UMUM (العام)

UMUM (العام)

Oleh : asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin -rohimahulloh-

DEFINISINYA :

Umum (العام) secara bahasa : (الشامل) Yang mencakup.

Dan secara istilah :

(اللفظ المستغرق لجميع أفراده بلا حصر)
“Lafadz yang mencakup untuk semua anggotanya tanpa ada pembatasan”

Cotohnya :

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti (الْأَبْرَارَ) benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan.” (Al-Infithor : 13 dan Al-Muthoffifin : 22)
Maka keluar dari perkataan kami : (المستغرق لجميع أفراده) “yang mencakup untuk semua anggotanya” : apa-apa yang tidak mencakup kecuali satu, seperti nama sesuatu dan Isim Nakiroh dalam konteks untuk penetapan (النكرة في سياق الإثبات) sebagaimana firman Allah ta’ala :

فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ

“Maka bebaskanlah seorang budak (رَقَبَةٍ)” (Al-Mujadalah : 3)

Karena ayat ini tidak mencakup semua anggotanya secara menyeluruh, dan hanya saja ayat ini mencakup satu dari anggotanya yang tidak ditentukan.

Dan keluar dari perkataan kami : (بلا حصر) “tanpa ada pembatasan” : apa-apa yang mencakup seluruh anggotanya dengan pembatasan, seperti nama-nama bilangan: ratusan, ribuan dan yang semisal keduanya.
BENTUK-BENTUK UMUM (صيغ العموم)

Bentuk-bentuk umum ada tujuh :

1. Apa-apa yang menunjukkan atas keumumannya dengan alat-alatnya (yang menunjukkan keumuman, pent), contohnya : (كُلّ), (جَمِيْع), (كَافَّة), (قَاطِبَة), dan (عَامَّة)

Sebagaimana firman Allah ta’ala :

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya segala sesuatu (كُلَّ شَيْءٍ) Kami ciptakan menurut ukuran” (Al-Qomar : 49)

2. Kata-kata syarat (أسماء الشرط), sebagaimana firman Allah ta’ala :

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً فَلِنَفْسِه

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri” (Al-Jatsiyah : 15)

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ

“Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah” (Al-Baqoroh : 115)

3. Kata-kata tanya (أسماء الاستفهام), sebagimana firman Allah ta’ala :

فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ

“Maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?” (Al-Mulk : 30)

مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ

“Apakah jawabanmu kepada para Rosul?”(Al-Qoshosh : 65)

فأَيْنَ تَذْهَبُوْنَ

“Maka kemanakah kamu akan pergi?”(At-Takwir : 26)

4. Kata-kata sambung (الأسماء الموصولة), sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zumar : 33)

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Al-Ankabut : 69)

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِمَنْ يَخْشَى

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).”(An-Nazi’at : 26)

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْض

“Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi.”

5. Isim Nakiroh dalam konteks peniadaan, larangan, syarat, pertanyaan yang maksudnya pengingkaran (النكرة في سياق النفي أوالنهي أوالشرط أوالاستفهام الإنكاري), sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَمَا مِنْ إِلَهٍ إلاَّ الله

“Dan tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah” (Ali-Imron : 62)

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun” (An-Nisa’ : 36)

إِنْ تُبْدُوا شَيْئاً أَوْ تُخْفُوهُ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً

“Jika kamu melahirkan sesuatu atau menyembunyikannya, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Ahzab : 54)

مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ أَفَلا تَسْمَعُونَ

“Siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?” (Al-Qoshosh : 71)

6. Yang dima’rifatkan dengan idhofah baik tunggal ataupun jama’ (المعرّف بالإضافة مفرداً كان أم مجموعاً), sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Dan ingatlah nikmat Allah atas kalian” (Ali Imron : 103 dan al-Ma’idah : 7)

فَاذْكُرُوا آَلَاءَ اللَّهِ

“maka ingatlah nikmat-nikmat Allah.” (al-A’rof : 74)

7. Yang dima’rifatkan dengan alif-lam al-Istighroqiyyah (ال الاستغراقية , alif-lam yang menunjukkan umum, pent) baik tunggal maupun jama’, sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفاً

“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (An-Nisa’:28)

وَإِذَا بَلَغَ الْأَطْفَالُ مِنْكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوا كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِم

“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin” (An-Nuur : 59)

Adapun yang dima’rifatkan dengan alif-lam al-ahdiyyah (ال العهدية, alif-lam untuk sesuatu yang sudah diketahui) maka hal ini tergantung dari isim yang sudah diketahui tersebut (yakni yang dimasuki alif-lam al-ahdiyyah, pent), jika ia umum maka yang dima’rifatkan juga umum, dan jika ia khusus maka yang dima’rifatkan juga khusus. Contoh dari yang umum adalah firman Allah ta’ala :

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَراً مِنْ طِينٍ. فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ. فَسَجَدَ الْمَلائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat (لِلْمَلائِكَةِ): “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” Lalu seluruh malaikat-malaikat (الْمَلائِكَةُ) itu bersujud semuanya.” (Ash Shod : 71-73)

Contoh dari yang khusus adalah firman Allah ta’ala :

كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولا فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذاً وَبِيلاً

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekah) seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir’aun. Maka Fir’aun mendurhakai Rasul (الرَّسُولَ) itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.” (Al-Muzammil : 15-16)

Adapun yang dima’rifatkan dengan Alif-lam untuk menjelaskan jenis, maka tidak bersifat umum kepada setiap anggotanya, jika kamu berkata : “Laki-laki itu lebih baik daripada wanita”, atau “Kaum laki-laki lebih baik daripada kaum wanita”, maka maksudnya bukanlah bahwa setiap perorangan dari laki-laki lebih baik daripada setiap perorangan dari wanita. Dan hanya saja maksudnya adalah bahwa jenis ini (laki-laki,pent) lebih baik daripada jenis ini (wanita, pent). Dan kadang-kadang dijumpai seseorang dari wanita yang lebih baik dari sebagian laki-laki.

BERAMAL DENGAN DALIL YANG UMUM

Wajib beramal dengan keumuman lafadz dalil yang umum sampai ada dalil shohih yang mengkhususkannya, karena beramal dengan nash-nash dari Al-Kitab dan As-Sunnah adalah wajib berdasarkan yang ditunjukkan oleh penunjukannya, sampai ada dalil yang menyelisihinya.

Jika ada suatu dalil umum dengan sebab yang khusus, maka wajib beramal sesuai keumumannya. Karena yang menjadi ibroh (sandaran) adalah umumnya lafadz bukan kekhususan sebab (asbabun nuzul atau wurud, pent) “العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب”, kecuali jika ada dalil yang menunjukkan pengkhususan dalil yang umum tersebut dengan apa yang menyerupai keadaan sebab (asbabun nuzul atau wurud, pent) yang dalil itu turun karenanya, maka dikhususkan dengan yang menyerupai sebab tersebut.

Contoh yang tidak ada dalil menunjukkan atas pengkhususannya : Ayat tentang zhihar (yakni seorang suami mengatakan kepada isrinya : “bagiku kamu seperti punggung ibuku”, pent), sebab turunnya adalah perbuatan zhihar yang dilakukan Aus bin Shomit, dan hukumnya umum untuknya dan untuk yang selainnya.

Contoh yang ada dalil yang menunjukkan atas pengkhususannya : Sabda Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam :

ليس من البر الصيام في السفر

“Bukanlah termasuk kebaikan, berpuasa ketika safar.”

Sebabnya adalah ketika Nabi shollallohu alaihi wa sallam dalam suatu safar, beliau melihat keramaian dan ada seseorang yang diberi naungan (dari terik matahari, pent) lalu Rosullulloh bersabda :

“ما هذا؟” قالوا: صائم. فقال: “ليس من البر الصيام في السفر”

“Ada apa ini?” Mereka berkata : “Dia orang yang sedang berpuasa.” Lalu Rosullulloh bersabda : “Bukanlah termasuk kebaikan, berpuasa ketika safar.”

Ini merupakan dalil umum yang khusus untuk orang yang menyerupai kondisi orang ini, yakni berat baginya puasa ketika safar. Dan dalil yang menunjukkan pengkhususannya bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam pernah berpuasa ketika safar dimana hal itu tidak memberatkannya, dan Rosullullah shollallohu alaihi wa sallam tidak melakukan sesuatu kecuali kebaikan.

***

[Diterjemahkan oleh Ummu SHilah & Zaujuha dari Kitab al-Ushul min Ilmil Ushul karya asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al’Utsaimin]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: