KEDUDUKAN KHABAR AHAD (Bagian 1)

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه, أما بعد :

[Tulisan berikut ini kami ringkas dari Risalah Magister (Thesis) seorang shahabat kami, al-Akh Ahmad bin Basyir al-Jaza’iri -hafidzohullah-, seorang Tholibul ‘Ilmi Salafi yang pernah “terdampar” di Indonesia. Risalah tersebut berjudul “Manhajul Istidlal bi Khobail Aahaad fii Madzhabil Maliki”, semoga bermanfaat…..]

DEFINISI KHABAR AHAD

Kata Aahad (الآحاد) merupakan bentuk jamak dari kata ahad (أحد), yang mengandung makna wahid (الواحد), hamzah kata ahad merupakan huruf pengganti dari wawu, karena aslinya berasal dari kata (وحد). Kata wahid (الواحد) merupakan bilangan pertama dalam hitungan, dan termasuk bilangan tunggal. Sedangkan khabar wahid adalah khabar yang diriwayatkan oleh seorang rawi dari seorang rawi lainnya.[1]
Sedangkan pengertian khabar ahad menurut para ulama muta-akhkhirin adalah:
هو الخبر الذي يرويه الواحد العدل أو العدول الذين لا يبلغون حدَّ التواتر.
“Sebuah khabar yang diriwayatkan oleh seorang atau beberapa perawi yang adil, namun jumlah mereka tidak sampai kepada derajat Mutawatir.”[2]

HUKUM MENGAMALKAN KHABAR AHAD

Tidak ada perbedaan di antara para ulama salaf dari shahabat dan tabi’in tentang penerimaan khabar ahad yang tsiqah (shahih) sebagai hujjah, serta kewajiban mengamalkannya baik dalam masalah aqidah, hukum dan masalah-masalah agama lainnya. Imam Syafi’i mengatakan : “Apabila seseorang diperbolehkan untuk mengatakan bahwa para ulama Islam mulai zaman dulu sampai sekarang telah sepakat untuk menetapkan kehujjahan khabar ahad, niscaya saya pun akan mengatakan demikian. Bahkan saya tegaskan kembali, bahwa saya tidak menemukan perbedaan pendapat dari para ulama terkait dengan hal itu.”[3]
Memang, dalam hal ini sebagian golongan Syiah Rafidhah dan Mu’tazilah tidak mengakui kehujjahan khabar ahad, namun pendapat mereka tersebut cenderung mengada-ada, tidak memiliki dasar serta tidak layak untuk dipertimbangkan sebagaimana dikatakan oleh Imam Muslim.

MADZHAB ULAMA SALAF
Para ulama salaf telah memberikan sejumlah argumentasi untuk menolak pendapat yang dianggap sebagai bid’ah tersebut. Semua itu dijelaskan dan diuraikan untuk membuktikan akan kebathilan pendapat yang tidak mengakui kehujjahan khabar ahad.

Dalil-Dalil Dari Al-Qur’an

1. Pemberitahuan Allah swt tentang para rasul-Nya bahwa mereka telah menerima khabar ahad dan memastikan isi kandungannya. Dalam hal ini Nabi Musa ‘Alaihis Salam telah menerima khabar yang datang dari seorang laki-laki shaleh yang datang dari negeri yang jauh, ia mengatakan kepada Musa:
﴿ إِنَّ الْمَلأ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ ﴾
“Sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, ” (QS. Al-Qashash: 20)
Kemudian iapun memberikan nasehat kepada Musa ‘Alaihis Salam untuk keluar dari negeri Mesir, dan Musa pun membenarkan dan mengamalkan nasehat orang shaleh tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian menceritakan:
﴿ فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ ﴾
“Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir” (QS. Al-Qashash: 21)
Nabi Musa ‘Alaihis Salam juga telah menerima khabar putri Madyan ketika ia mengatakan kepada Musa, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
﴿ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا ﴾
“Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. (QS. Al-Qashash)
Sebagaimana Musa juga menerima khabar dari ayah putri Madyan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
﴿ قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ ﴾
Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun (QS. Al-Qashash: 27)
Dengan menjelaskan bahwa wanita tersebut adalah putrinya (Nabi Syu’aib), dan akhirnya Musa pun menikahinya berdasarkan khabar dari Nabi Syu’aib tersebut.
Dalam kisah lain, Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam menerima khabar seorang utusan raja yang datang kepadanya. Beliau mengatakan kepada utusan tersebut:
﴿ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ اللاَّتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ ﴾
“Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. (QS. Yusuf: 50)
Dari kisah-kisah tersebut, tidak ada statemen satupun dari para nabi yang menolak sebuah khabar, atau pernyataan dari mereka yang meragukan khabar ahad sampai terpenuhi syarat Mutawatir dalam dalam jumlah rawinya.

2. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
﴿ وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلا تَكْتُمُونَهُ ﴾
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya”. (QS. Al Imran: 187)
Kesimpulan dalil tersebut sebagai berikut: Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi khabar bahwa Ia mengambil janji dari orang-orang ahli kitab agar supaya mereka menerrangkan isinya dan tidak menyembunyikannya. Maka hal ini merupakan perintah untuk menerangkan kepada setiap orang dari mereka, serta melarang setiap orang untuk menyembunyikan isi kitab tersebut. Selanjutnya arti penting perintah untuk menjelaskan secara terus terang kepada setiap orang merupakan perintah kepada orang yang mendengarkannya untuk menerima dan mengamalkan. Hal tersebut karena setiap perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat dipastikan mengandung faedah yang mulia. Sehingga inilah maksud perintah untuk menyampaikan khabar atau ilmu dan larangan untuk menyembuyikannya.[4]
Kandungan makna di atas, juga bisa diperoleh dari ayat sebagai berikut:
﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنْ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُوْلَئِكَ يَلْعَنُهُمْ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمْ اللاعِنُون (159) إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُوْلَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati”. (QS. Al-Baqarah: 159-160)
Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam setiap orang menyembunyikan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga bagi setiap orang yang pernah mendengar hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib untuk menyampaikan dan menerangkannya kepada orang lain. Sehingga, logikannya apabila kita tidak wajib menerima khabar ahad niscaya perintah untuk menyampaikan dan menerangkan akan tidak ada gunanya.

3. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
﴿ يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ﴾
“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya”. (QS. Al-Maidah: 67)
Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang hamba sekaligus Rasul-Nya, diperintahkan untuk menyampaikan semua ajaran risalahnya yang telah diturunkan kepadanya. Tabligh (menyampaikan) di sini hukumnya wajib sesuai dengan kemampuannya. Dan sudah menjadi maklum, tidak mungkin bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menemui semua manusia sebagai obyek dakwahnya. Tidak mungkin pula umur beliau akan mencukupi untuk berbicara langsung dengan semua umatnya yang ada saat itu. Tidak mungkin pula semua orang untuk datang sendiri kepada beliau untuk menerima ajaran beliau, sehingga beliaupun melakukan tugas tabligh sesuai dengan kemampuan beliau.
Dalam menyampaikan risalahnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru langsung kepada orang yang hadir bersama beliau, sekaligus memerintahkan orang yang hadir (baik itu berjumlah satu orang atau banyak) untuk menyampaikan khabarnya orang-orang yang tidak hadir di tempat. Sehingga khabar tersebut disampaikan kepada orang yang tidak hadir dan kewajiban tabligh pun telah dilaksanakan. Ini artinya khabar tersebut bisa dijadikan sebagai hujjah.[5]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sempurna, yang hal tersebut disaksikan oleh semua manusia, sebagaimana disebutkan dalam riwayat sahabat Jabir bin Abdillah tentang haji wada’. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Kalian akan ditanya tentang saya, maka apa yang akan kalian katakan nanti? Para sahabat berkata : Kami bersaksi bahwa anda telah menyampaikan dan menunaikan semua ajaran risalah. Kemudian beliau mengacungkan jari telunjuknya ke arah langit lalu mengarahkannya kepada orang-orang yang hadir, sambil bersabda: “Ya Allah! Saksikanlah kejadian ini”. Beliau mengucapkan kata tersebut sebanyak tiga kali.
Apabila kehadiran semua orang saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan setiap risalahnya dianggap tidak memungkinkan, demikian juga proses penyampaikan sebuah khabar sampai derajat Mutawatir tidak memungkinkan, maka dalam hal ini wajib untuk menerima khabar ahad yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang adil.

4. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
﴿ وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُون ﴾
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (QS. Al-Taubah: 122)
Kesimpulan dalil ayat tersebut: Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan sekelompok orang dari sebuah kaum untuk bepergian dalam rangka belajar ilmu agama, dengan harapan mereka akan memberi peringatan kepada kaumnya ketika mereka sudah kembali. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan orang-orang yang diberi peringatan tersebut untuk menerima perkataan yang disampaikan sekelompok orang yang pernah belajar agama tersebut. Sedangkan sekelompok orang itu (thaifah) terdiri dari beberapa orang, namun tidak sampai kepada batas Mutawatir. Apabila sebuah peringatan tidak patut untuk diterima dengan khabar ahad, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memerintahkan untuk memberikan peringatan, dan apabila khabar ahad tidak wajib untuk dilaksanakan, niscaya tidak menjadikan mereka untuk menjaga diri (sebagaimana dalam ayat di atas).

5. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِين (6) ﴾
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujurat: 6)
Imam al-Qurthubi berkata : “ayat tersebut merupakan dalil bagi diterimanya khabar ahad apabila diriwayatkan oleh perawi yang adil. Hal ini karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk selalu menguji validitas riwayat orang fasik. Apabila ia terbukti sebagai orang fasik, maka riwayatnya menjadi batal (tidak bisa diterima) secara ijma’. Karena khabar merupakan amanah, sedangkan kefasikan adalah faktor yang membatalkan amanah. Sekali lagi, barang siapa terbukti sebagai orang fasik, maka khabar yang diampaikan menjadi batal (ditolak) secara ijma’, karena khabar adalah amanah dan kefasikan adalah faktor yang menghilangkannya.”[6]
Inilah sebagian ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi dasar dalam penerimaan dan pengamalan khabar ahad, walaupun terdapat beberapa ayat lain yang digunakan oleh sebagian ulama ushul fiqih namun hal itu tidak kami uraikan di sini karena secara umum dalil-dalil tersebut masih banyak diperdebatkan. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat dalam kitab-kitab mereka.[7]
(Bersambung -insyaAllah-)

Catatan Kaki:
[1] Lihat bab (وحد) pada Lisan al-‘Arab, Ibnu Mandzur, lihat juga al-Qamus al-Muhith, dan Mukhtar al-Shihah.
[2] Pengertian ini diambil dari beberapa definisi yang ditulis oleh sebagian ulama ushul fiqih. Di samping masih banyak definisi lain yang ditulis oleh ulama lain. Lihat Taqrib al-Wushul, hal. 289.
[3] Imam Syafi’i, al-Risalah, hal. 457.
[4] Abdul Aziz al-Bukhari, Kasyf al-Asror, 2/371.
[5] Qawathi’ al-Adillah 2/269-270.
[6] al-Qurthubi, al-Jami li Ahkam Al-Qur’an 16/312.
[7] Lihat misalnya, al-Amidi dalam al-Ihkam 2/72 dan seterusnya.

Satu Tanggapan

  1. subhanallah….
    pelajaran tentang ilmu hadist sangatlah penting, karena dengan begitu kita bisa tahu hadist2 mana yang bisa kita jadikan sebagai hujjah untuk tetap berdakwah dalam rangka menjalankan kewajiban kita sebagai umat islam dan

    so pasti berusaha agar syariah dan khilafah bisa terterapkan di muka bumi ini.
    amin,,amin..ya rabbal alamin..
    allahu akbar…!!!!

    Betul, belajar hadits & mengetahui mana hadits yang bisa dijadikan hujjah itu penting.
    Bagaimana mungkin mau menegakkan khilafah kalau hadits ahad saja ditolak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: