Bolehkah Memukul Untuk Mendidik Anak?

[Berikut ini kami nukilkan fatwa asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani –rohimahulloh- tentang : “Bolehkah memukul anak untuk mendidiknya?” dan “Apakah memisahkan tempat tidur mereka mencakup laki-laki dan perempuan?” Semoga bermanfaat…]

BOLEHKAH MEMUKUL UNTUK MENDIDIK ANAK?

Penanya : Apakah boleh menggunakan pukulan sebagai wasilah dalam mendidik anak?

As-Syaikh : Aku berpendapat yang demikian tidak boleh, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wa sallam :

وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ

“Dan pukullah mereka karenanya (tidak mau sholat, pent) ketika umur mereka 10 tahun”.

Dan tidak ragu lagi, yang paling penting untuk diajarkan kepada anak-anak adalah keta’atan kepada Alloh tabaroka wa ta’ala dan khususnya pada rukun kedua dari rukun-rukun Islam, yaitu sholat. Maka jika Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wa sallam belum mengizinkan kepada kedua orang tua anak tersebut untuk memukulnya kecuali jika ia sudah memasuki umur 10 tahun, maka aku meyakini bahwa yang seharusnya menjadi cara pendidikan yang Islami adalah tidak memukul anak sebelum anak itu mencapai umur 10 tahun.

Hadits yang aku sebutkan sebagiannya tadi dan kalian mengetahuinya secara lengkapnya, yaitu sabda beliau ‘alaihish sholaatu was sallam :

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah kepada anak-anak kalian untuk sholat ketika umur mereka 7 tahun, dan pukullah mereka karenanya (tidak mau sholat, pent) ketika umur mereka 10 tahun, dan pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka.” [1]

Dan tidaklah ada kesalahan yang dilakukan seorang anak yang lebih dari tidak mau sholat. Dan dengan demikian, hadits tersebut memerintahkan kita untuk bersikap lembut kepadanya dan berwasiat kepadanya dengan kebaikan serta tidak menggunakan pukulan untuk mereka kecuali setelah ia mencapai umur 10 tahun. Ini adalah pendapatku, Wallahu A’lam.

***

[Diterjemahkan Abu SHilah dari Fatawa Jeddah (Kaset no. 26 bagian 2, pertanyaan no. 19) oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani -rohimahulloh-, dengan catatan kaki oleh Abu Shilah]

Catatan kaki :
[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (495) dan lafadz ini miliknya, Ahmad (6689), Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf (3482), al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro (4871), al-Hakim dalam al-Mustadrok (708), dll. Dishohihkan al-Albani dalam al-Irwa’ (298) dan Shohihul Jami’ (289). Wallahu A’lam.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MEMISAH TEMPAT TIDUR ANAK

Penanya : Dalam hadits :

وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“dan pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka”, apakah pemisahan ini mencakup laki-laki dan perempuan?

Asy-Syaikh : Harus, yakni dipisahkan antara laki-laki dengan laki-laki, dan terlebih lagi antara laki-laki dengan perempuan.

Penanya : Dan antara perempuan dengan perempuan juga?

Asy-Syaikh : Iya, ahsanta.

***

[Diterjemahkan Abu SHilah dari Fatawa Jeddah (Kaset no. 26 bagian 2, pertanyaan no. 21) oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani -rohimahulloh-]

Tambahan : asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin juga menjawab semisal dengan jawaban asy-Syaikh al-Albani pada pertanyaan yang kedua. Bisa dirujuk ke Silsilatul Liqo’ Bab al-Maftuh (kaset no. 4 bagian pertama, pertanyaan no. 28), Wallahu A’lam.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: