Perkataan “Fulan Syahid”??

Perkataan “Fulan Syahid”??

Oleh : asy-Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi -hafidzohulloh-

Pertanyaan :

Apakah boleh memutlakkan kepada seseorang kata “Syahid“?

Jawaban :

Jika dengan Jazm maka tidak boleh, karena yang demikian sebagaimana telah kita baca[1], tidak boleh dipastikan seseorang masuk surga atau neraka, karena jika kita katakan “Syahid” berarti kita memastikan ia masuk surga. Kami tidak mempersaksikan kepada seorangpun dengan surga kecuali orang-orang yang telah dipersaksikan oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti al-Asyaroh al-Mubasysyarina bil Jannah (Sepuluh shahabat yang diberi kabar gembira dengan surga), Ahlu Badr (para shahabat yang ikut perang badr, pent), Ahlu Bai’at Ridhwan (para shahabat yang ikut bai’at ridhwan), dan juga seperti seorang wanita yang berpenyakit ayan yang Rasulullah ‘alaihish sholatu was salaam mempersaksikannya dengan surga[2], Abdullah bin Sallam[3], dan yang semisal mereka. Adapun yang selain mereka, kita harapkan surga bagi mereka jika mereka adalah orang-orang yang sholeh, dan pada waktu yang sama kita khawatir atas mereka. Kita tidak memastikan bagi mereka surga atau neraka, hanya saja kita berharap untuk mereka.

Akan tetapi orang-orang yang ghuluw (berlebihan) mengatakan “Fulan syahid” kepada siapa? kepada seorang Rofidhi (Syi’ah) yang sesat, mereka mengatakan “syahid”, sedangkan ‘ulama sunnah adalah ‘umala (buruh) dan mata-mata, orang yang mati dari ‘ulama tersebut tidak mereka sebut “syahid”.

Jamilurrahman[4] ketika terbunuh, apakah mereka mengatakan “syahid”? Beliau berjihad selama puluhan tahun atau lebih dan beliau yang pertama kali membawa bendera jihad, beliau mendirikan imaroh yang diterapkan syari’at Islam di dalamnya, dan beliau terbunuh di jalan Allah secara dzolim, tapi mereka tidak menyebutnya “Syahid”!

[Diterjemahkan oleh Abu SHilah dari Syarh Ushulis Sunnah hal. 81 oleh asy-Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi -hafidzohulloh-. Sumber kitab : sahab.org. Catatan kaki oleh Abu SHilah]

—————————

Catatan kaki :

[1] Yakni dari kitab Ushulus Sunnah, al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata :

ولا نشهد على أهل القبلة بعمل يعمله بجنة ولا نار نرجو للصالح ونخاف عليه ونخاف على المسيء المذنب ونرجو له رحمة الله

“…dan kami tidak mempersaksikan surga tidak pula neraka atas seorang ahli qiblat (yakni muslim, pent) dengan suatu perbuatan yang dilakukannya, kami berharap terhadap orang yang sholeh dan kami khawatir atasnya, dan kami khawatir terhadap orang yang berbuat kejelekan dan dosa, dan kami mengharapkan baginya rahmat Allah.”

[2] Dari Atho’ bin Abi Robah, dia berkata :

قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ : أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى قَالَ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي قَالَ إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ فَقَالَتْ أَصْبِرُ فَقَالَتْ إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ فَدَعَا لَهَا

“Ibnu Abbas pernah berkata kepadaku. ‘Maukah kutunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni surga? Aku menjawab: ‘Ya’. Dia berkata. “Wanita berkulit hitam itu pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata.’Sesungguhnya aku sakit ayan dan membuka aurot (ketika kambuh, pent), maka berdo’alah kepada Allah untukku’. Beliau berkata : ‘Apabila engkau mau, maka engkau bisa bersabar dan bagimu surga. Dan apabila engkau mau, aku akan berdo’a kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu’. Lalu wanita itu berkata : ‘Aku akan bersabar’. Wanita itu berkata lagi : ‘Sesungguhnya aku membuka aurotku (ketika kambuh, pent), berdo’alah kepada Allah untukku agar aku tidak membuka aurotku. Maka beliau mendo’akannya”. [HR. al-Bukhori no. 5328, Muslim no. 2576, Ahmad no. 3240, dan lain-lain]

[3] Dari Sa’ad bin Abi Waqqosh, ia mengatakan :

مَا سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِأَحَدٍ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ إِلَّا لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ

“Aku tidak pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada seseorang yang berjalan di muka bumi bahwa ia adalah ahli surga kecuali kepada Abdullah bin Sallam.” [HR. al-Bukhori no. 3601, Muslim no. 2483, Ahmad no. 1453, dan lain-lain]

[4] beliau adalah seorang ‘ulama salafi dari Afghanistan, beliaulah yang pertama kali mengangkat senjata melawan komunis Russia. Beliau dibunuh oleh seorang Ikhwanul Muslimin yang bernama Abu Abdillah ar-Rumi pada hari jum’at sebelum sholat jum’at. Silahkan dengarkan kisahnya pada rekaman kajian Madarikun Nadzor fis Siyasah (rekaman ke-7) oleh al-Ustadz Abu Ihsan al-Atsary al-Medani (beliau ikut jihad di Afghan ketika itu bersama as-Syaikh Jamilurrahman), download di assunnah.mine.nu.

Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: