THOBAQOT PARA ROWI HADITS

[Bagi seorang tholibul ‘ilmi shoghir seperti kita-kita ini yang mau mempelajari ilmu hadits, selayaknya bagi kita untuk mengenal juga tentang para perowi hadits berdasarkan tingkatan zamannya (thobaqot-nya), berikut ini kami nukilkan sebuah tanya-jawab tentang masalah ini dari kitab “Syarh ‘Ilalil Hadits ma’a As-ilah wa Ajwibah fi Mushtholahil Hadits” hal. 74-75, karya asy-Syaikh Mushthofa al-‘Adawi[*]. Dan di akhir tulisan ini, kami tambahkan contoh para rowi hadits yang terkenal pada masing-masing thobaqot. Semoga bermanfaat….]

Pertanyaan : Apa makna perkataan al-Hafidz Ibnu Hajar rohimahulloh dalam kitabnya ((Taqribut Tahdzib)) : dari ke-10 atau dari ke-11 atau dari ke-5 …. Dan yang semisal itu dalam biografi-nya terhadap para rowi ?

Jawab : yang dimaksud oleh Ibnu Hajar dari yang seperti itu adalah bahwa rowi ini dari thobaqot ke-10, atau dari thobaqot ke-11, atau dari thobaqot ke-5, dan perinciannya kami katakan :

Bahwa antara (zaman) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para penulis kitab-kitab sunan kira-kira berjarak antara 200-250 tahun, jarak waktu ini antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para penulis kitab-kitab tersebut, kira-kira terbagi menjadi 12 thobaqot :

1. Thobaqot yang pertama : para shahabat (الصحابة).

2. Thobaqot yang kedua : thobaqot Kibar Tabi’in (كبار التابعين), seperti Sa’id bin al-Musayyib, dan begitu pula para Mukhodhrom.
Mukhodhrom (المخضرم) : orang yang hidup pada zaman jahiliyyah dan Islam, akan tetapi ia tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beriman. Misalnya : seseorang masuk Islam pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ia tidak pernah bertemu Rasulullah karena jauhnya jarak atau udzur yang lain. Atau seseorang yang hidup sezaman dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ia belum masuk Islam melainkan setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Thobaqot ketiga : thobaqot pertengahan dari tabi’in (الطبقة الوسطى من التابعين), seperti al-Hasan (al-Bashri, pent) dan Ibnu Sirin, dan mereka adalah (berada pada) thobaqot yang meriwayatkan dari sejumlah Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

4. Thobaqot keempat : Tabi’in Kecil (صغار التابعين), mereka merupakan thobaqot yang sesudah thobaqot yang sebelumnya (thobaqot ke-3, pent). Kebanyakan riwayat mereka adalah dari kibar tabi’in (thobaqot ke-1, pent). Rowi yang dalam thobaqot ini contohnya adalah az-Zuhri dan Qotadah.

5. Thobaqot kelima : Thobaqot yang paling kecil dari tabi’in (الطبقة الصغرى من التابعين), mereka adalah yang lebih kecil dari yang thobaqot-thobaqot tabi’in yang sebelumnya. Dan mereka adalah termasuk tabi’in, mereka melihat seorang atau beberapa orang Shahabat. Contoh thobaqot ini adalah Musa bin ‘Uqbah dan al-A’masy.

6. Thobaqot keenam : thobaqot yang sezaman dengan thobaqot ke-5 (عاصروا الخامسة), akan tetapi tidak tetap khobar bahwa mereka pernah bertemu seorang Shahabat seperti Ibnu Juraij.

7. Thobaqot ketujuh : thobaqot Kibar Tabi’ut Tabi’in (كبار أتباع التابعين), seperti Malik dan ats-Tsauri.

8. Thobaqot kedelapan : thobaqot Tabi’u Tabi’in Pertengahan (الوسطى من أتباع التابعين), seperti Ibnu ‘Uyainah dan Ibnu ‘Ulaiyyah.

9. Thobaqot kesembilan : thobaqot yang paling kecil dari Tabi’ut Tabi’in (الصغرى من أتباع التابعين), seperti Yazid bin Harun, asy-Syafi’i, Abu Dawud ath-Thoyalisi, dan Abdurrozzaq.

10. Thobaqot kesepuluh : thobaqot tertinggi yang mengambil hadits dari Tabi’ut Taabi’in (كبار الاخذين عن تبع الاتباع) yang mereka tidak bertemu dengan tabi’in, seperti Ahmad bin Hanbal.

11. Thobaqot kesebelas : thobaqot pertengahan dari rowi yang mengambil hadits dari Tabi’ut Tabi’in (الوسطى من الاخذين عن تبع الاتباع), seperti adz-Dzuhli dan al-Bukhori.

12. Thobaqot keduabelas : thobaqot yang rendah dari rowi yang mengambil hadits dari Tabi’ut Tabi’in (صغار الاخذين عن تبع الاتباع), seperti at-Tirmidzi dan para imam yang enam lainnya yang tertinggal sedikit dari wafatnya para tabi’ut tabi’in, seperti sebagian para syaikh-nya an-Nasa’i.

[diterjemahkan dari kitab “Syarh ‘Ilalil Hadits ma’a As-ilah wa Ajwibah fi Mushtholahil Hadits” hal. 74-75, karya asy-Syaikh Mushthofa al-‘Adawi]

————-
Tambahan 1 :
————-
Keterangan al-Imam Ibnu Hajar :
Jika dari thobaqot ke-1 dan ke-2 : mereka wafat sebelum tahun 100 H.
Jika dari thobaqot ke-3 sampai ke-8 : mereka wafat setelah tahun 100 H.
Jika dari thobaqot ke-9 sampai akhir thobaqot : maka mereka wafat setelah tahun 200 H, dan yang keluar dari batasan ini maka aku menjelaskannya (dalam kitab taqrib, pent).

[Dari Muqoddimah Taqribut Tahdzib]

————-
Tambahan 2 : Para Rowi yang Masyhur
————-
1. Thobaqot yang pertama : para shahabat (الصحابة).
InsyaAllah mereka sudah masyhur bagi kita, jadi tidak perlu disebutkan di sini.

2. Thobaqot yang kedua : thobaqot Kibar Tabi’in (كبار التابعين).
Sa’id bin al-Musayyib, Abu Wa’il Syaqiq bin Salamah, Masruq bin al-Ajda’, Abul ‘Aliyah, Syuraih bin al-Harits al-Qodhi, al-Ahnaf bin Qois, Muhammad bin al-Hanafiyyah (yakni Muhammad bin ‘Ali bin Abi Tholib), Abu Idris al-Khoulani, ‘Atho’ bin Yasar (bekas budak Maimunah), Shilah bin Zufar, dll.

3. Thobaqot ketiga : thobaqot pertengahan dari tabi’in (الطبقة الوسطى من التابعين).
‘Atho’ bin Abi Robah, Muhammad bin Sirin, Sa’id bin Jubair, al-Hasan al-Bashri, Sulaiman bin Yasar, Thowus bin Kaisan, ‘Amir asy-Sya’bi, ‘Urwah bin Zubair, ‘Ikrimah, ‘Ali bin al-Husain bin ‘Ali bin Abi Tholib (dikenal juga dengan Zainul Abidin), Mujahid, Nafi’ (bekas budak Ibnu ‘Umar), Abu Qilabah al-Jarmi, Wahb bin Munabbih, Salim bin Abdillah bin ‘Umar bin al-Khoththob, Hafshoh bintu Sirin, dll.

4. Thobaqot keempat : Tabi’in Kecil (صغار التابعين).
Maimun bin Mihron, Sulaiman bin Thorkhon At-Taimi, Qotadah bin Di’amah, Ibnu Syihab Az-Zuhri, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz (Sang Amirul Mu’minin), Amr bin Dinar, dll.

5. Thobaqot kelima : Thobaqot yang paling kecil dari tabi’in (الطبقة الصغرى من التابعين).
Ibrohim An-Nakho’i, Ayyub As-Sikhtiyani, Hisyam bin Urwah, Yahya bin Sa’id Al-Anshori, Yahya bin Abi Katsir At-Tho’i, Sulaiman bin Mihron al-A’masy, Mak-hul asy-Syami, Yunus bin ‘Ubaid, dll.

6. Thobaqot keenam : thobaqot yang sezaman dengan thobaqot ke-5 (عاصروا الخامسة).
An-Nu’man bin Tsabit Abu Hanifah (al-Imam), Ja’far ash-Shodiq, Abdul Malik bin Juraij, Ibnu ‘Aun, dll.

7. Thobaqot ketujuh : thobaqot Kibar Tabi’ut Tabi’in (كبار أتباع التابعين).
Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas (Imam Darul Hijroh, penulis al-Muwaththo’), al-Laits bin Sa’ad, Abdurrohman bin ‘Amr al-Auza’i, Syu’bah bin al-Hajjaj, Ma’mar bin Rosyid, dll.

8. Thobaqot kedelapan : thobaqot Tabi’u Tabi’in Pertengahan (الوسطى من أتباع التابعين).
Abdullah bin al-Mubarok, Sufyan bin ‘Uyainah, Fudhail bin ‘Iyadh, Hammad bin Zaid, Hammad bin Salamah, Ibnu ‘Ulaiyyah, dll.

9. Thobaqot kesembilan : thobaqot yang paling kecil dari Tabi’ut Tabi’in (الصغرى من أتباع التابعين).
Abdurrahman bin Mahdi, Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (al-Imam), Waki’ bin al-Jarroh, Abdurrozzaq ash-Shon’ani (Penulis Mushonnaf Abdirrozzaq), Sulaiman bin Harb, Yahya bin Sa’id al-Qoththon, Abu Dawud ath-Thoyalisi (Penulis Musnad ath-Thoyalisi), Yazid bin Harun, dll.

10. Thobaqot kesepuluh : thobaqot tertinggi yang mengambil hadits dari Tabi’ut Taabi’in (كبار الاخذين عن تبع الاتباع).
Ahmad bin Muhammad bin Hanbal (Imam Ahlis Sunnah wal Jama’ah), Yahya bin Ma’in, Ishaq bin Rohawaih, Ibnu Abi Syaibah (Penulis Mushonnaf Ibni Abi Syaibah), Musaddad bin Musarhad, Sa’id bin Manshur (Penulis Sunan Sa’id bin Manshur), Ali bin al-Madini, dll.

11. Thobaqot kesebelas : thobaqot pertengahan dari rowi yang mengambil hadits dari Tabi’ut Tabi’in (الوسطى من الاخذين عن تبع الاتباع).
Muhammad bin Isma’il al-Bukhori (Penulis Shohih al-Bukhori), Abu Hatim ar-Rozi, Abu Zur’ah ar-Rozi, Abu Dawud as-Sijistani (penulis Sunan Abi Dawud), Abdullah bin Abdurrahman ad-Darimi (Penulis Sunan ad-Darimi), Muhammad bin Sa’ad bin Mani’ (Ibnu Sa’ad, Penulis ath-Thobaqot al-Kubro), dll.

12. Thobaqot keduabelas : thobaqot yang rendah dari rowi yang mengambil hadits dari Tabi’ut Tabi’in (صغار الاخذين عن تبع الاتباع).
Muhammad bin ‘Isa at-Tirmidzi (Penulis Jami’ at-Tirmidzi), Ibnu Abid Dunya al-Baghdadi, Abdullah bin Ahmad (anak al-Imam Ahmad bin Hanbal).

Maroji’ : al-Maktabah asy-Syamilah v.2

 —————

Catatan kaki:

[*] Baru-baru ini [maret 2007] kami mendengar dari beberapa sumber bahwa “ada mulahadhot2” terhadap Syaikh Musthofa al-Adawi, bahkan dikatakan “mulahadhot kabiroh”. Wallahu A’lam.

5 Tanggapan

  1. Bagaimana hukumnya tentang musik, menurut hadist shohih

    harom

  2. Assalamu’alaikum wr wb

    Shubhanallah, Maha Suci Allah. Mohon doanya agar kami bisa lebih optimal ikut memberikan sumbangsih dalam dakwah Islam.

    PUSTAKA DIGITAL AL-KUBRO
    Ma’had Tahfizhul Qur’an Isy Karima beserta Isy Karima Center bermaksud memperkenalkan Pustaka Digital Kubro, yaitu perpustakaan kitab kuning digital yang lebih lengkap. Software ini terilhami dari beberapa software program Pustaka atau Mausu’ah Digital yang sudah beredar di Makkah, Madinah, dan sebagainya baik dalam bentuk CD, DVD ataupun eksternal hardisk. Jumlah kitab yang ada dalam software Pustaka Digital Kubro ini mencapai lebih dari 2500 judul yang terdiri lebih dari 20.000 jilid. Jika judul kitab dalam jumlah tersebut kita beli dalam versi cetaknya, kita butuh dana sekurang-kurangnya 1 miliar rupiah. Dengan Pustaka Digital Kubro, Anda bisa bisa memiliki 2500 kitab itu dengan harga jauh lebih murah. .
    PUSTAKA DIGITAL AL-KUBRO adalah Perpustakaan Elektronik pertama dan terlengkap, dengan keunikan dan keistimewaan sebagai berikut :
    1. Jumbo database : Memuat 2500 judul (20.000 Jilid kitab) dan bisa diupgrade sendiri setiap saat.
    2. Mengandung Kitab Muktabar Klasik dan Kitab modern populer, database kitab terdiri dari kitab rujukan utama dan kitab modern aktual berbahasa Arab.
    3. Costumize, program bisa diatur/diganti sesuai keinginan antara lain pada program:
    A. Database,meliputi : kapasitas data, teks, tema, dan struktur database.
    B. Background window utama,wallpaper window utama bisa diganti dengan gambar/wallpaper sesuai kesenangan.
    C. Sub window/display,meliputi: jenis/ukuran/warna font/huruf dll.
    D. Editing/tashih, kesalahan yang mungkin terjadi pada teks naskah, bisa diedit untuk dibenarkan atau bisa juga ganti dari huruf Arab ke Latin.
    4. Menu pencarian data variatif, pencarian data bisa atas dasar kata, tema, judul kitab, grup disiplin ilmu dan lain lainnya.
    5. Aneka fasilitas bantu baca antara lain :
    A. Batas baca halaman di setiap kitab.
    B. Stabilo/tanda/catatan untuk hal penting saat baca.
    C. Catatan khusus untuk hal penting/kesimpulan.
    6. Insert Lampiran Digital,setiap judul/tema kitab bisa ditambahkan lampiran sendiri dengan berbagai bentuk format data yang dianggap berhubungan dengan tema kitab, baik data video, audio, dll.
    7. Instan translator, program dilengkapi dengan software penerjemah instan yang memungkinkan untuk menerjemahkan langsung halaman perhalaman kitab dengan sistem copy paste ke dalam berbagai bahasa dunia.
    8. Smart Solution, solusi hemat dan tepat untuk semua. Memiliki koleksi perpustakaan yang sangat lengkap sebagai aset tak ternilai, kini cukup hanya dengan biaya ringan dan fisik mungil nan praktis.
    9. Efektif dan efesiensi, sistem akses data dan pencarian kata/tema cepat, akurat dan variatif.
    10. Flexible,dengan paket USB eksternal hardisk, bisa dibawa kemana saja dan bisa digunakan kapan saja.

    Kami menunggu konfirmasi selanjutnya. Semoga hidayah-Nya menyertai setiap langkah hidup kami dan para Kyai dan asatidz serta santri di sana, dan untuk ummat seluruh alam.

    Wassalamu’alaikum wr wb

    Wa’alaikumussalaam wa rohmatulloh wa barokaatuh,
    Kalau antum pake softwarenya maktabah syamilah 2, coba diperhatikan bahwa mereka tidak ingin softwarenya diperjual belikan, mereka menyebarkannya secara gratis…

  3. assalamu alaikum

    maaf apa yg anda maksud dengan:
    “ada mulahadhot2″ terhadap Syaikh Musthofa al-Adawi, bahkan dikatakan “mulahadhot kabiroh”

    sebenarnya kita thalibul ilm harus tabayyun dalam berita dan tidak mudah memvofis ulama. toh kita tholib yg masih kecil terkadang juga dasar2 ilmu islam kita belum mantap, apatah lagi mengkritisi ulama yang sebenarnya kebanyakan kesalahpahaman dan kedangkalan ilmu kita.

    alhamdulillah kami di mesir ini, bisa mengerti kalau manhaj syaikh musthofa masih lurus yaitu Ahlussunnah, walaupun ada ikhwah yg bilang kalo syaikh musthofa manhajnya kurang, padahal mereka sendiri tdk paham apa arti manhaj dan cakupannya.

    semoga bisa menjadi masukan untuk ikhwah fillah dimana saja

    wassalam

    wa’alaikumussalam wa rohmatulloh,

    Jazakumullah khoiron atas masukannya.

    Perkataan tersebut ana dengar dari rekaman dauroh masyayikh urdun (yakni dalam suatu sesi tanya jawab bersama Syaikh Ali al-Halabi, dan perkataan ada mulahadhot kabiroh itu dari beliau), dan juga adanya sebuah kitab oleh Syaikh Ahmad bin Abil Ainain (mungkin antum bisa re-cek ke beliau) yang mengkritik Syaikh Mustofa al-Adawi, dll. Dan para ‘ulama biasa saling mengkritik diantara mereka.

    al-Hamdulillah ana tidak pernah memvonis Syaikh Mustofa al-Adawi sebagai mubtadi’ dan sebagainya, dan ana sendiri masih sering mengambil faidah dari kitab2 beliau seperti Jami’ Ahkamin Nisa, Tarbiyatul Abna, dll. Semoga beliau memang yang seperti antum katakan.

    Wallohu A’lam.

  4. Mohon untuk format doc-nya. Sangat dibutuhkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: