Ta’arudh (التعارض)

 

Ta’arudh (التعارض)

Oleh: asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-’Utsaimin -Rahimahullah-

 

 

Definisinya :

Ta’arudh secara bahasa : Saling berhadapan (التقابل) dan saling menghalangi (التمانع).

Secara istilah :

 

تقابل الدليلين بحيث يخالف أحدهما الآخر

 

“Saling berhadapannya dua dalil dari sisi salah satunya menyelisihi yang lain.”

 

Pembagian ta’arudh ada empat :

 

Yang pertama : terjadi pada dua dalil yang umum, padanya ada empat kondisi :

 

1. Mungkin umtuk dijama’ antara keduanya, dari sisi masing-masing dalil tersebut bisa dibawa pada kondisi yang tidak bertentangan dengan yang lain, maka harus dijama’.

Misalnya : Firman Alloh ta’ala kepada Nabi-Nya shollallohu alaihi wa sallam :

 

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

 

“Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [QS. Asy-Syuuro' : 52]

 

Dan firman Alloh ta’ala :

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ

 

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi.” [QS. Al-Qoshosh : 56]

 

Dan jama’ antara keduanya adalah bahwa ayat yang pertama maksudnya adalah hidayatud dalalah (atau yang disebut hidayatul irsyad atau hidayatul bayan, pent) kepada al-haq, dan sifat ini tetap bagi Rosul shollallohu alaihi wa sallam.

 

Dan ayat yang kedua maksudnya adalah hidayatut taufiq untuk beramal, hidayatut taufiq ini di tangan Alloh ta’ala sedangkan Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dan yang selainnya tidak memilikinya.

 

2. Jika tidak mungkin untuk dijama’, maka dalil yang datang belakangan menjadi nasikh (yang menghapus hukum sebelumnya, pent) jika tarikhnya diketahui, sehingga dalil nasikh tersebut diamalkan sedangkan dalil yang datang lebih dulu (mansukh) tidak diamalkan.

 

Misalnya : Firman Alloh ta’ala tentang puasa :

 

فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ

 

“Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS. Al-Baqoroh : 184]

 

Ayat ini memberi faidah bolehnya memilih antara makan dan puasa dengan tarjih agar berpuasa.

 

Dan firman Alloh ta’ala :

 

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَر

 

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” [QS. Al-Baqoroh : 185]

 

Menunjukkan bahwa puasa harus dilakukan bagi orang yang tidak sakit dan musafir dan mengqodho’ sebagai kewajiban bagi keduanya (orang sakit dan musafir), akan tetapi ayat ini datang belakangan setelah ayat yang pertama tadi, sehingga ayat yang kedua adalah sebagai nasikh bagi ayat yang pertama sebagaimana yang demikian ditunjukkan oleh hadits Salamah bin al-Akwa’ yang tetap dalam ash-Shohihain (shohih al-Bukhori dan Muslim, pent) dan yang selain keduanya.

 

3. Jika tidak diketahui tarikh-nya, maka diamalkan dengan yang rojih, jika ada dalil yang merojihkan.

 

Misalnya : Sabda beliau shollallohu alaihi wa sallam :

 

من مس ذكره فليتوضأ

 

“Barang siapa yang menyentuh kemaluannya, maka hendaklah ia berwudhu.”

 

Dan beliau shollallohu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seseorang yang menyentuh kemaluannya, apakah ia harus berwudhu? Beliau menjawab :

 

لا إنما هو بضعة منك

 

“Tidak, sesungguhnya (kemaluannya) itu adalah bagian dari tubuhmu”.

 

Maka dirojihkan dalil yang pertama karena pendapat ini lebih hati-hati dan juga karena hadits yang pertama tadi jalannya lebih banyak dan yang menshohihkannya juga lebih banyak, dan juga karena hadits pertama tadi memindahkan dari hukum asal, padanya terdapat tambahan ilmu.

 

4. Jika tidak ada dalil yang merojihkan, maka wajib untuk tawaqquf (didiamkan), tetapi tidak didapatkan padanya contoh yang shohih.

 

 

Yang kedua : Ta’arudh terjadi antara dua dalil yang khusus, dalam keadaan ini juga ada empat kondisi.

 

1. Mungkin untuk dijama’ antara keduanya, maka wajib dijama’.

 

Misalnya : hadits Jabir rodhiyallohu anhu tentang sifat haji Nabi shollallohu alaihi wa sallam, bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam sholat dhuhur pada hari an-Nahr (idul adha, pent) di Mekkah[1], dan hadits Ibnu Umar rodhiyallohu anhuma bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam sholat dhuhur di Mina, maka dijama’ antara keduanya bahwa beliau sholat dhuhur di Mekkah dan ketika keluar ke Mina beliau mengulangnya (sebagai tathowwu’, pent) dengan para sahabat yang ada di sana.

 

2. Jika tidak memungkinkan untuk dijama’, maka dalil yang kedua (yang datangnya belakangan, pent) adalah sebagai nasikh jika diketahui tarikhnya.

 

Misalnya : firman Alloh ta’ala :

 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ

 

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu.” [QS Al-Ahzab : 50]

 

Dan firman Alloh ta’ala :

 

لا يَحِلُّ لَكَ النِّسَاءُ مِنْ بَعْدُ وَلا أَنْ تَبَدَّلَ بِهِنَّ مِنْ أَزْوَاجٍ وَلَوْ أَعْجَبَكَ حُسْنُهُن

 

“Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu” [QS Al-Ahzab : 52]

 

Maka ayat yang kedua adalah sebagai nasikh bagi ayat yang pertama menurut salah satu pendapat.

 

3. Jika tidak memungkinkan untuk di-naskh, maka diamalkan dengan yang rojih jika ada dalil yang merojihkan.

 

Misalnya : hadits Maimunah, bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam menikahinya ketika ia dalam keadaan halal (setelah selesai ihrom, pent). Dan hadits Ibnu Abbas bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam menikahi Maimunah dalam keadaan ia sedang ihrom.

 

Maka yang rojih adalah hadits yang pertama, karena Maimunah adalah pelaku kisah tersebut dan ia lebih mengetahui tentang kisahnya, dan juga karena hadits Maimunah tersebut dikuatkan dengan hadits Abu Rofi’ rodhiyallohu anhu : bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam menikahinya (Maimunah) ketika dalam keadaan halal, ia (Abu Rofi’) berkata :

 

وكُنْتُ الرَّسُولَ بَيْنَهُما

 

“Ketika itu aku adalah perantara antara keduanya.”

 

4. Jika tidak ada dalil yang merojihkan, maka wajib ditawaqqufkan (didiamkan) dan tidak ada pada keadaan ini contoh yang shohih.

 

 

Yang ketiga : ta’arudh terjadi antara dalil yang umum dan dalil yang khusus, maka dalil yang umum dikhususkan dengan dalil yang khusus.

 

Misalnya : sabda beliau shollallohu alaihi wa sallam :

 

فيما سقت السماء العشر

 

“Yang diairi dengan hujan (zakatnya adalah) sepersepuluh.”

 

Dan sabda beliau :

 

ليس فيما دون خمسة أوسق صدقة

 

“Tidak ada zakat pada yang di bawah lima wisq“.

 

Maka hadits yang pertama dikhususkan dengan hadits yang kedua dan tidak diwajibkan zakat kecuali pada apa-apa yang sampai lima wisq.

 

 

Yang keempat : ta’arudh terjadi antara 2 nash, yang salah satunya lebih umum daripada yang lain dari satu sisi, dan lebih khusus dari sisi lain.

 

1. Salah satu dalil bertindak sebagai pengkhusus dari keumuman salah satu dari kedua dalil tersebut, maka dikhususkan dengannya.

 

Contohnya : firman Alloh ta’ala :

 

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجاً يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْراً

 

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari.” [QS. al-Baqoroh : 234]

 

dan Firman-Nya:

 

وَأُولاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

 

“Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu ‘iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” [QS. ath-Tholaq : 4]

 

Ayat yang pertama bersifat khusus pada wanita yang ditinggal mati suaminya, dan bersifat umum pada wanita hamil dan yang selainnya. Ayat yang kedua bersifat khusus pada wanita hamil dan bersifat umum pada wanita yang ditinggal mati suaminya dan yang selainnya. Akan tetapi dalil menunjukkan pengkhususan keumuman ayat pertama dengan ayat kedua, yang demikian karena Subai’ah al-Aslamiyyah melahirkan semalam setelah kematian suaminya, maka Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam mengizinkannya untuk menikah lagi. Dengan ini, maka masa ‘iddah wanita hamil adalah sampai ia melahirkan, baik ia adalah wanita yang ditinggal mati suaminya atau yang selainnya.

 

2. Jika tidak ada dalil yang bertindak sebagai pengkhusus dari keumuman salah satu dari kedua dalil tersebut, maka diamalkan dalil yang rojih.

 

Contohnya : sabda beliau sholallohu alaihi wa sallam :

 

إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين

 

“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, janganlah ia duduk sebelum ia sholat 2 roka’at.”

 

Dan sabda beliau :

 

لا صلاة بعد الصبح حتى تطلع الشمس، ولا صلاة بعد العصر حتى تغرب الشمس

 

“Tidak ada sholat setelah sholat shubuh sampai terbitnya matahari, dan tidak ada sholat setelah sholat ashar sampai terbenamnya matahari.”

 

Hadits yang pertama bersifat khusus pada tahiyyatul masjid dan bersifat umum dari sisi waktunya. Dan dalil yang kedua bersifat khusus pada waktu dan bersifat umum dari sisi jenis sholatnya, mencakup tahiyyatul masjid dan yang selainnya. Akan tetapi yang rojih adalah mengkhususkan keumumam hadits kedua dengan hadits pertama, maka boleh sholat tahiyyatul masjid pada waktu-waktu yang dilarang padanya untuk sholat secara umum, dan hanya saja kami merojihkan yang demikian karena pengkhususan keumuman hadits kedua telah tetap pada selain tahiyyatul masjid, seperti meng-qodho’ sholat fardhu dan mengulang seholat jama’ah, sehingga menjadi lemahlah keumumannya.

 

3. Dan jika tidak ada dalil dan tidak pula murojjih (dalil yang merojihkan) untuk mengkhususkan keumuman salah satu dari keduanya, maka wajib untuk mengamalkan kedua dalil tersebut pada apa-apa yang tidak terjadi pertentangan di dalamnya, dan tawaqquf (diam) pada bentuk yang kedua dalil tersebut saling bertentangan padanya.

 

Akan tetapi tidak mungkin terjadi pertentangan antara nash-nash pada satu masalah dari sisi yang tidak mungkin untuk dijama’, atau dinaskh, atau ditarjih; karena nash-nash tidaklah saling membatalkan, dan Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam telah menjelaskan dan menyampaikan, akan tetapi terkadang yang demikian terjadi pada pendapat seorang mujtahid yang disebabkan keterbatasannya. Wallohu A’lam.

 

***

 

[Diterjemahkan dari kitab al-Ushul min 'Ilmil Ushul, oleh asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-'Utsaimin -Rohimahulloh-]

About these ads

2 Tanggapan

  1. Alhamdulillah,.. Jazakallah khair atas terjemahan dan postingan ini. Sudah saya tambahkan ke ensiklopedia Islam.

  2. assalamualaikum,,,,
    minta izin saya mengcopy postingan antum,,,,,, buat bahan makalah syukran wa afwan…

    wa’alaikumussalam warohmatulloh,
    Silahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: