HAKIKAT DAN MAJAZ


[Diterjemahkan dari kitab al-Ushul min ‘Ilmil Ushul, oleh asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-’Utsaimin -Rahimahullah-]Kalam dari sisi penggunaannya terbagi menjadi hakikat dan majaz.1. Hakikat adalah

اللفظ المستعمل فيما وضع له

“Lafadz yang digunakan pada asal peletakannya.”

Seperti : Singa (أسد) untuk suatu hewan yang buas. Maka keluar dari perkataan kami : (المستعمل) “yang digunakan” : yang tidak digunakan, maka tidak dinamakan hakikat dan majaz. Dan keluar dari perkataan kami : (فيما وضع له) “ pada asal peletakannya” : Majaz.Dan hakikat terbagi menjadi tiga macam : Lughowiyyah, Syar’iyyah dan ‘Urfiyyah.Hakikat lughowiyyah adalah :

اللفظ المستعمل فيما وضع له في اللغة

“Lafadz yang digunakan pada asal peletakannya secara bahasa.”
Maka keluar dari perkataan kami : (في اللغة) “secara bahasa” : hakikat syar’iyyah dan hakikat ‘urfiyyah.

Contohnya : sholat, maka sesungguhnya hakikatnya secara bahasa adalah doa, maka dibawa pada makna tersebut menurut perkataan ahli bahasa.

Hakikat syar’iyyah adalah :

اللفظ المستعمل فيما وضع له في الشرع

“Lafadz yang digunakan pada asal peletakannya secara syar’i.”
Maka keluar dari perkataan kami : (في الشرع) “secara syar’i” : hakikat lughowiyyah dan hakikat ‘urfiyyah.

Contohnya : sholat, maka sesungguhnya hakikatnya secara syar’i adalah perkataan dan perbuatan yang sudah diketahui yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, maka dibawa pada makna tersebut menurut perkataan ahli syar’i.

Hakikat ‘urfiyyah adalah :

اللفظ المستعمل فيما وضع له في العرف

“Lafadz yang digunakan pada asal peletakannya secara ‘urf (adat/kebiasaan).”
Maka keluar dari perkataan kami : (في العرف) “secara ‘urf” : hakikat lughowiyyah dan hakikat syar’iyyah.

Contohnya : Ad-Dabbah (الدابة), maka sesungguhnya hakikatnya secara ‘urf adalah hewan yang mempunyai empat kaki, maka dibawa pada makna tersebut menurut perkataan ahli ‘urf.

Dan manfaat dari mengetahui pembagian hakikat menjadi tiga macam adalah : Agar kita membawa setiap lafadz pada makna hakikat dalam tempat yang semestinya sesuai dengan penggunaannya. Maka dalam penggunaan ahli bahasa lafadz dibawa kepada hakikat lughowiyyah dan dalam penggunaan syar’i dibawa kepada hakikat syar’iyyah dan dalam penggunaan ahli ‘urf dibawa kepada hakikat ‘urfiyyah.

2. Majaz adalah

اللفظ المستعمل في غير ما وضع له
“Lafadz yang digunakan bukan pada asal peletakannya.”
Seperti : singa untuk laki-laki yang pemberani.

Maka keluar dari perkataan kami : (المستعمل) “yang digunakan” : yang tidak digunakan, maka tidak dinamakan hakikat dan majaz. Dan keluar dari perkataan kami : (في غير ما وضع له) “bukan pada asal peletakannya” : Hakikat.Dan tidak boleh membawa lafadz pada makna majaznya kecuali dengan dalil yang shohih yang menghalangi lafadz tersebut dari maksud yang hakiki, dan ini yang dinamakan dalam ilmu bayan sebagai qorinah (penguat).

Dan disyaratkan benarnya penggunaan lafadz pada majaznya : Adanya kesatuan antara makna secara hakiki dengan makna secara majazi agar benarnya pengungkapannya, dan ini yang dinamakan dalam ilmu bayan sebagai ‘Alaqoh (hubungan/ penyesuaian), dan ‘Alaqoh bisa berupa penyerupaan atau yang selainnya.

Maka jika majaz tersebut dengan penyerupaan, dinamakan majaz Isti’arah (استعارة), seperti majaz pada lafadz singa untuk seorang laki-laki yang pemberani.

Dan jika bukan dengan penyerupaan, dinamakan majaz Mursal (مجاز مرسل) jika majaznya dalam kata, dan dinamakan majaz ‘Aqli (مجاز عقلي) jika majaznya dalam penyandarannya.

Contohnya dari majaz mursal : kamu mengatakan : (رعينا المطر) “Kami memelihara hujan”, maka kata (المطر) “hujan” merupakan majaz dari rumput (العشب). Maka majaz ini adalah pada kata.

Dan contohnya dari majaz ‘Aqli : Kamu mengatakan : (أنبت المطر العشب) “Hujan itu menumbuhkan rumput”, maka kata-kata tersebut seluruhnya menunjukkan hakikat maknanya, tetapi penyandaran menumbuhkan pada hujan adalah majaz, karena yang menumbuhkan secara hakikat adalah Allah ta’ala, maka majaz ini adalah dalam penyandarannya.

Dan diantara majaz mursal adalah : Majaz dalam hal penambahan dan majaz dalam hal penghapusan.

Mereka memberi permisalan majaz dalam hal penambahan dengan firman Allah ta’ala :

ليس كمثله شئ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya” (QS. Asy-Syuro : 11)

Maka mereka mengatakan : Sesungguhnya (الكاف) “huruf kaaf” adalah tambahan untuk penguatan peniadaan permisalan dari Allah ta’ala.

Contoh dari majaz dengan penghapusan adalah firman Allah ta’ala :

وسئل القرية

“Bertanyalah kepada desa” (QS. Yusuf : 82)

Maksudnya : (واسأل أهل القرية) “bertanyalah pada penduduk desa”, maka penghapusan kata (أهل) “penduduk” adalah suatu majaz, dan bagi majaz ada macam yang sangat banyak yang disebutkan dalam ilmu bayan.

Dan hanya saja disebutkan sedikit tentang hakikat dan majaz dalam ushul fiqh karena penunjukan lafadz bisa jadi berupa hakikat dan bisa jadi berupa majaz, maka dibutuhkan untuk mengetahui keduanya dan hukumnya. Wallahu A’lam.

Peringatan:

Pembagian kalam menjadi hakikat dan majaz adalah masyhur di kalangan sebagian besar muta’akhkhirin dalam Al-Qur’an dan yang selainnya. Dan berkata sebagian ahli ilmu : “Tidak ada majaz dalam Al-Qur’an” dan berkata sebagian yang lain : “Tidak ada majaz dalam Al-Qur’an dan yang selainnya”, dan ini merupakan pendapat Abu Ishaq Al-Isfaroyin dan dari kalangan muta’akhkhirin Muhammad Al-Amin Asy-Syanqithi. Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qoyyim telah menjelaskan bahwasanya istilah tersebut muncul setelah berlalunya tiga masa yang utama, dan beliau menguatkan pendapat ini dengan dalil-dalil yang kuat dan banyak, yang menjelaskan kepada orang yang menelitinya bahwa pendapat ini adalah pendapat yang benar.

***

[Diterjemahkan oleh Ummu SHilah dari kitab al-Ushul min ‘Ilmil Ushul karya asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-’Utsaimin rahimahullah]

About these ads

Satu Tanggapan

  1. assalamua’laikum wr wb. kalau dilihat dari kitab majmu’ lhomsu rosail…dalam pembagian majaj mursal ada bahasan” wa hakada sairu majaj mursal” . akan lebih baik lagi kalo nama-namany dicantumkan, biar pembaca tau apa nama dari pembagian majaz mursal Spt. sabab musabab. maala yamalu, lazim malzum dan lan sebagainya. terima kasih….
    wassalamua’laikum wr wb.

    wa’alaikumussalam wa rohmatulloh
    Tulisan diatas hanya terjemahan dari al-ushul min Ilmil Ushul, bukan pembahasan tersendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: