalam ta’yinnya : Firman Alloh ta’ala :

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'” (Al-Baqoroh : 228)

 Quru’ (القرء) adalah lafadz yang musytarok (memiliki beberapa makna, pent) antara haidh dan suci, maka menta’yin salah satunya membutuhkan dalil.

Contoh yang membutuhkan dalil lain dalam penjelasan sifatnya: Firman Alloh ta’ala :

وَأَقِيمُوا الصَّلاة

“Dan dirikanlah sholat” (Al-Baqoroh : 43)

Maka tata cara mendirikan sholat tidak diketahui (hanya dengan ayat ini, pent), membutuhkan penjelasan.

Contoh yang membutuhkan dalil lain dalam penjelasan ukurannya : Firman Alloh ta’ala :

وَآَتُوا الزَّكَاةَ

“Dan tunaikanlah zakat” (Al-Baqoroh : 43)

Ukuran zakat yang wajib tidak diketahui (hanya dengan ayat ini, pent), maka membutuhkan penjelasan.

Definisi mubayyan (المبيَّن) :
Mubayyan secara bahasa : (المظهر والموضح) yang ditampakkan dan yang dijelaskan.

Secara istilah :

ما يفهم المراد منه، إما بأصل الوضع أو بعد التبيين

“Apa yang dapat difahami maksudnya, baik dengan asal peletakannya atau setelah adanya penjelasan.”

Contoh yang dapat difahami maksudnya dengan asal peletakannya : lafadz : langit (سماء), bumi (أرض), gunung (جبل), adil (عدل), dholim (ظلم), jujur (صدق). Maka kata-kata ini dan yang semisalnya dapat difahami dengan asal peletakannya, dan tidak membutuhkan dalil yang lain dalam menjelaskan maknanya.

Contoh yang dapat difahami maksudnya setelah adanya penjelasan : firman Alloh ta’ala :

وَآتُوا الزَّكَاةَ

“Dan dirikanlah sholat dan tunaikan zakat” (Al-Baqoroh : 43)

Maka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, keduanya adalah mujmal, tetapi pembuat syari’at (Alloh ta’ala) telah menjelaskannya, maka lafadz keduanya menjadi jelas setelah adanya penjelasan.

Beramal dengan Dalil yang Mujmal:

Seorang mukallaf wajib bertekad untuk beramal dengan dalil yang mujmal ketika telah datang penjelasannya.

Nabi shollallohu alaihi wa sallam telah menjelaskankan semua syari’atnya kepada umatnya baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, sehingga beliau meninggalkan ummat ini di atas syari’at yang putih bersih malamnya seperti siangnya, dan beliau tidak pernah sama sekali meninggalkan penjelasan (terhadap syari’at, pent) ketika dibutuhkan.

Dan penjelasan Nabi shollallohu alaihi wa sallam itu berupa perkataan atau perbuatan atau perkataan dan sekaligus perbuatan.

Contoh penjelasan beliau shollallohu alaihi wa sallam dengan perkataan : Pengkhobaran beliau tentang nishob-nishob dan ukuran zakat, sebagaimana dalam sabdanya shollallohu alaihi wa sallam :

فيما سقت السماء العشر

“Apa-apa (pertanian, pent) yang diairi dengan air hujan zakatnya adalah 1/10”

Sebagai penjelasan dari firman Alloh ta’ala yang mujmal :

وَآتُوا الزَّكَاةَ

“Dan tunaikanlah zakat” (Al-Baqoroh : 43).

Contoh penjelasan beliau shollallohu alaihi wa sallam dengan perbuatan : perbuatan beliau dalam manasik di hadapan ummat sebagai penjelasan dari firman Alloh ta’ala yang mujmal :

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْت

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah” (Ali Imron :97)

Dan demikian juga sholat kusuf (gerhana bulan) dengan sifat sholatnya, dalam kenyataannya hal ini merupakan penjelasan terhadap sabdanya shollallohu alaihi wa sallam yang mujmal :

فإذا رأيتم منها شيئاً فصلوا

“Jika kalian melihat sesuatu darinya maka sholatlah”. (Muttafaqun alaihi).

Contoh penjelasan beliau shollallohu alaihi wa sallam dengan perkataan dan sekaligus perbuatan : penjelasan beliau shollallohu alaihi wa sallam tentang tata cara sholat, sesungguhnya pejelasan beliau adalah dengan perkataan dalam hadits al-musi’ fi sholatihi (orang yang jelek dalam sholatnya), dimana beliau shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

ذا قمت إلى الصلاة، فأسبغ الوضوء، ثم استقبل القبلة فكبر...

“Jika engkau akan sholat maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke qiblat lalu bertakbirlah….”, al-hadits.

Dan penjelasan beliau adalah dengan perbuatan juga, sebagaimana dalam hadits Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi rodhiyallohu anhu bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar lalu bertakbir (takbirotul ihrom, pent), dan orang-orangpun bertakbir di belakang beliau sedangkan beliau berada di atas mimbar…., Al-Hadits, dan dalam hadits tersebut : “kemudian beliau menghadap kepada orang-orang dan berkata :

إنما فعلت هذا؛ لتأتموا بي، ولتعلموا صلاتي

“hanya saja aku melakukan ini supaya kalian mengikuti gerakanku dan supaya kalian mengetahui sholatku”.

***

[Diterjemahkan dari kitab al-Ushul min ‘Ilmil Ushul karya asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin]

2 Tanggapan

  1. masih ada penjelasan dari sumber2 lain?

    Ada, di kitab-kitab Ushul Fiqih yang lainnya.

  2. untuk penjelasan tentang kaidah musykil dan mutasyabihat bisa sy temukan di referensi mana ya pak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: