Hukum-hukum (الأحكـــــام)

Hukum-hukum (الأحكـــــام) 

Oleh: asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin –Rahimahullah

 

 

Al-Ahkam (الأحكام) adalah bentuk jamak dari hukum (حُكم), secara bahasa maknanya adalah keputusan/ketetapan (القضاء).

 

Dan secara istilah :

 

(ما اقْتضاه خطاب الشرع المتعلق بأفعال المكلفين من طلب، أو تخيير، أو وضع)

 

 “Apa-apa yang ditetapkan oleh seruan syari’at yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf (orang yang dibebani syari’at) dari tuntutan atau pilihan atau peletakan.”

 

Dan yang dimaksud dari perkataan kami : (خطاب الشرع) “seruan syari’at” : Al-Qur’an dan as-Sunnah.

 

Dan yang dimaksud dari perkataan kami : (المتعلق بأفعال المكلفين) “yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf“: apa-apa yang berhubungan dengan perbuatan mereka baik itu perkataan atau perbuatan, melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu.

 

Maka keluar dari perkataan tersebut apa-apa yang berhubungan dengan aqidah, maka tidak dinamakan hukum secara istilah.

 

Yang dimaksud dari perkataan kami : (المكلفين) “mukallaf” : siapa saja yang keadaannya dibebani syari’at, maka mencakup anak kecil dan orang gila.

 

Yang dimaksud dari perkataan kami : (من طلب) “dari tuntutan“: perintah dan larangan, baik itu sebagai keharusan ataupun keutamaan.

 

Yang dimaksud dari perkataan kami : (أو تخيير) “atau pilihan”: mubah (hal-hal yang dibolehkan)

 

Yang dimaksud dari perkataan kami : (أو وضع) “atau peletakan“: Sah, rusak, dan yang lainnya yang diletakkan oleh pembuat syari’at dari tanda-tanda, atau sifat-sifat untuk ditunaikan atau dibatalkan.

 

Pembagian hukum syari’at:

 

Hukum syari’at dibagi menjadi dua bagian : Taklifiyyah (Pembebanan) dan Wadh’iyyah (Peletakan).

 

Al-Ahkam at-Taklifiyyah ada lima : Wajib, mandub (sunnah), harom, makruh, dan mubah.

 

1. Wajib (الواجب) secara bahasa : (الساقط واللازم) “yang  jatuh dan harus”.

 

Dan  secara istilah :

 

(ما أمر به الشارع على وجه الإلزام)

 

“Apa-apa yang diperintahkan oleh pembuat syari’at dengan bentuk keharusan”, seperti sholat lima waktu.

 

Maka keluar dari perkataan kami : (ما أمر به الشارع) “Apa-apa yang diperintahkan oleh pembuat syari’at”, yang haram, makruh dan mubah.

 

Dan keluar dari perkataan kami : (على وجه الإلزام) “dengan bentuk keharusan”, yang mandub.

 

Dan suatu yang wajib itu pelakunya diganjar jika ia melakukannya untuk mendapatkan pahala (ikhlas), dan orang yang meninggalkannya berhak mendapatkan adzab.

 

Dan dinamakan juga : (فرضاً وفريضة وحتماً ولازما).

 

2. Mandub (المندوب) secara bahasa : (المدعوُّ) “yang diseru”.

 

Dan secara istilah :

 

(ما أمر به الشارع لا على وجه الإلزام)

 

“Apa-apa yang diperintahkan oleh pembuat syari’at tidak dalam bentuk keharusan”, seperti sholat rowatib.

 

Maka keluar dari perkataan kami : (ما أمر به الشارع) “Apa-apa yang diperintahkan oleh pembuat syari’at”, yang haram, makruh dan mubah.

 

Dan keluar dari perkataan kami : (لا على وجه الإلزام) “tidak dengan bentuk keharusan”, yang wajib.

 

Dan suatu yang mandub itu pelakunya diganjar jika ia melakukannya untuk mendapatkan pahala (ikhlas), dan orang yang meninggalkannya tidak mendapatkan adzab.

 

Dan dinamakan juga : (سنة ومسنوناً ومستحباً ونفلاً).

 

3. Haram (المحرم) secara bahasa : (الممنوع) “yang dilarang”.

 

Dan secara istilah :

 

(ما نهى عنه الشارع على وجه الإلزام بالترك)

 

“Apa-apa yang dilarang oleh pembuat syari’at dalam bentuk keharusan untuk ditinggalkan”, seperti durhaka kepada orang tua.

 

Maka keluar dari perkataan kami : (ما نهى عنه الشارع) “Apa-apa yang dilarang oleh pembuat syari’at”, yang wajib, sunnah dan mubah.

 

Dan keluar dari perkataan kami : (على وجه الإلزام بالترك) “dalam bentuk keharusan untuk ditinggalkan”, yang makruh.

 

Dan suatu yang haram itu pelakunya diganjar jika ia meninggalkannya untuk mendapatkan pahala (ikhlas), dan orang yang melakukannya berhak mendapatkan adzab.

 

Dan dinamakan juga : (محظوراً أو ممنوعاً)

 

4. Makruh (المكروه) secara bahasa : (المبغض) “yang dimurkai”.

 

Dan secara istilah :

 

(ما نهى عنه الشارع لا على وجه الإلزام بالترك)

 

“Apa-apa yang dilarang oleh pembuat syari’at tidak dalam bentuk keharusan untuk ditinggalkan”, seperti mengambil sesuatu dengan tangan kiri dan memberi dengan tangan kiri.

 

Maka keluar dari perkataan kami : (ما نهى عنه الشارع) “Apa-apa yang dilarang oleh pembuat syari’at”, yang wajib, sunnah dan mubah.

 

Dan keluar dari perkataan kami : (لا على وجه الإلزام بالترك) “tidak dalam bentuk keharusan untuk ditinggalkan”, yang haram.

 

Dan suatu yang makruh itu pelakunya diganjar jika ia meninggalkannya untuk mendapatkan pahala (ikhlas), dan orang yang melakukannya tidak  mendapatkan adzab.

 

5. Mubah (المباح) secara bahasa : (المعلن والمأذون فيه) “yang diumumkan dan diizinkan dengannya”.

 

Dan secara istilah :

 

(ما لا يتعلق به أمر، ولا نهي لذاته)

 

“Apa-apa yang tidak berhubungan dengan perintah dan larangan secara asalnya”. Seperti makan pada malam hari di bulan Romadhon.

 

Dan keluar dari perkataan kami : (ما لا يتعلق به أمر) “apa-apa yang tidak berhubungan dengan perintah”, wajib dan mandub.

 

Dan keluar dari perkataan kami : (ولا نهي) “dan pula larangan”, haram dan makruh.

 

Dan keluar dari perkataan kami : (لذاته) “pada asalnya”, apa-apa yang seandainya ada kaitannya dengan perintah karena keberadaannya (yakni suatu yang mubah) sebagai wasilah (yang menghantarkan) terhadap hal yang diperintahkan, atau ada kaitannya dengan larangan karena keberadaannya sebagai wasilah terhadap hal yang dilarang; maka bagi hal yang mubah tersebut hukumnya sesuai dengan apa-apa ia (yang mubah tersebut) menjadi wasilah baginya, dari hal yang diperintahkan atau yang dilarang. Dan yang demikian tidak mengeluarkannya (yakni hal yang mubah) dari keberadaannya sebagai sesuatu yang hukumnya mubah pada asalnya.

 

Dan mubah yang senantiasa berada pada sifat mubah (boleh), maka ia tidak mengakibatkan ganjaran dan tidak pula adzab.

 

Dan dinamakan juga : (حلالاً وجائزاً).

 

Al-Ahkam al-Wadh’iyyah (الأحكام الوضعية) :

 

Al-Ahkam al-wadh’iyyah adalah :

 

(ما وضعه الشارع من أمارات، لثبوت أو انتفاء، أو نفوذ، أو إلغاء)

 

“apa-apa yang diletakkan oleh pembuat syari’at dari tanda-tanda untuk menetapkan atau menolak, melaksanakan atau membatalkan.”

 

Dan diantaranya adalah sah (الصحة) dan rusak(الفساد)/tidak sah-nya sesuatu.

 

1. Sah (الصحيح) secara bahasa : (السليم من المرض) yang selamat dari penyakit.

 

Secara istilah :

 

(ما ترتبت آثار فعله عليه عبادةً كان أم عقداً)

 

“apa-apa yang pengaruh perbuatannya berakibat padanya, baik itu ibadah ataupun akad.”

 

Maka sah dalam ibadah : apa-apa yang beban terlepas dengannya (yakni ibadah yang sah) dan tuntutan gugur dengannya.

 

Dan sah dalam akad : apa-apa yang pengaruh adanya akad tersebut berakibat terhadap keberadaannya, seperti pada suatu akad jual beli berakibat kepemilikan.

 

Dan tidaklah sesuatu itu menjadi sah kecuali dengan menyempurnakan syarat-syaratnya dan tidak ada penghalang-penghalangnya.

 

Contohnya dalam ibadah : seseorang mendatangi sholat pada waktunya dengan menyempurnakan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya dan kewajiban-kewajibannya.

 

Contohnya dalam akad : seseorang melakukan akad jual beli dengan menyempurnakan syarat-syaratnya yang telah diketahui dan tidak adanya penghalang-penghalangnya.

 

Jika hilang satu syarat dari syarat-syarat yang ada, atau adanya penghalang dari penghalang-penghalangnya maka tidak dikatakan sah.

 

Contoh hilangnya syarat dalam ibadah : seseorang sholat tanpa bersuci.

 

Contoh hilangnya syarat dalam akad : seseorang menjual barang yang bukan miliknya.

 

Contoh adanya penghalang dalam ibadah : seseorang sholat sunnah mutlak pada waktu larangan.

 

Contoh adanya penghalang dalam akad : seseorang menjual sesuatu kepada orang yang wajib baginya sholat jum’at, sesudah adzan jum’at yang kedua dari sisi yang tidak dibolehkan.

 

2. Rusak / Fasid (الفاسد) secara bahasa : yang pergi dengan hilang dan rugi.

 

Dan secara istilah :

 

(ما لا تترتب آثار فعله عليه عبادةً كان أم عقداً)

 

“apa-apa yang pengaruh perbuatannya tidak berakibat kepadanya, baik itu ibadah atu akad.”

 

Fasid dalam ibadah : apa-apa yang beban tidak terlepas dengannya dan tuntutan tidak gugur dengannya; seperti sholat sebelum waktunya.

 

Fasid dalam akad : apa-apa yang pengaruh akad tersebut tidak berakibat padanya (tidak memiliki dampak); seperti menjual sesuatu yang belum ditentukan.

 

Dan semua yang fasid (rusak) dalam ibadah, akad dan syarat-syarat maka itu adalah haram. Karena yang demikian termasuk melampaui batasan-batasan Allah dan menjadikan ayat-ayat-Nya sebagai olok-olokan, dan karena Nabi shollallohu alaihi wa sallam mengingkari orang yang mensyaratkan syarat-syarat yang tidak ada dalam kitabullah (al-Qur’an).

 

Fasid dan batil memiliki makna yang sama kecuali dalam dua tempat:

 

Yang pertama: dalam ihrom, para ‘ulama membedakan keduanya, bahwa yang fasid adalah apabila seorang yang ihrom menyetubuhi istrinya sebelum tahallul awal; dan yang batil adalah apabila seseorang murtad dari Islam.

 

Yang kedua : dalam nikah; para ‘ulama membedakan keduanya, bahwa yang fasid adalah apa-apa yang diperselisihkan para ‘ulama dalam kerusakannya, seperti nikah tanpa wali; dan batil adalah apa-apa yang disepakati kebatilannya seperti menikahi wanita yang masih dalam `iddah-nya.

 

***

 

[Diterjemahkan oleh Abu SHilah & Zaujatuhu dari kitab al-Ushul min ‘Ilmil Ushul, oleh asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin –Rahimahullah-]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: