KEDUDUKAN KHABAR AHAD (BAGIAN 2)

KEDUDUKAN KHABAR AHAD (BAGIAN 2)
        
[Tulisan berikut ini kami ringkas dari Risalah Magister (Thesis) seorang shahabat kami, al-Akh Ahmad bin Basyir al-Jaza’iri -hafidzohullah-, seorang Tholibul ‘Ilmi Salafi yang pernah “terdampar” di Indonesia. Risalah tersebut berjudul “Manhajul Istidlal bi Khobaril Aahaad fii Madzhabil Maliki”, semoga bermanfaat…..]
     
DALIL-DALIL DARI SUNNAH
      
         Adapun dalil dari Sunnah yang mewajibkan untuk mengamalkan khabar ahad bisa dibilang sangat banyak, yang secara keseluruhan dapat dipastikan mengarah kepada kehujjahan khabar ahad. Dalam hal ini penulis akan menguraikan sebagian saja karena tidak memungkinkan untuk dibahas secara kesuluruhan dalam tulisan ini. Di antara hadits yang menerangkan tentang hal tersebut adalah;
        
1. Beberapa riwayat Mutawatir dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkaitan dengan beberapa utusan yang dikirim beliau ke beberapa daerah untuk menyampaikan agama Islam, dan perintah beliau kepada mereka untuk menerima ajaran agama yang dibawa oleh setiap utusan tersebut.

         Dalam hal ini beberapa khabar Mutawatir menerangkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengrimkan utusan, wakil dan sejumlah pegawai dari beliau ke sejumlah daerah, qabilah dan negara, sedangkan mereka menyampaikan hal itu secara sendirian (ahad). Mereka tidak diutus melainkan untuk menyampaikan ajaran agama, mengajarkan hukum-hukum syariat serta menarik sedekah. Salah satu contohnya adalah ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abu Bakar sebagai Amirul Hajj (pemimpin dalam melaksanakan manasik haji) pada tahun 9 Hijriyyah. Pada tahun yang sama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengutus Ali bin Abi Thalib untuk membacakan kepada para sahabat beberapa ayat dari surat Baraah pada hari raya Idul Adhha, sebagaimana beliau mengutus Ali bin Abi Thalib sebagai qadhi di Yaman. Beliau juga telah mengutus Mu’adz bin Jabal sebagai qadhi dan pemungut zakat di Yaman, mengankat ‘Attab bin Usaid sebagai Amir (pemuka, pemimpin) di Makkah, Utsman bin Abi al-‘Ash sebagai pemimpin golongan Thaif, al-‘Alla’ bin al-Hadhrami sebagai pemimpin di Bahrain, ‘Amr bin al-‘Ash sebagai pemimpin di Omman, Abu Sufyan bin Harb sebagai pemimpin Najran, Mus’ab bin ‘Umair sebagai pemimpin di Madinah dan lain sebagainya seperti banyak diriwayatkan.[1]
        
         Imam Syafi’i berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengirim dalam satu kurun waktu sebanyak 12 utusan kepada 12 raja untuk mengajak mereka masuk Islam, beliau tidak mengirimkan utusan kecuali kepada mereka yang telah mendengar atau sampai dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan telah datang hujjah kepada mereka.[2]
        
         Imam Syafi’i juga mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutus beberapa kelompok orang, dan setiap kelompok dipimpin oleh satu orang, mengirimkan beberapa utusan kepada para raja, setiap raja dikirim seorang utusan. Di samping itu beberapa surat beliau telah dikirimkan kepada para sejumlah pemimpin di daerah tekait dengan beberapa perintah dan larangan beliau, yang mana tidak ada satu pun di antara mereka yang tidak melaksanakan perintah tersebut, dan demikian juga yang dilakukan oleh para khalifah setelahnya.[3]
        
         Imam Bukhari telah membuat bab dalam kitab shahihnya dengan judul: Bab yang berkaitan dengan kebijakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengirimkan para pemimpin dan utusan secara satu per satu”. Ibn Abbas berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengirimkan surat kepada pembesar kerajaan Bushra, agar supaya diberikan kepada kaisar/raja.[4]
                 
         Apabila dikatakan bahwa khabar ahad tidak bisa dipakai sebagi hujjah dalam menyampaikan ajaran agama, niscaya pengiriman utusan dan pemimpin yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada gunanya. Sehingga dalam hal ini Ibnu al-Sam’ani memberikan komentarnya dengan mengatakan: dengan semua uraian di atas sudah jelas bahwa khabar ahad harus dilaksanakan sebagaimana melaksanakan khabar yang diriwayatkan oleh banyak perawi. Ini merupakan dalil yang Qath’i yang tidak memberikan alasan bagi seoranpun untuk mengingkarinya [5].

         Dalam masalah pengiriman utusan kepada sejumlah raja, Ibn Hazm berkata: Masalah pengiriman sejumlah utusan merupakan riwayat yang masyhur tanpa ada perbedaan pendapat di antara para ulama, semuanya diriwayatkan oleh sejumlah perawi yang sangat banyak, yang pada prinsipnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan setiap raja dan rakyatnya untuk menerima setiap ajaran agama yang dibawa oleh seorang utusan [6]. Dalil ini disandarkan kepada perkara yang sudah Mutawatir, tidak ada yang meragukannya kecuali orang yang ingkar dan tidak ada yang menolaknya kecuali orang yang menentang dengan keras kepala, demikian ungkapan Imam al-Juwaini [7].
         
2. Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:
        
نضَّرَ الله امرأً سمع مقالتي فحفظها ووعاها وأداها كما سمعها فرب حامل فقه إلى من هو أفقه منه ، ورب حامل فقه ليس بفقيه
        
         “Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar perkataanku, kemudian ia menghafalkan, memahami dan menyampaikan sebagimana ia mendengarkannya. Berapa banyak orang yang faham akan perkataanku akan menyampaikan kepada orang yang lebih faham darinya, dan berapa banyak orang yang menyampaikan perkataanku namun ia tidak memahaminya. ” [8]
        
نضَّر الله امرأً سمع منا حديثا فأداه كما سمعه ، فرب مُبلَّغ أوعى مِن سامع
        
         Dalam riwayat lain dengan redaksi: “Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala mencerahkan wajah orang yang mendengar sebuah hadits dariku kemudian ia menyampaikan kepada orang lain sebagaimana ia mendengarkannya, karena berapa banyak orang yang disampaikan sebuah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya, ia lebih memahami dari yang mendengar langsung.” [9]
        
         Imam Syafi’i berkata: Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk mendengarkan, menghafalkan dan menyampaikan perkataan beliau, maka anjuran tersebut merupakan sebuah perintah yang mana beliau sendiri tidak akan memerintahkan sesuatu kecuali dengan sesuatu yang bisa dijadikan sebagai hujjah bagi orang yang menyampaikannya. [10]
        
3. Dari Abdullah bin Umar bahwa ia berkata:
        
بينما الناس بقباء في صلاة الصبح، إذ جاءهم آت ، فقال : إن رسول الله قد أُنزل عليه الليلة قرآن . وقد أمِرَ أن يستقبل الكعبة. فاستقبلوها. وكانت وجوههم إلى الشام ، فاستداروا إلى الكعبة
        
         “Ketika para sahabat melakukan shalat subuh di masjid Quba’, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki dan berkata: Pada malam ini, telah diturunkan al-Quran kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau diperintahkan untuk menghadap kiblat dalam shalat. Maka merekapun menghadap kiblat ke arah Ka’bah setelah mereka menghadap ke negeri Syam (Baitul al-Maqdis) dalam melaksanakan shalat, merekapun kemudian berputar menghadap ka’bah dalam shalat.” [11]
        
         Adapun kehujjahan hadits tersebut dalam mengamalkan hadits ahad sangatlah jelas, karena para sahabat yang telah melaksanakan shalat dengan meghadap Baitul Maqdis merubah arah kiblatnya dalam shalat berdasarkan khabar yang sampai kepada mereka bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menghadap ka’bah, kemudian merekapun membenarkan khabar tersebut dan mengamalkannya seketika itu. Dalam hal ini tidak mungkin bagi mereka untuk pindah arah kiblat berdasarkan khabar, kecuali mereka meyakini bahwa khabar seperti itu bisa dijadikan sebagai hujjah.
        
         Imam Syafi’i berkata: Apabila mereka tidak menerima kehujjahan khabar ahad yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perubahan arah kiblat, niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengatakan kepada mereka: “Kalian telah melaksanakan shalat dengan menghadap kiblat (Baitul Maqdis), dan kalian tidak boleh merubah arah kiblat tersebut kecuali berdasarkan keyakinan yang bisa dijadikan sebagai hujjah, baik dengan mendengar langsung dari saya, atau melalui khabar yang populer, atau khabar dari saya yang disampaikan oleh lebih dari satu orang”. [12]
        
         Ibnu ‘Abdil Barr berkata: Hadits ini merupakan dalil bagi diterimanya khabar ahad, sekaligus kewajiban untuk mengamalkannya, karena para sahabat telah mengamalkan dan menghukUmmu perpindahan arah kiblat berdasarkan khabar ahad tanpa ada seorang sahabatpun yang mengingkarinya termasuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Hal ini cukup sebagai dasar yang kuat mengingkat hal itu terjadi pada sebuah masa yang disebut dengan sebaik-baiknya masa dalam sejarah Islam, yaitu masa hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [13]
        
          Imam al-Qurtubi berkata: Dalam ayat
        
﴿ سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِن النَّاس…  ﴾
        
“Orang-orang yang sedikit akalnya (orang-orang yahudi dan orang-orang yang mengingkari perubahan arah kiblat shalat) akan berkata… ”(QS. Al-Baqarah: 142)
        
         Di dalamnya terdapat dalil bagi adanya kepastian (kebenaran) dalam khabar ahad, hal itu karena menghadap kiblat Baitul Maqdis merupakan ketentuan yang sudah pasti dalam syari’ah mereka, kemudian ketika seseorang datang kepada penduduk Quba’ dan memberitakan bahwa arah kiblat telah dipindah ke Masjidil Haram, merekapun secara serta merta menerima berita tersebut dan berputar ke arah Ka’bah. Artinya, mereka telah meninggalkan perbuatan yang didasarkan kepada khabar Mutawatir dengan khabar ahad yang kebenarannya bersifat dzann (dugaan). [14]
        
4. Dalil keempat.
        
وعن عطاء بن يسار ؛ أن رجلا قبَّل امرأته وهو صائم في رمضان ، فوجد من ذلك وجداً شديداً . فأرسل امرأته تسأل له عن ذلك . فدخلت على أم سلمة ؛ زوج النبي فذكرت ذلك لها ، فأخبرتها أم سلمة : أن رسول الله يقبل وهو صائم . فرجعتْ فأخبرتْ زوجها بذلك . فزاده ذلك شرا ، وقال : لسنا مثل رسول الله . الله يحل لرسوله ما يشاء . ثم رجعت امرأته إلى أم سلمة . فوجدت عندها رسول الله . فقال رسول الله : « ما لهذه المرأة ؟ » فأخبرته أم سلمة. فقال رسول الله : « ألا أخبرتيها أني أفعل ذلك ؟ » فقالت : قد أخبرتها . فذهبت إلى زوجها فأخبرته . فزاه ذلك شراً . وقال : لسنا مثل رسول الله. يُحِلُّ لرسوله ما شاء . فغضب رسول الله، وقال : « والله إني لأتقاكم لله ، وأعلمكم بحدوده
     
        Dari ‘Atha’ bin Yassar, bahwa seorang laki-laki telah mencium istrinya dalam keadaan puasa di bulan Ramadhan sehingga menimbulkan gairah libido yang tinggi. Orang tersebut kemudian memerintahkan istrinya untuk menanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Kemudian ia menemui Ummu Salamah, istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian tersebut. Kemudian Ummu Salamah menceritakan kepadanya bahwa beliau pernah mencium salah satu istrinya dalam keadaan puasa. Wanita itu pun pulang dan menyampaikan berita tersebut kepada suaminya. Sang suami pun marah dan berkata: Kita ini tidak sama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah Subhanahu wa ta’ala bisa saja menghalalkan segala sesuatu bagi rasul-Nya, ia pun kembali menemui Ummu Salamah dan mendapatkan Rasulullah berada di sampingnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ada apa dengan wanita ini? Ummu Salamah pun menceritakan segala sesuatunya, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: “Apa belum kamu sampaikan bahwa sayapun telah melakukan hal itu?” Ummu Salamah berkata: “Aku telah katakan hal itu”. Kemudian wanita itupun kembali ke suaminya dan menceritakan apa yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya. Namun sang suami tetap marah, ia berkata: Kita ini tidak sama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dihalalkan untuk melakukannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  pun marah dan bersabda: “Demi Allah, saya ini adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian dan orang yang lebih tahu dengan aturan-aturan-Nya. [15]
        
         Imam Syafi’i berkata: “Tentang sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang mengatakan:”Apakah belum kamu sampaikan kepadanya bahwa aku telah melakukan hak itu?” Ini merupakan dalil bahwa khabar Ummu Salamah  yang berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  merupakan khabar yang boleh diterima, karena beliau tidak memerintahkan untuk menyampaikan khabar beliau kecuali khabar tersebut merupakan hujjah bagi orang yang menerima khabar itu. Demikian juga dengan khabar sang istri tersebut apabila ia termasuk golongan orang yang jujur. [16]
        
         Al-Hafidh Ibnu Abdul Bar menambahkan kesimpulan lain dari hadits tersebut secara lebih jelas, ia mengatakan: “Adapun dalil dari pendapat kami tentang pengamalan hadits ahad adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  kepada Ummu Salamah: “ Apakah kamu belum menyampaikan hal itu kepadanya?” Hal ini menunjukkan bahwa khabar Ummu Salamah wajib untuk diamalkan. Karena apabila khabar Ummu Salamah tersebut tidak mengikat bagi sang istri tersebut, dan khabar sang istri tidak mengikat bagi sang suami, niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  tidak mengatakan kepada Ummu Salamah: Apakah kamu belum menyampaikan hal itu kepadanya?” Karena sang istri juga berkata: “Bagaimana ini, saya menyampaikan berita ini secara sendiri dari Anda? Adakah manfaat dari berita yang saya terima secara sendirian dari Anda? Atau bagaimana seorang wanita menyampaikan khabar secara sendirian kepada suaminya? Ini semua menerangkan akan kewajiban untuk mengamalkan khabar ahad, apabila diriwayatkan oleh seorang yang adil. [17]
        
5. Dalil kelima:
          
عن أبي هريرة وزيد بن خالد الجهني أنهما قالا : « إن رجلا من الأعراب أتى رسول الله `، فقال  يا رسول الله ؛ أنشدك الله إلا قضيتَ لي بكتاب الله . فقال الخصم الآخر – وهو أفقه منه – : نعم ؛ فاقض بيننا بكتاب الله ، وأذن لي . فقال رسول الله ` : قل ، قال : إن ابني كان عسيفا على هذا فزنى بامرأته ، وإني أُخبِرتُ أن على ابني الرجم فافتديتُ منه بمائة شاة ووليدة ، فسألتُ أهلَ العلم فأخبروني أن على ابني جلد مائة وتغريب عام ، وأن على امرأة هذا الرجم . فقال رسول الله ` : « والذي نفسي بيده لأقضين بينكما بكتاب الله ؛ الوليدة والغنم رد عليك ، وعلى ابنك جلد مائة وتغريب عام . واغد يا أنيس إلى امرأة هذا ، فإن اعترفت فارجمها » ، قال : فغدا عليها فاعترفتْ ، فأمرَ بها رسول الله ` فرُجمَتْ »
        
           Dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid al-Juhani, keduanya mengatakan: “Seorang laki-laki dari dari suku Arab Badui datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh saya datang kepadamu agar kamu menghukumi saya dengan kitabullah”. Kemudian seorang lawan hukumnya (yang lebih faham tentang agama darinya) mengatakan: “Saya setuju, hukumilah kami dengan kitab Allah”. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: ‘Katakanlah apa yang terjadi!” Seorang Badui tersebut berkata: “Anak saya adalah seorang pekerja bagi orang ini, kemudian melakukan zina dengan istri orang itu”. Saya telah mendengar khabar bahwa anak saya harus dihukum rajam dan saya telah menebusnya dengan seratus kambing sekaligus anak kambing yang lahir darinya., kemudian saya bertanya kepada orang-orang yang berilmu dan mengatakan kepada saya bahwa anak saya harus dihukum cambuk seratus kali dan diasingkan selama satu tahun, sedangkan bagi sang istri yang berzina tersebut hukuman rajam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh aku akan menghukUmmu kalian berdua dengan kitabullah: semua kambing beserta anaknya dikembalikan kepadamu, sedangkan anakmu harus dicambuk seratus kali dan diasingkan selama setahun. Wahai Unais, pergilah kepada wanita itu, apabila ia mengaku berzina, maka rajamlah ia. Maka Unais pun pergi kepada wanita tersebut, dan iapun mengaku berzina. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  memerintahkan hukuman rajam dan dirajamlah wanita itu.[18]
        
         Hadits tersebut diatas dijadikan dasar oleh Imam Syafi’i untuk menerima kehujjahan hadits ahad, hal itu sebagaimana diuaraikan oleh Imam Syafi’i dalam sebuah bab yang diberi judul: “Kehujjahan dalam penggunaan khabar ahad”.[19]
        
         Ibnu Abdil Bar berkata: Dalam hadits ini juga terkandung penetapan terhadap kehujjahan khabar ahad, dan kewajiban untuk mengamalkannya dalam masalah hudud (hukuman pidana yang telah ditetapkan), dan apabila khabar ahad bisa dijadikan hujjah dalam masalah hudud, maka dalam masalah hukum yang lain lebih patut untuk diterima.[20]
        
6. Dalil Keenam:
        
عن أنس بن مالكzقال : كنتُ أسقي أبا طلحة الأنصاري وأبا عبيدة بن الجراح وأبي بن كعب شرابا من فضيخ وهو تمر، فجاءهم آت؛ فقال: إن الخمر قد حُرِّمتْ. فقال أبو طلحة : يا أنس قم إلى هذه الجرار فاكسرها. قال أنس : فقمتُ إلى مهراس لنا فضربتُها بأسفله حتى انكسرت
        
Dari Anas bin Malik berkata: Saya telah memberi minuman yang terbuat dari air kurma kepada Abu Thalhah al-Anshari dan Abu ‘Ubaidah al-Jarrah dan Ubay bin Ka’b, kemudian datanglah seorang laki-laki dan mengatakan: sesungguhnya khamr telah diharamkan. Abu Thalhah berkata: Wahai Anas, Ambillah tempat minuman itu lalu pecahkanlah. Anas berkata: kemudian saya mengambil sejenis palu dan saya pukulkan ke bagian bawah tempat minuman tersebut sehingga pecah.[21]
        
         Imam Syafi’i berkata: Mereka para sahabat tidak diragukan lagi kedekatannya dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , pada masa di mana minuman tersebut halal untuk dikonsumsi, kemudian datanglah seseorang yang membawa khabar tentang pengharaman khamr, maka dengan seketika Abu Thalhah (sebagai pemilik tempat minuman) memerintahkan untuk memecahkannya. Dia tidak sampai banyak bertanya, demikian juga para sahabat yang lain: bagaimana ini kami telah diizinkan untuk meminumnya, dan tunggu dulu sampai kita menanyakan langsung kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau sampai datang khabar dari orang banyak tentang hal itu.[22]
        
         Ibnu Abdil Bar berkata: hadits ini juga mengandung pemahaman untuk menerima hadits ahad, karena mereka (para sahabat) telah menerima khabar yang disampaikan oleh seseorang dari umat Islam, yang tidak diragukan lagi bahwa ia telah menerima khabar itu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sehingga merekapun menerima dan mengamalkan untuk kemudian menumpahkan semua minuman khamr yang ada pada mereka. Mereka telah menyimpan sejumlah minuman khamr, karena sebelumnya memang belum diharamkan.[23]
        
         Dengan demikian, dalil-dalil dari sunnah yang menerangkan akan kehujjahan khabar ahad dan kewajiban untuk mengamalkannya jumlahnya sangatlah banyak dan tidak mungkin diuraikan semua di sini, yang sebagian telah diuraikan secara sempurna oleh Imam Syafi’i dalam kitabnya “al-Risalah.”
      
—————-
Footnote
[1] Lihat: al-Syafii, al-Risalah, hal. 414 dan seterusnya, dan Ibn Hajar dalam Fath al-Bari 13/241
[2] al-Syafii, al-Risalah, hal. 417
[3] Dikutip dari Ibn Hajar dalam Fath al-Bari 13/241
[4] al-Bukhari, al-Shahih dengan Syarh Fath al-Bari 13/241
[5] Qawathi’ al-Adillah, 2/272-273
[6] Ibn Hazm, al-Ihkam, 1/104
[7] al-Juwaini, al-Burhan fi Ushul Fiqh, 1/600
[8] Dikeluarkan oleh al-Syafii dalam kitab al-Risalah, hal. 401, Abu Dawud hadits No: 3660, Tirmidzi hadits 2656, Ibn Majah hadits 230.
[9] HR. At-Tirmidzi hadits  2657
[10] al-Syafii, al-Risalah, 402-403
[11]Malik, al-Muwaththa’ hadits 459, Bukhari hadits 395, 4218, 4224, 6824, dan Muslim hadits 526
[12] Al-Syafii, al-Risalah, 408
[13] Al-Tamhid 17/45 dan Fath al-Bari 13/237
[14] Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, 2/151
[15] Malik, al-Muwaththa’ hadits 641
[16] al-Syafii, al-Risalah, hal. 406
[17] Ibn Abd Al-Barr, al-Tamhid, 5/115-116
[18] HR. al-Bukhari, hadits 6440, dan Muslim hadits 1697
[19] al-Risalah, hal. 410
[20] al-Tamhid, 9/92
[21] HR. al-Bukhari hadits 6826
[22] al-Risalah, hal. 409-410
[23] Al-Tamhid, 1/257
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: